Buah Dari Perselingkuhan

Buah Dari Perselingkuhan
Bab 22


__ADS_3

Rudi pulang, tetapi mendapati rumahnya kosong. Tidak ada Nanda di manapun. Pria itu duduk di tepi kasur, setelahnya mengotak-atik ponselnya, menaruh benda pipih itu di telinga kanan, dia menelepon Nanda.


Terhubung, tetapi Nanda tidak menerima teleponnya.


"Sayang, kamu di mana?" tanyanya sembari kembali menelepon Nanda.


***


Sisil pulang dengan perasaan bahagia. Senyumnya terus merekah, tetapi saat mendapati pintu utama rumahnya terkunci, alis matanya bertaut. Ini masih jam sembilan dan biasanya suaminya belum tidur jadi pintu tidak terkunci.


Malas memikirkan banyak hal, Sisil mengambil  kunci cadangan di tas selempang, memasukkan dalam lobang kunci, setelahnya pintu dibuka. Wanita itu langsung ke kamar, tetapi mendapati kamar itu juga terkunci.


"Mas Andi di mana, sih?" tanyanya sembari mengambil kunci cadangan lagi di dalam tas selempangnya. Tidak lama pintu terbuka. Kamar itu kosong.


Sisil mengambil ponselnya, setelahnya duduk di tepi kasur. Dia mengotak atik ponselnya, mengirim chat pada suaminya.


[Kamu di mana, Mas?]


***


Nanda dan Andi baru saja melewati adegan panas mereka. Kini dua orang itu tengah berpelukan sembari mengatur napas, di dalam selimut.


"Apa aku memuaskan, Mas?" tanya Nanda sembari mendongak.


Andi menunduk. Mereka bertatapan dekat. Pria itu tidak bisa menjabarkan bagaimana dia merasa sangat puas dengan pelayanan Nanda, jadi dia memutuskan mengangguk saja.


Nanda tersenyum. "Kamu nggak jijik main sama wanita mandul?"


Andi menggeleng. Tadi, saat dia barusan datang, Nanda langsung menyambutnya dengan ciuman panas. Mereka hanyut, merasa saling menginginkan, mereka pun bermain dengan sangat bergairah. Nanda kembali membuatnya merasa sangat perkasa di ranjang karena meminta tambahan ronde lagi dan lagi hingga dia kelelahan dan mereka mengakhiri dengan ******* nikmat karena mencapai puncak bersama-sama.


"Nggak."


Nanda kembali tersenyum. Tangan yang berada di atas pinggang Andi, dia tarik dan memainkan jari telunjuknya di dada bidang pria itu. Namun, Andi memegang jari itu.


"Kamu bisa membangunkan yang sedang tidur, Nda," ucapnya serak,menahan hasrat yang kembali menggelora.


"Aku butuh itu untuk semakin yakin kalau ucapanmu benar, Mas. Kamu bergairah, tandanya aku nggak menjijikkan."


"Apa yang membuatmu seperti ini, hm? Tanpa perlu pembuktian seperti ini, permainan kita tadi sudah menunjukkan kalau kamu nggak menjijikkan. Aku menikmatinya, kamu sangat nikmat, Nda. Aku merasa terus menginginkanmu."


Mata Nanda berkaca-kaca. "Mas Rudi bilang dia  nggak bisa nyentuh aku dan lebih memilih menyentuh Sisil. Karena aku mandul, suamiku jijik nyentuh aku, Mas. Jadi aku butuh pembuktian apakah aku semenjijikkan itu?"

__ADS_1


Andi menghela napas. "Kamu nggak menjijikkan." Pria itu menyeka air mata Nanda. "Kamu nikmat. Aku selalu puas jika main denganmu."


Nanda mengangguk. Dia memeluk Andi dan pria itu membalas pelukan,mengusap punggung mulus wanita yang sudah dia cicipi dua kali selama mereka berstatus selingkuhan.


Dreet!


Ponsel Andi bergetar. Pria itu mengulurkan tangan untuk mengambil benda pipih itu, tetapi Nanda menggeleng. Wanita itu mendongak.


"Seperti tadi, ayo kita abaikan. Malam ini malam kita berdua, please!" Wanita itu ingin egois malam ini. Dia ingin menghabiskan malam dengan pria yang menginginkan dan merasa puas dengan pelayanannya. Nanda perlahan mendorong lengan Andi, membuat pria itu menjadi terlentang. Kemudian dia berpindah posisi jadi mengukung tubuh selingkuhannya itu. "Aku milikmu malam ini, Mas."


