
Nanda berada di dalam taksi yang berhenti tidak jauh dari pagar rumah mertuanya. Wanita itu tengah memantau, berharap Sisil masih di dalam sana dan segera keluar untuk pulang. Namun, sudah setengah jam belum ada tanda-tanda apapun.
"Apa dia sudah pulang?" tanyanya lirih. Setelahnya menghela napas. "Pak ja--" ucapannya berhenti kala melihat tiga orang yang keluar dari pagar rumah. Rika, Sukma dan Sisil.
Nanda tersenyum miris. Dia benar-benar sudah tidak diharapkan sepertinya. Wanita itu menekan dadanya yang terasa sesak. "Aku akan membalas kalian," ucapnya dengan suara yang tercekat.
Tidak lama, Taksi datang, berhenti di depan tiga orang itu. Setelah cipika-cipiki, Sisil masuk mobil dan Rika juga mertuanya itu melambai dengan senyuman lebar.
"Ikutin taksi itu, Pak," ucap Nanda saat melihat taksi yang di tumpangi Sisil mulai melaju.
Sopir Taksi itu mengangguk dan segera menjalankan perintah.
**
Taksi Sisil berhenti di perumahan elit. Wanita itu turun, tetapi kembali masuk dengan tergesa-gesa dan Taksi itu kembali melaju.
Tring!
Nanda melihat ponselnya. "Pak ikutin taksi itu lagi," ucapnya setelah melihat chat Sisil untuk suaminya. Wanita itu membuka room chat dan matanya langsung berkaca-kaca.
[Temui aku di tempat biasa] itu chat Rudi.
[Oke, Sayang.] Balasan Sisil memperlihatkan wanita itu begitu bahagia.
Wanita itu terus menatap taksi di depan sana. Sepuluh menit kemudian Taksi itu berbelok ke area hotel dan hal itu menuruhkan pertahanan Nanda. Dia mengira suaminya mengajak bertemu selingkuhannya itu untuk memutuskan hubungan mereka, ternyata ... Tidak ada pembicaraan putus jika bertemunya di hotel.
Air mata Nanda menetes. Suaminya membuka hubungan mereka lagi. Wanita itu memejamkan mata sembari memukul-mukul dadanya. Sungguh, hatinya sakit sekali. Mulut suaminya kini tidak bisa dipercaya. "Baiklah! Kamu yang mengibarkan bendera perang, Mas."
"Kembali ke tempat tadi, Pak."
Sopir itu mengangguk.
**
Ceklek!
Rudi langsung menarik pinggang Sisil dan menyerang bibirnya. Pria itu melakukan sangat tidak sabaran. Menutup pintu dengan kaki, dia langsung mengiring selingkuhannya ke ranjang.
"Mas," ucap Sisil sedikit mendorong dada pria yang menindihnya itu.
"Aku sudah nggak tahan. Jangan ajak aku berbicara," ucap Rudi yang hasratnya sudah diubun-ubun. Tidak jadinya bermain dengan istrinya karena wanita itu tiba-tiba 'datang bulan' membuatnya merasa tersiksa, dia memilih menuntaskan pada Sisil.
Sisil tersenyum saat Rudi bermain di ceruk lehernya. Wanita itu mengambil tas selempangnya, mengambil ponsel dan memotret aksinya. Dalam foto itu Sisil tersenyum lebar. Setelahnya wanita itu mengirim ke nomer kontak 'Saingan' nomornya Sisil.
Rudi menarik diri, pria itu langsung membuka kemejanya dan kembali ******* bibir Sisil. Wanita itu menerima dengan senang hati.
***
Nanda turun di depan rumah yang tadi taksi Sisil sempat berhenti. Dia menatap ke dalam pagar, pintu utama tertutup rapat. Dia menoleh pada Sopir taksi. "Bentar ya, Pak."
Sopir itu mengangguk.
__ADS_1
Nanda berjalan ke arah bell rumah. Menekan dan menunggu reaksi dari dalam sana.
Ting-tung!
Dia menekan lagi.
Ceklek!
Seorang pria tampan mengendong anak berjalan ke arah pagar. Membuka dan menatap ramah pada Nanda.
