Buah Dari Perselingkuhan

Buah Dari Perselingkuhan
Bab 5


__ADS_3

Nanda baru sampe di rumah dan wanita itu langsung di sambut tarikan Rudi. Suaminya itu membawanya ke sofa, mendudukkan kasar, setelahnya menatap tajam.


"Kenapa kamu melakukan itu, Nanda?"


Nanda menautkan alis matanya. Tidak mengerti. Ini belum waktu jam pulang, tetapi suaminya sudah pulang, terlihat kesal dan melakukan hal seperti sedang menginterogasinya. Ah! Seketika dia teringat kejadian di cafe. Apa suaminya ....


"Mas udah milih kamu, kenapa kamu malah berulah dan mencelakai dia,"ucap Rudi menahan geram.


Alis mata Nanda bertaut. Mencelakai? Bukannya hanya menampar sekali saja?


"Kamu keterlaluan, Nanda!"


Nanda menelan salivanya susah payah. Suaminya tidak memanggilnya 'Sayang' tetapi namanya, ini menandakan suaminya sangat marah.


Pria itu berdiri, setelahnya berjalan ke arah pintu.


"Mas mau ke mana?" tanya Nanda.


"Mau ke rumah sakit. Mau temani Sisil. Ini pertanggungjawaban mas atas perlakuan kamu."


Nanda berdiri dan mengikuti Rudi dari belakang. "Mas, dia di rumah sakit ngapain?" tanyanya.


Rudi menghentikan langkahnya, setelahnya berbalik. "Kamu masih nanyak? Kamu hajar dia di depan umum dengan membabi buta masih nanyak dia di rumah sakit ngapain? Kamu nggak ada otak ya, Nanda. Mas kecewa sama kamu."


Nanda diam dengan mata yang berkaca-kaca. Suaminya menuduhnya sangat kejam.


Rudi berbalik.


"Mas, mas percaya aku ngelakuin itu?"


Rudi kembali berbalik dan menghela napas. "Iya. Sisil mukanya penuh lebam. Mas sudah memilihmu, tapi kamu malah berulah, mas kecewa."


Air mata Nanda menetes. "Oh! Mas kecewa karena aku mencelakai selingkuhanmu? Bagus! Pergi, Mas! Pergi temui selingkuhanmu." Nanda berbalik dan berjalan masuk rumah. Dia sangat kecewa dengan sikap suaminya.


Rudi diam di tempat. Dia tiba-tiba tersadar dengan sikap keterlaluannya. Tadi, saat dia masih kerja, Rika mengirim foto Sisil yang berada di rumah sakit, mengatakan kalau wanita itu dihajar Nanda di tempat umum, seketika amarahnya membara, istrinya melakukan hal kriminal padahal dirinya sudah memutuskan memilih kembali menjalin hubungan dengannya dan meninggalkan Sisil. Dia pulang dengan penuh amarah, mengungkapkan kekecewaannya pada istrinya dan wanita itu malah salah paham.


Dreet!


Ponsel Rudi bergetar, membuat pria itu yang tadinya berniat untuk mengejar istrinya, diurungkan.


Sisil menelepon.

__ADS_1


"Hallo."


Setelah menerima telepon, Rudi langsung pergi dengan mobilnya dan itu membuat Nanda semakin sakit hati. Wanita yang mengintip di jendela itu menyeka air matanya dan memilih keluar, mengikuti suaminya menggunakan taksi.


**


Nanda duduk lemas di kursi tunggu depan ruang rawat inap. Semua terbongkar. Keluarga suaminya memang mendukung hubungan Rudi dan selingkuhannya. Bahkan mereka berencana menikahkan dua orang itu biar Rudi memiliki keturunan dan tinggal jawaban dari suaminya, jika setuju, mereka akan segera menikah. Jika tidak setuju ... Nanda yakin suaminya akan setuju.


Nanda menghela napas berulang. Dia benar-benar terpuruk dengan keadaannya sekarang. Bagaimana hal ini menimpanya. Dia tidak ingin mandul, tetapi jika takdirnya menjadi mandul, tidak bisakah keluarga pihak suaminya mengerti dan sedikit menunjukkan pengertian?


Nanda berdiri. Walaupun lemas, dia tidak boleh ada di sini. Ketahuan mengetahui rencana mereka tidak akan seru untuk momen selanjutnya.


Dreet!


Ponselnya bergetar. Langsung diangkat karena tertera nama 'Megan.'


"Hallo, Megan."


"...."


Nanda tersenyum. Air mata bahagianya mengalir. "Kita ketemu di apartemenmu. Aku butuh teman curhat." Wanita itu terlihat lebih semangat, terbukti dari langkahnya yang cepat menyusuri lorong rumah sakit.


***


"Mas, mau makan buah," ucap Sisil manja. Padahal di sisinya ada Rika, Sani dan Sukma, ibu Rudi, tetapi dia ingin calon suaminya itu yang melayaninya.


"Manja banget sama calon suami," ucap Rika menggoda dan itu membuat wajah Sisil merona. Malu-malu suka.


Rudi dengan malas beranjak dari duduknya. Dia melakukan apa yang Sisil suruhan. Entah, saat selingkuh waktu itu dia begitu tergila-gila dengan wanita itu, tetapi setelah kembali dengan istrinya dan mendapat perhatian dan kesempatan kedua, Sisil seperti tidak berarti lagi sekarang. Ini menunjukkan jika dia benar-benar mencintai Nanda.


