Buah Dari Perselingkuhan

Buah Dari Perselingkuhan
Bab 23


__ADS_3

Megan dan Nanda makan bersama. Wanita beranak satu itu menatap nanar pada Nanda yang makan dengan lahap.


"Jangan natap aku kayak gitu, Megan. Aku nggak papa."


Megan menggeleng. Matanya berkaca-kaca. "Kamu kenapa-kenapa. Mereka itu sudah sangat menghina kamu. Tinggalin aja Rudi, Nanda." Dia yang waktu itu menyuruh balas dendam, kini berubah pikiran.


Nanda menggeleng. "Aku nggak bisa."


"Karena terlalu cinta?"


Nanda diam. Cinta? Rasa itu masih ada terlihat dari dia yang selalu merasa cemburu melihat Sisil dan Rudi, tetapi ada hal yang lebih dari Cinta yang mengharuskan dia bertahan, yaitu dia sedang balas dendam. Namun, cara balas dendamnya tidak boleh diketahui Megan.


"Nda, maaf waktu itu aku nyuruh kamu bertahan dan milih balas dendam, tapi kalau kayak gini aku minta kamu nyerahin aja. Akhiri rumah tangga kalian. Kamu terlalu ditindas. Suami kamu berkhianat, keluarga suami yang memojokkanmu dan ucapan suamimu yang menunjukkan kamu menjijikkan, itu ... Aku sakit ati dengernya, Nan, aku tau kamu pasti sakit hati banget. Udah, minta cerai, habis itu kamu tinggal di kosan dulu, nanti aku cariin kerja yang bagus supaya bisa beli apartemen. Kamu harus cari kebahagiaanmu, Nan."


Nanda tersenyum. Dia menyuap makanan dalam mulutnya. Mengunyah perlahan. Megan memang sahabat yang baik, tetapi dia harus menolak kebaikan itu. "Aku akan bertahan, Megan. Aku akan baik-baik saja."


Megan menyeka air matanya yang jatuh. "Kamu punya rencana?" tanyanya.


Nanda menggeleng. Wanita itu harus berbohong karena misinya akan mengundang kejijikkan dari Megan. Sahabatnya itu jelas akan jijik jika tahu dia membalas perselingkuhan suaminya dengan berselingkuh juga, dengan suami Sisil dan mereka telah melakukan 'itu.' Nanti jika saatnya dia ketahuan berselingkuh dengan Andi, Megan yang jijik akan dianggap wajar dan dia tidak akan mempermasalahkan, tetapi untuk sekarang dia ingin sahabatnya itu tetap berada di sisinya, menjadi pendukungnya.


"Kamu bakalan sakit hati kalau sampai kalian tinggal bersama, Nan?"


Nanda mengangguk. Dia tahu masalah itu, tetapi proses balas dendamnya sudah cukup jauh, jadi untuk mengakhiri sangat disayangkan. Juga, dia merasa perselingkuhannya dengan Andi sangat menguntungkan. Dia mempunyai anak, yaitu Sindi dan dia mendapat pengalaman penyatuan yang luar biasa. Andi lebih perkasa dari Rudi dan permainan suami Sisil itu sangat pas dengan model dan durasi yang dia inginkan saat bercinta.


"Nan?" panggil Megan.


"Hm?"


"Aku belum halangan," ucap Megan.


"Dah terlambat berapa hari?"


"Tiga."


"Hamil lagi?" tebak Nanda.


"Mungkin."


Nanda tersenyum. "Selamat," ucapnya.


Megan mendengkus. "Belum juga cek, Nan."


Nanda tersenyum dan kembali melahap makanannya. Untuk Megan, dia ikut bahagia, tidak ada rasa iri tahu sahabatnya itu hamil.


***


Sisil pergi ke kantor Rudi. Dia membawa bekal makan siang yang dia beli disalah satu restoran. Wanita itu tidak bisa memasak.


Tanpa hambatan, wanita itu membuka pintu dan masuk, langsung menghampiri Rudi yang melihatnya, tetapi diam saja, tidak menyapa, malah kembali membuka-buka berkas yang ada di atas meja.


"Sapa, kek, calon istri datang kok didiemin," ucap Sisil sembari duduk di sofa, menaruh rantang di atas meja dan menatap Rudi.

__ADS_1


"Kamu ngapain?" tanya Rudi.


"Mau makan siang sama kamu."


"Aku hari ini mau makan siang di rumah. Mau makan siang dengan Nanda, mungkin saja dia sudah pulang."


Alis mata Sisil bertaut. "Nanda nggak pulang tadi malam?"


Rudi mengangguk.


"Kok sama ....ups!" Sisil menutup mulutnya rapat. Dia tersenyum paksa pada Rudi yang menatapnya datar.


"Sama seperti siapa?" tanya Rudi.


"Itu, kok sama seperti teman kosanku. Dia juga semalam nggak pulang. Tau gitu aku nginap aja di rumah Ibu. Tidur sendiri itu nggak enak."


Sisil mengaku pada Rudi dan keluarganya tinggal di kos khusus puteri bersama sahabatnya. Dia menghela napas setelah mengucapkan kebohongan yang sepertinya bisa mengelabui Rudi. Hah! Hampir saja dia keceplosan.