Andi melingkarkan tangan di pinggang Nanda. Dia yang benar-benar mengilai kenikmatan yang dia dapat bersama Nanda, tidak bisa menolak tawaran wanita itu. Dia mengangguk dan membuat Nanda menyerang bibir tipisnya.


***


Rudi terbangun. Pria itu menoleh ke sisinya dan tidak menemukan Nanda. Tempat itu masih rapi, seperti tidak ada yang meniduri. Istrinya tidak pulang semalaman. Rudi menghela napas. Dia melirik jam tangannya. Seketika langsung bangun dan berjalan cepat ke kamar mandi. Dia kesiangan.


Selesai mandi, dia mengambil semua keperluannya sendiri. Sangat terasa sekali tidak adanya keberadaan Nanda. Biasanya wanita itu menyiapkan semuanya di atas kasur dan dia tinggal memakainya.


Selesai berpakaian, Rudi berjalan ke luar kamar. Dia menuju dapur, bukan buat sarapan, terapi mengecek apa istrinya ada di tempat itu atau tidak.


Pria itu menghela napas. Nanda benar-benar belum pulang. Dengan langkah gontai dia pun berangkat kerja.


***


Sisil bangun. Dia dengan malas berjalan ke kamar mandi. Ini pertama kalinya dia merindukan keharmonisan keluarganya.


"Mas, kamu bawa Sindi di mana, sih?" tanya Sisil sembari menutup pintu kamar mandi.


***


Andi dan Nanda sudah berpakaian rapi. Mereka memutuskan untuk keluar hotel di pagi hari. Andi harus berangkat kerja, sedang Nanda ingin ke rumah Megan untuk numpang menenangkan diri.


Nanda yang duduk di tepi kasur melihat Andi yang tengah duduk si sofa, memakai sepatunya.


"Mas," panggil Nanda.


Andi menatap Nanda, membuat pipi wanita itu merona.


"Makasih untuk tadi malam," ucapnya.


Andi mengangguk. Dia yang sudah selesai memakai sepatu, berjalan menghampiri Nanda. Berjongkok di depan wanita itu.

__ADS_1


"Aku juga makasih. Pengalaman semalam bahkan nggak aku dapat dari Sisil selama kami menikah."


Pipi Nanda semakin merona dan hal itu membuat Andi tersenyum.


"A--aku juga. Mas Rudi nggak seperkasa kamu di ranjang."


"Benarkah?" tanya Andi menggoda.


Nanda mengangguk. "Andai aku nggak mandul, permainan kita semalam pasti akan menghasilkan anak. Kamu menembakkan semua bibit unggulmu kedalamku."


Andi memegang tangan Nanda. "Kamu bisa menganggap Sindi anakmu. Jangan sedih."


Nanda mengangguk. "Makasih."


"Sama-sama. Mau ke luar bersama?"


"Mas duluan saja. Aku nggak mau sampai ada orang yang mengenali kita."


Andi mengangguk. Dia berdiri. Nanda yang melihatnya, mendongak. Pria itu merunduk, mengecup kening Nanda. "Aku duluan."


Nanda mengangguk. Dia merasa hangat dengan perlakuan Andi. Pria itu selain baik, penyayang, pengertian juga sangat kuat di ranjang. Huft! Area bawahnya berdenyut saat membayangkan permainan mereka yang menggila semalam. Tubuhnya, hasrat, gairahnya, benar-benar dikuasi Andi.


"Sampai jumpa lagi," ucap Andi.


Nanda mengangguk.


Pria itu pun berjalan pergi.


***


Andi masuk rumah, langsung ke kamar, dia mengabaikan Sisil yang tengah duduk di meja makan, dapur.


Sisil yang melihat Andi pulang, langsung menghampiri. Dia memeluk tubuh suaminya yang tengah mencari pakaian kerja di dalam lemari.


"Mas, parfummu ganti?" tanyanya saat mencium baju parfum lain di jaket suaminya.


"Hm."


"Kenapa baunya kayak parfum cewek?" tanya Sisil melepas pelukan. Dia membalik tubuh suaminya dan kembali membaui jaket. "Mas, kamu ganti parfum atau habis tidur sama cewek lain?" tanyanya dengan sorot mata yang tajam. Jantung wanita itu berdegub kencang.


Andi tidak menjawab, pria itu kembali berbalik dan mencari pakaian kerjanya. Setelah ketemu, dia bawa ke kamar mandi. Tidak mungkin berganti baju di depan Sisil karena Nanda semalam membuat satu tanda merah di dadanya.

__ADS_1


"Mas!"


Teriakan Sisil tidak dihiraukan.


__ADS_2