Buah Dari Perselingkuhan

Buah Dari Perselingkuhan
Bab 31


__ADS_3

Sisil menyambut Andi dengan senyuman lebar, tetapi Andi malah memberinya tatapan tajam membuat wanita itu merasa suaminya aneh. Dia yang mengendong Sindi, menurunkan, setelahnya menyalami tangan suaminya.


"Mas, kenapa?" tanya Sisil. "Ada masalah di cafe?" sambungnya.


Andi bukannya menjawab, dia memilih mengendong Sindi dan membawanya berjalan pergi.


Sisil bengong. Dia berbalik dan melihat dengan sorot mata tidak percaya ke arah punggung suaminya. Ini hal langkah. Andi tidak pernah mengabaikannya seperti ini walaupun mereka tengah bertengkar. "Mas," panggilnya sembari menyusul suaminya.


***


Rudi memeluk Nanda dari belakang. Pria itu mengecup ceruk leher istrinya itu, setelahnya melihat apa yang dikerjakan wanita tercintanya. "Sepertinya enak," ucapnya.


"Sepertinya," jawab Nanda sekenanya.


"Malam ini mau jalan-jalan?" tanya Rudi.


Nanda menggeleng. "Habis makan, aku mau nonton drakor aja. Kalau Mas mau jalan, jalan aja."


Rudi menggeleng. "Mas di rumah sama kamu."


Nanda mengangguk. Dia tersenyum tipis. Andai suaminya tidak mendua, dia yakin, Rudi adalah pria paling sempurna untuknya. Mereka saling mencintai, sayangnya tidak bisa memiliki anak.


"Kamu mikir apa?" tanya Rudi. Dia melirik Istrinya yang tersenyum.


"Hanya berpikir andai hubungan kita baik-baik saja, kita pasti adalah pasangan suami istri yang paling harmonis hubungannya."


"Hubungan kita baik-baik saja, Sayang. Sekarang, ataupun nanti setelah mas nikah sama Sisil. Kamu ... Mas tetap akan mencintai kamu. Nggak akan ada yang berubah dari cinta mas."


Nanda tersenyum lebar. Bukan karena dia tersentuh dengan ucapan Rudi, tetapi senyum karena kemirisan jalan hidupnya. Masih mencintainya setelah menikahi Sisil? Ucapan itu membuatnya ingin tertawa. Saat Sisil hamil, punya anak, dirinya tidak akan terlihat lagi di mata Rudi.


"Mas," panggil Nanda.


"Hm?"


"Seperti kamu yang menikah demi keturunan, bolehkah lepaskan aku demi pria yang mau denganku, dengan kondisi mandulku ini? Bukan hanya kamu yang butuh bahagia, aku juga." Nanda yang sedang memasak cumi asam manis, menghentikan gerakan mengaduk, dia menoleh dan beradu tatap sangat dekat dengan Rudi yang matanya membulat sempurna.


***


Sisil yang memakai lingerie warna putih, masuk ke kamar kaca, membangunkan Andi yang tidur dengan Sindi.


"Mas," panggilnya sembari menggoyang lengan Andi. Namun, suaminya itu tidak bangun. Sisil menggoyang lagi, tetapi tidak bisa dia percaya kalau Andi malah menepis tangannya, membuat wanita itu mematung.


Di sisi lain, Rudi tengah memeluk Nanda dari belakang. Istrinya itu sudah tidur, tetapi tidak dengannya. Ucapan Nanda terus terngiang. Istrinya itu minta dibebaskan dan hal itu tidak akan dia lakukan.

__ADS_1


"Aku sangat mencintaimu, Sayang. Sisil hanya akan memberikan kita anak, itu akan jadi anak kita berdua. Kamu ... Tolong jangan berpikir untuk meninggalkanku," ucapnya lirih.


***


Sisil melihat anaknya tidur memeluk boneka baru. Dia tidak memperdulikan dua boneka baru itu siapa yang belikan, dia memilih keluar dari kamar kaca dan mengambil tas selempang yang di gantungan di belakang pintu. Wanita itu kembali ke ranjang, mengambil ponsel. Dia beralih ke meja rias, memakai lipstick dan menyemprotkan parfum. Merasa sempurna, dia berjalan pergi.


Setelah mengunci pintu utama, wanita itu mengirim chat pada Rudi.


[Aku datang membawakanmu makan siang, Mas.]


Setelahnya dia berjalan pergi.


**


Sisil sampai di kantor dan dengan mudah sampai di ruangan Rudi. Wanita itu melihat calon suaminya yang tengah sibuk bekerja.


"Mas, ayo makan dulu."


Rudi mengangguk. Dia menutup laptop dan berjalan menghampiri Sisil. "Apa menunya?" tanyanya sembari duduk di sisi Sisil. Pria itu semalam sudah memikirkan matang-matang dan menentukan keputusan kalau dia akan membuat Sisil hamil, mereka bisa menikah dan Sisil cepat melahirkan anaknya dan dia akan menunjukkan pada Nanda kalau cintanya tidak berkurang dan mereka berdua akan merawat anak itu bersama. Sisil, setelah melahirkan anaknya, dia akan menceraikannya.


"Aku masak ayam kecap. Ada capcai juga." Sisil dengan senang menyebutkan bekal bawaannya.


Rudi mengangguk. "Sil," panggilnya.


"Ya?"