Sisil menatap rantang, dia memikirkan kenapa Andi dan Nanda bisa tidak pulang di malam yang sama? Wanita itu jadi teringat tentang parfum yang tertinggal di jaket suaminya. Jantung wanita itu berdegub kencang. Pikirannya dipenuhi dengan perkiraan, apa Nanda dan Andi punya hubungan dibelakangnya?


Sisil yang melamun tidak menyadari kalau Rudi sudah duduk di sisinya. Saat pria itu mengambil rantang, barulah wanita itu tersadar, mengerjap beberapa kali dan menoleh, melihat Rudi.


"Mungkin saja Nanda tidur di tempat pria lain?" tanya Sisil.


Rudi yang sedang menyendok lauk dan menaruhnya di atas nasi, menoleh pada Sisil. "Kamu bilang apa?" tanyanya.


"Nanda nggak pulang,mungkin saja punya selingkuhan?"


Rudi tersenyum dan menggeleng. "Nanda menginap di apartemen sahabatnya. Dia selalu begitu kalau sahabatnya datang ke kota ini. Nanda nggak mungkin selingkuh, dia sangat mencintai aku."


"Mas yakin kalau dia masih akan bertahan mencintaimu padahal kamu sudah membuatnya sakit hati?"


Pertanyaan itu seketika menghilangkan napsu makan Rudi. Dia menaruh sendok dan berdiri.


"Mas, mau ke mana?" tanya Sisil.


"Napsu makanku hilang karena pertanyaan mu, Sil. Aku mau makan di rumah saja bersama Nanda." Pria itu berjalan pergi meninggalkan Sisil yang mematung.


***


Nanda memutuskan pulang ke rumah. Dia langsung berbaring. Tadi, setelah sarapan bersama Megan, Nanda dapat tamu bulanannya, dan hari pertama buatnya itu sungguh menyiksa. Dia akan mengalami sakit perut yang amat sakit dan memutuskan pulang karena tidak ingin merepotkan Megan.


Nanda merubah posisi jadi miring, dia menekan perutnya dengan kedua telapak tangannya.


Dreet!


Ponselnya bergetar. Dia langsung mengambil tas selempang, mengambil ponselnya dan melihat si penelepon.


'Patner.'


Secepat kilat dia menerima panggilan.

__ADS_1


"Hallo, Mas," ucap Nanda.


"Nda, kamu lagi apa?" tanya Andi. Nanda men-speaker ponselnya karena memudahkan dia berbicara sembari menekan perutnya yang sakit.


"Baring."


"Tadi Sisil cium bau parfummu di jaketku. Dia langsung nuduh aku selingkuh."


"Ba--bagus," ucap Nanda terbata.


"Nda, kamu kenapa?" tanya Andi yang peka dengan suara Nanda.


"Aku lagi halangan di hari pertama. Aku biasa kayak gini, Mas."


"Sakit perut?"


"Hu'um."


"Aku datang ke tempatmu. Kamu di mana?" tanya Andi.


Nanda tersenyum saat mendengar suara Andi yang terdengar panik.


"Aku nggak papa, Mas. Nggak usah ke sini."


"Kamu ... Bisa saja itu karena ulahku tadi malam. Apa aku terlalu kasar, terlalu lama atau ... Kamu sudah pastikan itu datang bulan, bukan pendarahan, Nda?"


Nanda tersenyum. "Ini datang bulan, Mas."


"Aku ke sana. Kamu di mana?"


"Aku di rumah. Mau aku kirim lokasi--"


"Nanda, Sayang!"


Ucapan Nanda berhenti saat mendengar panggilan dari lantai bawah. Itu suara suaminya.


"Mas, udah dulu, ya. Mas Rudi datang. Bye!"


Nanda mematikan komunikasi, menaruh benda itu kembali ke dalam tas selempang dan berpura-pura tidur. Dia sangat merindukan Rudi, tetapi saat menatap wajah pria itu dia merasa benci karena mengingat penghianatan.


Ceklek!


Rudi masuk ke dalam kamar. Dia tersenyum saat melihat Nanda berada di kasur, sedang tidur. Pria itu langsung menghampiri, berjongkok, dan mengecup kening istrinya itu.


Mata Nanda terbuka perlahan.


Rudi kembali mengecup keningnya. "Jangan kabur-kaburan lagi, Sayang. Mas nggak bisa hidup tanpa kamu," ucapnya sembari beradu tatap dengan istrinya.


"Kamu bisa, Mas. Bahkan nanti kamu akan hidup tanpa aku."


Rudi menggeleng. "Mas nggak bisa, Sayang. Mas cinta banget sama kamu. Maaf atas perselingkuhan mas dan maaf karena mas egois menikahi Sisil, tapi kamu jelas tau itu karena apa. Mas akan adil, Sayang. Anak mas dan Sisil nanti juga akan menjadi anak kamu, anak kita. Mas minta tolong kamu restui kami, ya."

__ADS_1


Tangan Nanda yang berada di depan perut, mengepal kuat, perutnya yang sakit semakin sakit. Kepalanya mendadak pusing. Suaminya meminta izin menikah lagi dengan rayuan-rayuan mautnya dan itu membuatnya sangat sakit hati.


"Ya, menikahlah. Daripada kalian selingkuh, mending menikah, toh kalau aku menolak, kalian tetap akan menikah. Menikahlah, Mas. Kejar kebahagiaanmu." Mata Nanda berkaca-kaca.


__ADS_2