"Cari siapa, Mbak?" tanya Andi.
"Sisil? Apa Mas mengenal Sisil?" tanya Nanda.
Andi melihat Nanda dari atas sampai bawah. "Sisilia?" tanyanya.
Nanda mengigit bibir bawahnya. Dia tidak tahu nama lengkap selingkuhan suaminya itu.
Andi yang melihat gelagat bingung dari tamunya, segera merogoh ponsel di sakunya dan memperlihatkan walpaper ponselnya.
"Apa Sisil yang ini?" tanyanya.
Nanda melihat. Dia segera menatap Andi dan mengangguk mantap.
"Dia istriku. Dia lagi nggak ada di rumah. Kalau ingin bertemu dengan--"
"Istri?" tanyan Nanda kaget.
Andi mengangguk.
Andi diam. Dia bingung dengan gelagat Nanda.
"Aku bukan orang jahat. Apa yang akan kita bahas nanti akan ... Ah! Ayo kita bicara." Nanda menarik tangan Andi dan menariknya masuk ke dalam rumah. Biarlah dianggap tidak sopan, dia rasanya sudah ingin meledak dan di luar rumah bukanlah tempat yang tepat.
**
Andi memangku Sindi yang bermain bonekanya, sedang Nanda duduk di sofa single di depannya.
"Apa yang mau Mbak bicarakan?" tanya Andi.
Nanda menatap Sindi, menghela napas, setelahnya menatap Andi. "Perkenalkan, aku Nanda, istrinya Rudi, pria yang berselingkuh dengan Sisil, istrimu."
Tadinya Nanda ingin meledak, marah-marah dan menyalahkan pria itu yang tidak bisa menjaga istrinya sampai bisa menjadi selingkuhan suami orang, tetapi adanya anak kecil, niatan itu diurungkan. Dia memilih memakai cara aman. Seperti yang dia bilang semalam dengan Sisil kalau Sisil kembali bersama Rudi, dirinya akan mendekati orang terdekat wanita itu dan melakukan hal sama seperti yang meraka lakukan, jadi Nanda akan mengajak pria ini balas dendam dengan mereka berselingkuh, toh pria di depannya ini tampan dan terlihat baik.
Andi kaget. "Apa yang Mbak bicarakan?" tanya pria itu.
"Istri Mas berselingkuh dengan suamiku."
Andi menggeleng. "Mbak, jangan asal--"
Tring!
__ADS_1
Nanda mengambil ponselnya di dalam tas selempangnya. Chat masuk dari nomor baru dan saat dibuka, dia mengigit bibir bawahnya dan menyerahkan ponselnya pada Andi.
Mata Andi membulat. Dia menatap Nanda. "Nggak mungkin."
"Itu wajah istrimu, kan?"
Andi mengangguk. "Tapi dia nggak mungkin melakukan ini? Hubungan kami baik-baik saja. Dia sekarang sedang menjaga temannya, nggak mungkin bersama pria lain. Dia istri yang baik."
"Geser ke bawah, ada foto yang lainnya." Nanda menyeka air matanya. Wanita itu tidak menyangka Sisil segila itu hanya demi bersam Rudi. Dia punya suami yang percaya padanya dan anak yang imut, tetapi memilih bersama pria yang beristri. Sungguh menyia-nyiakan keluarga lengkapnya.
Andi melakukan suruhan itu dan benar-benar kaget dengan istrinya yang ada di dalam foto-foto itu. Tangannya menggenggam erat ponsel Nanda. Dia merasa marah.
"Kamu tau di mana ini?" tanya Andi dengan mata yang merah. Pria itu menatap Nanda tajam.
Melihat kemarahan pria itu, Nanda menelan salivanya susah payah. Keramahan pria itu saat menyambutnya tadi, seketika hilang, kini terlihat menyeramkan.
"Ka--kamu mau ngapain?" tanya Nanda.
Andi berdiri. "Aku akan memberi perhitungan pada mereka." Dada pria itu panas. Penghianatan istrinya melukai hatinya.
