
Walaupun memendam sakit hati yang dalam, Nanda tetap melakukan tugasnya sebagai istri yang melayani suaminya. Sekarang sepasang suami istri itu tengah sarapan pagi bersama. Jika dilihat, suaminya itu menurutnya sangat sempurna kalau tidak berselingkuh, sayangnya kesempurnaannya berangsur hilang karena membawa duri dalam hubungan mereka.
"Kenapa?" tanya Rudi saat mendapati Nanda bukannya makan, tetapi malah menatapnya dalam diam. Pria itu bersikap biasa saja, seperti hubungan mereka tidak ada masalah. Rudi begitu lihai berperan hingga bisa menempatkan diri pada situasi apapun.
Nanda menggeleng. Wanita itu melahap nasi goreng buatannya, setelahnya menghela napas.
"Hari ini mau jalan-jalan?" tanya Rudi. Dia bukan pria hang tukang berselingkuh. Pria itu baru selingkuh dengan Sisil itupun karena mereka berdua memiliki hubungan di masa lalu yang belum tuntas.
"Nggak. Mas pasti hanya ngasih uang dan nggak menemani. Mas terlalu sibuk," sindir Nanda halus. Dia kadang bingung dengan sikap suaminya. Dulu pria itu sangat penyayang, hubungan mereka sangat harmonis, tetapi hanya karena mandul, semua berubah bahkan hati pria itu lari darinya, bukan hanya itu, tubuh pria itu pun sekarang bukan hanya miliknya.
"Kalau kamu mau, mas temani."
Harusnya mata Nanda berbinar dan mengangguk cepat, sayangnya dia tahu yang suaminya lakukan ini sebagai penawaran berlanjutnya hubungannya dengan selingkuhannya, tetapi tetap berbuat adil pula dengannya. Ini gila!
"Kalau aku mau, aku bisa jalan-jalan sendiri."
Rudi mengangguk. Pria itu menatap sayang pada Nanda. "Sayang--"
"Mas, panggil aku Nanda aja. Panggilan sayang membuat telingaku gatal. Itu kamu pakai buat panggil wanita itu saja," ucapnya halus.
Rudi terdiam.
"Apa karena aku mandul, kamu kayak gini, Mas? Apa rumah tangga kita yang kacau ini karena aku, Mas?" tanya Nanda setelah menaruh sendok di atas meja makan. Wanita itu menatap lekat pada wajah suaminya.
"Kalau jawaban kamu 'Iya' kamu orang terjahat yang pernah aku kenal, Mas. Ini takdir dan nggak bisa diubah. Coba kamu jadi aku, Mas. Kamu mandul dan aku selingkuh, gimana perasaan kamu? hm? kenapa nggak bisa nerima takdir sih, Mas? Andai saja posisi kita bertukar, kamu yang mandul, aku nggak akan pernah ninggalin kamu. Anak emang penting, tapi kesetiaan dengan pasangan juga nggak kalah penting." Air mata Nanda menetes.
Rudi perlahan menunduk. Dia enggan melihat istrinya menangis.
"Mas--"
"Mas selesai. Mas berangkat ke kantor. Kamu baik-baik di rumah." Rudi dengan cepat berdiri dan berjalan pergi.
Nanda mendengkus, dia tersenyum miris. "Kamu semakin jauh, Mas. Bahkan kecupan sebelum berangkat kerja, pun nggak pernah lagi kamu lakukan. Kamu jijik sama aku, Mas!" Ucapan itu bersamaan dengan air matanya yang mengalir deras. Baik-baik di rumah, yang ada terus berada di rumah membuatnya tidak baik.
***
Sisil menyalami suaminya yang mau berangkat kerja. Pria itu sebenarnya sempurna di matanya. Tampan, gagah dan berhati lembut serta sangat penyayang, hanya saja semenjak bertemu kembali dengan Rudi, Sisil mulai dibutakan dengan keadaan. Selain masih cinta, Rudi yang lebih kaya dari Andi membuatnya semakin tergila-gila. Dua bulan berselingkuh dengan pria itu, dirinya bisa membeli apapun yang dia mau, berbeda dengan Andi yang memilih hemat dan menabung untuk masa depan anaknya kelak.
"Kalau kamu pulang duluan, tolong ambil Sindi. Kasian ibu, dia juga butuh istirahat," ucap Andi.
__ADS_1
Karena dirinya dan Sisil kerja, Sindi di titipkan pada orang tua satu-satunya. Akan dijemput saat pulang kerja. Setiap pagi Andi mengantar Sindi sekalian berangkat kerja.
"Aku nggak bisa pastikan kapan pulang. Kalau ada pelanggan, aku nggak bisa nolak. Itu rezeky," ucap Sisil. Wanita itu memiliki Salon kecantikan yang dimodali suaminya.
