
Sisil pulang ke rumah. Mendapati suami dan anaknya tengah duduk di teras, bermain boneka.
"Hai anak mama," ucap Sisil.
Sindi yang kangen dengan Mamanya itu langsung berdiri, meninggalkan mainan dan berlari memeluk Sisil yang berjongkok di tangga teras.
"Mama," ucap gadis kecil itu.
"Iya ini, Mama. Kamu main apa sama Papa?" tanyanya sembari menatap Andi yang menatapnya dengan wajah datar. Sisil tersenyum, tetapi suaminya tidak membalas.
"Ain oneka." Sindi melepas pelukan. "Mama amana aja cih?" tanyanya.
Sisil menatap Sindi. "Maaf ya sayang, Mama ada urusan, jadinya nggak bisa main sama kamu." Wanita itu mengendong Sindi, menghampiri Andi. Duduk di sisi suaminya sembari memangku anaknya.
"Mas--"
Andi berdiri. Dia berjalan masuk ke dalam rumah.
Sisil mengigit bibir bawahnya. Jelas suaminya marah karena dia pergi pagi pulang sore. Bersama Rudi memang membuatnya lupa waktu.
Sisil mengendong Sindi dan masuk ke rumah, langsung ke kamar dan mendapati Andi yang duduk di tepi kasur, tatapan pria itu tajam, lurus ke depan.
"Mas, udah buat makan malam?" tanya Sisil sembari mendudukkan Sindi di tengah kasur, dan dia langsung ke arah lemari, membuka dan mencari baju ganti.
"Haruskah pertanyaan itu aku jawab?" tanya Andi.
Sisil menautkan alis mata. Dia berbalik dan mendapati suaminya itu menatapnya tajam. "Kamu kenapa, Mas? Marah karena aku pulang sore? Aku jelasin--"
"Nggak perlu jelasin apapun, Sil. Kamu senang bermain seperti ini, kan? Lanjutkan. Aku akan mengikuti alur permainanmu." Andi berdiri,mengendong Sindi dan keluar kamar.
Sisil mematung. Ini kali kedua suaminya berucap aneh, seperti seolah-olah pria itu mengetahui perselingkuhannya. Namun ... Sisil menggeleng, suaminya jelas hanya kesal karena dia pergi pagi pulang sore.
"Nanti malam akan kukasih jatah, pasti setelah itu dia akan baik lagi," ucapnya menggampangkan.
***
Nanda yang menginap di apartemen Megan, berdiri di jendela kaca dan menatap langit yang penuh bintang di atas sana. Pikiran wanita itu berkecamuk. Setelah melakukan hubungan panas dengan Andi, dia merasa tidak tenang dan merasa sangat bersalah pada suaminya.
Dreet!
Wanita itu menoleh, melihat ponselnya yang bergetar di atas nakas. Dia berjalan menghampiri dan melihat 'Suamiku tercinta' tertera di layar benda pipihnya.
__ADS_1
Nanda mengambil, duduk di tepi kasur, setelah menerima telepon.
"Hallo, Mas," siapanya saat ponsel itu menempel di telinga kanannya.
"Lagi apa, Sayang?"
"Mau tidur."
"Kamu bisa tidur? Mas nggak bisa. Mas pengen peluk kamu."
Nanda menghela napas. "Peluk guling aja dulu. Kalau nggak bisa, peluk siapa gitu. Peluk yang biasa kamu peluk selain aku."
Rudi diam dan hal itu membuat Nanda menghela napas. Dadanya sangat sesak. Berbicara dengan suaminya, membuatnya ingat perselingkuhan pria itu, begitu juga dengan perselingkuhannya. Mengira balas dendam dengan mengikuti cara main akan membuatnya lega, nyatanya dia seperti tertekan.
"Maafin, Mas, Sayang. Nanti saat sampai di rumah, mas ceritain semuanya. Bagaimana mas bisa bertemu dengannya dan--"
"Mas ceritain itu, tandanya Mas cari masalah. Nggak cukup aku tau perselingkuhan kalian, kah? Harus juga kalian pamerin kisah pertemuan kalian?"
"Sayang, bukan begit--"
Tut!
Nanda menutup telepon sepihak. Dia menaruh benda pipih itu kembali ke atas nakas dan berbaring miring. Suaminya tidak berperasaan sekali.
***
Ceklek!
Pintu kamar terbuka. Mata Andi dan Sisil bertemu. Sisil tersenyum menggoda, sayangnya Andi menampakkan wajah datar. Pria itu masuk, langsung berbaring miring, memakai selimut dan memejamkan mata. Dia tidak bergairah, walaupun bergairah, dia memikirkan istrinya itu sudah dipakai sama pria lain, membuatnya jijik.
"Mas," panggil Sisil. Wanita itu menatap punggung Andi. Tidak ada jawaban, Sisil berbaring, memeluk tubuh suaminya dari belakang. Biasanya kalau seperti ini, suaminya akan berbalik dan akan menyerangnya, setelah itu amarahnya mereda.
Andi diam saja.