"Makasih," ucap Sisil saat menerima piring buah dari Rudi.


Dreet!


Ponsel di bawah pahanya bergetar, membuat Sisil langsung mengambil dan ekspresinya langsung berubah. Dia mematikan panggilan dan segera menonaktifkan ponselnya. Menaruh kembali benda pipih itu di tempat semula.


"Siapa? Kenapa nggak diangkat?" tanya Sukma.


"Nggak perlu, Bu. Itu pelanggan. Aku lagi sakit gini mana bisa layani mereka." Sisil berkilah. Nyatanya yang menelepon tadi adalah suaminya.


Rudi kembali duduk di sofa. Dia mengotak Atik ponselnya. Mengirim pesan pada Nanda.

__ADS_1


[Sebentar lagi mas pulang. Tunggu mas.]


***


"Kurang ajar itu suami kamu, Nan. Ayo kita hajar dia sama selingkuhannya itu. Ayo kita hancurkan rumah mertua kamu. Aku geram, sumpah!" Megan emosi. Dia berucap dengan penuh semangat.


Nanda yang nangis berubah tersenyum. Wanita itu menyeka air matanya. Perasaannya sedikit lega setelah menceritakan beban hidupnya pada sahabatnya, Megan.


Nanda anak yatim piatu, kedua orang tuanya sudah meninggal saat kecelakaan. Dia diasuh neneknya, tetapi saat SMA, neneknya pun meninggal, dia hidup sendirian di kota besar ini, tetapi karena semangatnya, dia bisa kuliah bahkan kerja di cafe sebagai manager.


Mengira pertemuannya dengan Rudi adalah anugerah terindah. Selain kaya dan tampan, Rudi itu baik dan penuh kasih sayang. Setelah pacaran setengah tahun, mereka pun memutuskan menikah dan keputusan itu ternyata membuatnya merasakan sakit hati dan kekecewaan mendalam.


Megan adalah sahabat terbaik Nanda dari SMA. Namun, karena sahabatnya itu menikah dengan pria yang tinggal di luar kota, mereka hanya sesekali bertemu, itupun kalau suami Megan ada pekerjaan di kota ini.


"Pelankan suaramu, Megan. Anakmu bisa bangun." Nanda melihat ke arah ranjang. Di sana putri kecil sedang tidur dengan nyenyak.


"Aku geram masalahnya, Nan. Kamu itu sempurna, kenapa digituin coba. Pokoknya kamu harus balas perlakuan mereka."


"Aku balas gimana?"


"Pertama kamu harus kuat. Siapin mental baja. Jangan minta cerai ataupun mau dicerai. Kamu harus menjadi perusak di hubungan Rudi sama si gatel juga di hubungan keluarga mertuamu. Pokoknya balas dendam mu. Jangan mau sakit sendiri. Aku yakin kalau kamu bakalan lega kalau liat mereka yang nyakitin kamu menderita."


"Apa nggak papa?" tanya Nanda.


Megan memicingkan mata. Nanda itu baik banget sampai mau balas dendam saja harus diyakinkan seyakin-yakinnya. "Nggak papa lah."


"Pertama, cari tahu kehidupan si gatel supaya kalau dapat kartunya, kamu bisa kendalikan dia. Paling nggak bisa ngelawan dan bisa bikin dia jantungan."


Nanda mengangguk. Wanita itu senang Megan memberinya pencerahan.


**


Sampai di rumah, Nanda langsung mandi, setelahnya rebahan. Dia menatap keluar jendela, melihat langit yang gelap. Wanita itu menghela napas. Dia sudah memutuskan akan menjadi Nanda yang baru mulai malam ini.


Nanda mengambil ponselnya. Mengaktifkan. Tadi, sengaja dia menonaktifkan karena tidak ingin diganggu sesi curhat dengan Megan.


Tring!


Notif chat masuk langsung membanjiri ponselnya. Hanya dari dua nomer. Satu dari suaminya, dan satunya nomor baru. Dari nomor baru itu yang sangat banyak mengirimnya chat.


Pertama Nanda membuka chat suaminya. Pria itu mengatakan akan segera pulang. Wanita itu hanya menghela napas. Menekan rasa senangnya dengan mengingat kembali perkataan suaminya yang katanya kecewa dengannya karena membuat pelajaran pada selingkuhannya. Pria itu sekarang bukan miliknya dan dia bertahan ini untuk membalas dendam.

__ADS_1


Nanda pun membuka chat dari nomor baru. Isinya foto-foto yang membuat matanya panas. Foto kebersamaan Rudi dan Sisil. Suaminya yang sedang menyuap Sisil. Mengupaskan buah, tersenyum menatap wanita itu dan foto terakhir, yang diambil dari dekat pintu hingga bisa memperlihatkan keluarga suaminya, plus suaminya sedang berdiri mengelilingi ranjang pesakitan yang Sisil tiduri.


"Keluarga besar yang bahagia," ucap Nanda dengan air mata yang mengalir. "Kalian akan mendapat balasan," ucapnya setelahnya. Wanita itu menyeka air matanya dan menaruh ponsel di bawah bantal.


__ADS_2