"Dengan menghajar? Mempermalukan? Itu nggak akan membuat mereka jera. Mereka sudah sangat jauh. Duduk, aku ceritakan semua."
Andi menatap lama Nanda. Wanita itu yang mengangguk, tersenyum manis, membuat luluh sedikit hati pria itu, membuatnya menurut. Duduk.
Nanda pun menceritakan tentang perubahan suaminya dua bulan ini. Mendapati noda lipstrik, bertengkar, menyadap ponsel dan akhirnya dia tahu tentang Sisil. Nanda juga menceritakan tentang keluarga Rudi yang mendukung hubungan mereka.
"Sisil mengatakan akan mengambil mas Rudi dari aku. Dia ngomong penuh keyakinan. Suami aku--" Nanda menyeka air matanya. "Dia mengatakan tidak akan kembali sama selingkuhannya, tetapi yang terjadi, mereka bersama lagi. Seberapapun kita memisahkan mereka, kalau kemauan pisah itu bukan dari mereka, usaha kita akan sia-sia."
Andi merasa iba dengan kondisi Nanda. Dia merasa marah pada istrinya karena menyakiti sesama wanita, tetapi yang lebih membuatnya marah adalah istrinya akan menikah dengan suami orang itu, jadi apa posisi dirinya dan anaknya di hidup istrinya itu? Sungguh keterlaluan.
"Aku punya ide. Bagaimana kalau kita berselingkuh juga."
Mata Andi membulat.
Nanda menyeka air matanya lagi dan tersenyum. "Ayo kita balas dendam dengan selingkuh juga. Kita lakukan apa yang mereka lakukan biar kita nggak merasa rugi dengan pernikahan kita. Di saat mereka bisa tersenyum setelah bercanda, kita juga akan melakukan itu. Bercanda setelahnya tersenyum. Kita ikutin permainan mereka."
"Kamu gila."
Nanda mengangguk. "Aku gila karena diselingkuhi. Aku nggak bisa pisah karena sangat mencintai dia. Menurutku pisah hanya akan membuat kita merasa kalah dari saingan kita."
"Untuk apa mempertahankan rumah tangga yang salah? Lebih baik berpisah dan menata hidup baru."
Nanda menghela napas. "Aku ingin balas dendam. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya diselingkuhi. Ayo kita membuat masalah ini semakin seru. Jangan memendam rasa sedih, mereka lagi bahagia, kita juga harus bahagia."
"Kamu gila. Nggak! Aku nggak mau mengikuti caramu itu. Apa beda kita sama dia kalau ngelakuin ini?"
"Perlakuan mereka harus dibalas sama persis, kalau kita mengalah, kita diinjak-injak. Kita sedih sendiri, frustasi sendiri, sedang mereka happy terus. Pertengkaran akan membuat Rudi kembali meminta belas kasih padaku dan aku pasti akan kasian padanya, aku akan kembali sakit hati terus-terusan, tanpa bisa melakukan pembelaan, tetapi pertengkaranmu dan Sisil ... Kalian akan berpisah. Sisil pasti senang karena dia bisa menikah dengan suami aku, dan di antara kalian, kamu yang menderita. Ayolah. Posisi kita sama-sama pihak yang menderita ayo kerjasama. Pikirkan pengorbanan kamu untuk membahagiakan dia dan dia malah nggak anggap kamu. Kamu rela melepaskan wanita yang tidak tau berterima kasih itu begitu saja tanpa membalas dendam padanya?"
Ucapan Nanda memancing perasaan Andi. Menurut pria itu, apa yang diutarakan itu benar. Sisil benar-benar tidak tahu berterimakasih untuk semua usaha yang dia lakukan untuk membahagiakannya. Cerai memang akan membuat wanita itu senang. Mempertahankan rumah tangga dan membalas perlakuannya, itu ide yang cukup bagus.
"Gimana?" tanya Nanda dia berharap penuh pada jawaban Andi.
__ADS_1
"Aku ingin liat dengan mata kepalaku tentang perselingkuhan itu, setelahnya aku akan kasih jawaban atas tawaran kamu."
Nanda mengangguk dan tersenyum manis.