Sisil mengangguk. "Tentu. Aku subur."


"Aku mandul."


Sisil mengigit bibir bawahnya. "Bu--bukannya ini sudah kita bahas, Mas. Kenapa sekarang kita bahas lagi?" tanyanya.


"Aku hanya ingin memastikan."


Sisil menghela napas. "Aku akan hamil anakmu." Wanita itu memegang tangan Rudi dan menatap pria itu dengan sorot mata yang penuh keyakinan.


"Sebelum ini, kita pernah dua bulan bersama dan melakukan itu. Kamu nggak ada tanda-tanda kehamilan, Sil," ucapnya.


Sisil menelan salivanya susah payah. "Itu karena habis kita main, aku minum pil pencegah hamil. Karena saat itu kamu belum berencana menikahiku. Hamil tanpa suami, aku nggak sanggup menerima hujatan orang."


Rudi diam. Hatinya menghangat. Kalau seperti itu, dia bisa menjalankan rencananya sekarang juga.


"Bagaimana kalau sebelum makan, kita olah raga dulu." Pria itu tersenyum manis. Dia beralih memegang tangan Sisil. "Ayo," ajaknya sembari berdiri.

__ADS_1


Sisil tersenyum manis. Dia ikut berdiri dan mereka berjalan ke toilet yang menjadi fasilitas ruangan ini.


***


Nanda yang bosan, memilih berjalan-jalan ke Mall. Dia melewati penjual aksesoris anak-anak dan tertarik dengan aksesoris rambut anak-anak.


"Mbak, mau ini, ini, ini, yang ini juga." Nanda dengan semangat menunjuk semua yang menurutnya mengemaskan jika dipakai Sindi, setelahnya membayar dan dia memutuskan untuk ke cafe Andi untuk menitipkan. Namun, setelah dia menyetop taksi, Megan menelepon, mengatakan anaknya sakit, suaminya keluar kota dan dia merasa takut sendirian. Nanda pun mengurungkan niat menemui Andi dan memilih menemui Megan.


**


Nanda menatap Megan yang tidak berselera makan. Ibu anak satu itu hanya mengaduk-aduk makanannya.


Nanda yang tidak tahu rasanya seorang ibu yang sangat sedih saat anaknya sakit, memaksa diri untuk peka dengan keadaan sahabatnya.


"Anakmu udah di periksa dokter, kan? Dan bilang dia hanya demam, udah di kasih obat juga, kan? Beby akan sembuh Megan."


Megan mengangguk. "Tapi aku masih aja cemas, Nan."


Nanda mengangguk. "Kamu boleh cemas, tapi tolong perhatikan kesehatanmu juga. Anak sakit, ibu harus sehat. Kalau dua-duanya sakit, siapa yang mau rawat kalian sementara suami kamu di luar kota."


Megan kembali mengangguk. Dia menyuap makanan ke mulutnya, setelahnya menoleh ke kasur, melihat anaknya yang tertidur di apit bantal guling. "Anak sakit itu bikin sedih. Pikiran jadi aneh-aneh," ucapnya.


Nanda mengangguk. Dia menyuap makanan dalam mulutnya. Saking tidak mau jauh dari anaknya, Megan mengajak Nanda makan di kamar. "Aku nggak akan bisa rasain itu, tapi makasih udah kasih tau rasanya."


Megan menatap Nanda. "Maaf. Aku nggak bermaksud--"


"Kamu itu kenapa, aku bilang makasih, loh, bukan nyalahin kamu. Megan, semalam aku bilang minta dibebasin sama mas Rudi, tapi dia nggak mau."


Megan minum, setelahnya kembali melahap makanannya. "Kabur aja," ucapnya.


"Dia bakalan cari aku dan kamu tau, kan, aku masih ada rasa sama dia, liat muka sedihnya bakalan bikin aku iba dan ujung-ujungnya bakalan balikan. Kalau dia lepasin aku, aku jelas sakit hati dan dari rasa sakit itu aku bisa membuat pertahanan diri supaya nggak nerima dia lagi."


Megan yang sudah tahu semuanya tentang masalah rumah tangan Nanda, hanya bisa menghela napas. "Miris banget nasib kamu, Nan."


Nanda mengangguk. Dia bilang bakalan terus cinta sama aku, tapi aku pikir kalau sisil hamil, punya anak, aku akan terlupakan."


Megan mengangguk. "Kamu selingkuh aja, gimana? Pria bayaran, bikin momen kalian ketahuan berselingkuh, Rudi bakalan murka dan kamu akan diceraikan."


Nanda mengunyah pelan makanan dalam mulutnya. Selingkuh? Dia sedang menjalani status itu sekarang, tetapi caranya adalah Rudi menyadari perubahannya dan mendapatinya berselingkuh, pria itu akan sakit hati, rencana yang berbeda dari yang Megan berikan.


"Kalau kamu mau, aku punya kenalan cowok yang bisa kamu jadikan selingkuhan pura-pura." Megan sangat bersemangat.


Nanda diam. Apa ketahuan selingkuh bisa membuatnya bebas dari Rudi? Jujur, dia merasa tidak akan sanggup melihat suaminya menikah lagi apalagi punya anak dengan pria lain.

__ADS_1


"Nan," panggil Megan.


"Aku pikirkan dulu." Nanda memutuskan untuk membicarakan hal ini pada Andi terlebih dahulu.


__ADS_2