Sisil mengecup tengkuk suaminya. "Kamu nggak mau ngambil jatah, Mas," ucap Sisil mesra.
"Aku ngantuk," jawab Andi.
Sisil diam mematung. Ini kali kedua dia ditolak. Seketika dia berpikir, apa seperti ini rasa perasaan suaminya saat dirinya menolak memberi jatah?
"Mas, aku kangen kamu. Kangen sentuhanmu."
__ADS_1
"Aku ngantuk. Kamu tidur juga, besok harus kerja."
Sisil mengigit bibirnya. Itu jawabannya kalau biasanya Andi meminta jatah dan dia malas memberikan karena menjaga energinya untuk main dengan Reno besok hari.
"Mas, aku udah becek, aku pengen--"
Andi berbalik. Dia menatap tajam Sisil. "Aku harus peduli kah? Saat aku yang mengemis meminta jatahku, apa kamu menuruti? Dua bulan, aku menunggu jatah itu dan kamu abai. Sekarang disaat aku sudah tidak ingin, kamu meminta, aku akan tetap pada pendirianku seperti kamu dulu. Kamu akhirnya bisa merasakan rasa kecewa atas penolakan, kan? Begitu rasanya, Sil." Setelah berucap Andi kembali berbalik, memunggungi Sisil.
Wanita itu sangat kesal. Dia tidak bisa seperti ini, paling nggak dia harus mendapatkan benih dari Andi sebelum menikah dengan Rudi agar kehamilannya bisa mengikat cinta pertamanya itu.
***
"Yakin mau pulang?" tanya Megan yang mengantar Nanda ke pintu apartemennya. Pagi-pagi sekali Nanda mengetuk pintu kamarnya untuk berpamitan pulang.
"Ya." Nanda mengecup bayi Megan, setelahnya melambai. "Bye," ucapnya. Wanita itu pun keluar dari apartemen Megan. Berlari di lorong supaya cepat sampai di jalan. Dia harus pulang dan memperbaiki hubungannya dengan Rudi. Semalaman tidak bisa tidur karena merasa sangat bersalah sudah menduakan suaminya itu.
"Taksi," panggilnya.
Taksi berhenti. nanda masuk dan menyebutkan alamat. Kendaraan roda empat itupun melaju ke tujuan.
Sampai di lorong rumahnya, dia melihat mobil Rudi keluar pagar, melewati taksi yang dia tumpangi dan itu membuat Nanda memilih mengikuti. Dia ingin tahu ke mana suaminya pergi sepagi ini.
Tring!
Chat masuk membuat wanita itu mengambil ponsel di tas selempangnya. Membaca chat dari Andi membuat matanya berkaca-kaca. Suaminya bukannya menunggunya di rumah, malah pergi makan bersama keluarganya plus Sisil. Hati wanita itu sungguh hancur. Dia yang berpikir ingin memperbaiki hubungan, nyatanya menyadari kalau tidak ada yang bisa diperbaiki, melainkan hanya bisa dilanjutkan saja skenario yang sudah ada.
[Aku sedang membuntuti mobil suamiku.] balasnya.
Ponsel itu kembali dimasukkan dalam tas dan dia melihat nanar mobil suaminya yang memang melaju ke arah rumah mertuanya.
**
Nanda turun dari taksi setelah membayar. Dia berjalan ke taksi lain yang ada di situ, masuk dan mendapati Andi yang memangku Sindi.
"Haruskah kita masuk dan membongkar semuanya?" tanya Andi yang sangat marah. Istrinya kembali beralasan ada pelanggan salon yang meminta dilayani pagi, tetapi saat diikuti, istrinya itu kembali ke rumah ini.
Nanda tidak menjawab. Dia memilih memeluk Andi dan Sindi. Menangis, mengeluarkan kesedihan hatinya. Andi hanya bisa menghela napas. Perlahan tangannya merangkul pinggang wanita itu. Mengusap, menenangkan.
Merasa tenang, Nanda melepas pelukan. Dia melihat ke arah Andi. "Semalam aku nggak bisa tidur hanya karena merasa bersalah sudah selingkuh di belakang mas Rudi, aku pulang pagi karena ingin memperbaiki hubungan kami, aku akan memintanya berpisah dari Sisil dan kami memulai hidup baru, nyatanya mereka memang tidak bisa dipisahkan. Aku ... Hiks! Mauku kita tidak langsung membongkar masalah Sisil sudah menikah, tapi tetap berselingkuh sampai mereka sadar perselingkuhan kita. Biar mereka merasakan rasanya diselingkuhi."
Andi mengangguk. "Aku akan membantumu."
__ADS_1
Nanda tersenyum. Dia menyeka air matanya. Kemudian menatap Sindi yang diam saja. "Saat mereka tau hubungan kita, jika Sisil meminta maaf dan meminta kesempatan kedua, Mas harus memaafkan Sisil dan menerimanya. Jangan biarkan anak kalian jadi korban perpisahan."
Andi tidak menyangka Nanda akan memikirkan nasib anaknya. Wanita itu begitu penyayang.