Andi menghela napas. "Ya udah, mas berangkat."
Sisil tersenyum. Wanita itu mengangguk. Saat suaminya masuk mobil, wanita itu langsung masuk ke dalam rumah dan mengotak-atik ponselnya. Mengirim pesan pada Rudi.
***
Tring!
Nanda yang menaiki tangga itu berhenti. Dia melihat ponsel yang ada di tangannya. Chat masuk dari nomer kontak 'Sisil.'
Nanda tersenyum miring. Dia memilih duduk di anak tangga dan membaca chat dan terlihat suaminya tengah membalas.
[Pagi, Sayang. Dah di kantor?]
[Udah.]
[Kok jawabnya singkat. Biasanya ucapin selamat pagi juga.]
Hati Nanda sakit. Dia tersenyum getir. Wanita itu sangat genit dan menuntut, beda sekali dengan karakternya. Wanita itu menghela napas dan berpikir, mungkinkah suaminya menginginkan istri yang banyak menuntut?
Nanda mengigit bibir bawahnya. Suaminya lebih nyaman mengadu dengan selingkuhannya, daripada dengannya. Air matanya tidak bisa dibendung lagi.
[Ketemuan, mau? Di tempat biasa. Aku kasih servis biar kamu rileks dan segar kembali.]
Nanda meremat ponselnya.
[Boleh. Di tempat biasa.]
[Aku segera ke sana.]
Chat berakhir.
"Arghhhhh!" Nanda berteriak kencang, setelahnya menangis sesunggukkan.
**
__ADS_1
Seperti kemarin, Rudi mendapati istrinya tertidur saat dia pulang. Pria itu kembali melakukan hal yang sama pula seperti kemarin. Meminta maaf, mengecup kening istrinya dan pergi ke kamar mandi.
Nanda menarik selimut menutupi tubuhnya dan kembali menangis, melanjutkan hal yang harus terjeda karena kedatangan suaminya. Pria itu meminta maaf, mengulangi kesalahan, setelahnya meminta maaf lagi. Hatinya entah dianggap apa oleh suaminya itu.
Rudi keluar dari kamar mandi dengan keadaan segar. Pria itu segera berpakaian dan ikut berbaring di sisi Nanda, tetapi istrinya itu tiba-tiba bangun dan segera beranjak tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Mau ke mana, Sayang?"
Pertanyaan itu membuat langkah Nanda berhenti. "Nanda, bukan Sayang." Setelahnya wanita itu melangkah keluar kamar.
Rian menghela napas. Mengusap mukanya kasar, setelahnya beranjak dan mengikuti istrinya. Mendapati wanita itu berada di meja makan, sedang makan dalam kesunyian.
"Makan kok nggak ajak, Mas." Rudi duduk di kursi depan Nanda.
"Kamu jelas sudah makan, Mas."
"Mas belum makan. Pulang kantor mas langsung pulang."
"Oh." Hanya itu dan Nanda kembali memakan masakannya.
Rudi yang menunggu dilayani, menautkan alis mata karena Nanda tidak melakukan hal yang biasanya dia lakukan.
"Sayang, kok nggak ambilkan--" ucapan itu berhenti saat Nanda menatapnya tajam. "Sayang, please! Kamu sayangnya mas, kenapa mas nggak boleh--"
"Aku nggak perlu jelaskan apapun karena mas tau jawabannya. Mas mau makan? Silahkan makan." Wanita itu berdiri dan berjalan pergi. Namun, teriakan Rudi membuatnya berhenti.
"Nanda!"
Nanda berbalik menatap punggung suaminya. "Itu terdengar lebih bagus."
Rudi menghela napas. Dia berdiri dan berbalik. "Mau kamu apa?" tanyanya membentak. Matanya membulat dengan muka yang merah padam. Raut amarah terpampang membuatnya terlihat mengerikan.
"Tinggalin aku atau tinggalin selingkuhan kamu."
"Kamu gila?!"
Nanda tersenyum bodoh. "Bukannya kamu yang gila, Mas! Kamu berselingkuh. Apa yang kamu cari dari perselingkuhan itu? Apa anak? Kamu selingkuh karena aku nggak bisa punya anak, kan? Kamu cukup membawa perempuan itu datang ke sini, perkenalkan sebagai maduku, jangan kayak gini, Mas. Dipermainkan di belakang itu sakit!"
Rudi memijit pelipisnya.
__ADS_1
"Perselingkuhan kalian itu membuat kalian dicap buruk. Aku, hiks! Aku akan terima kalau adanya madu supaya kamu punya anak. Aku terima, tapi nggak dengan cara berselingkuh. Hiks!"
Rudi menghampiri Nanda, memeluknya erat. "Maaf," ucapnya.