Buah Dari Perselingkuhan

Buah Dari Perselingkuhan
Bab 32


__ADS_3

Sisil selesai mandi, setelahnya berjalan ke arah kamar kaca. Dia melihat Sindi yang tidur memeluk bonek baru. Wanita itu tersenyum tipis, anaknya sangat bisa di ajak kerja sama. Dia cukup lama di kantor Rudi dan saat dia pulang, anaknya belum bangun tidur juga.


Sisil berbalik, saat akan melangkah pergi, dia mendengar suara knop pintu di putar. Matanya seketika membulat. Dia langsung bergerak cepat naik ke ranjang dan tidur memeluk Sindi. Mengabaikan suhu tubuh anaknya yang dingin, wanita itu memilih memejamkan mata, pura-pura tidur.


Andi masuk kamar. Dia langsung menatap ranjangnya dan mendapati kekosongan. Pria itu berjalan ke kamar kaca dan mendapati anak serta istrinya sedang terlelap. Kalau melihat kebersamaan seperti itu, hatinya terasa hangat. Andai Sisil tidak berulah, keluarganya pasti sangat harmonis.


Melihat wajah damai Sisil, Andi sedikit meragukan ucapan Nanda yang mengatakan Sisil tidak mengakui Sindi sebagai anaknya. Istrinya tidak mungkin Setega itu.


Andi berjalan masuk ke kamar kaca. Dia berjongkok di depan anaknya yang terlihat sangat lelap. Namun, alis mata pria itu bertaut saat menyadari wajah Sindi sangat pucat.


"Sindi," panggilnya. "Papa pulang, Sayang," ucap Andi sembari mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi anaknya dan seketika matanya membulat sempurna. Pipi anaknya sangat dingin. "Sindi," panggil Andi sembari memeriksa suhu di kening dan di ceruk leher. Area-area itu terasa sangat dingin. "Sindi!" Andi langsung berteriak saat tidak mendapati napas dari hidung anaknya itu. Pria itu langsung meraih badan anaknya untuk dipangku dan dipeluk erat.


Sisil yang bangun dari pura-pura tidurnya langsung bertanya karena kaget dengan teriakan Andi. "Mas, kenapa?"


"Sindi badannya dingin, Sil! Sindi juga udah nggak bernapas!"


Deg!


Mata Sisil membulat sempurna.


***


Nanda beberapa kali mengetik chat dan ingin mengirim pada Andi soal pembahasan dirinya tadi dengan Megan, tetapi selalu dia urungkan takut kalau Sisil yang membaca chat itu. Jadi, dia menaruh ponselnya dan memilih besok, saat ketemuan barulah membahas.


Menurut Nanda, saran Megan itu bagus. Dia jelas tidak bisa hidup lama bersama Rudi dan Sisil. Dia harus pergi. Walaupun berat dan sakit hati, lebih baik dia mengambil tindakan cepat sehingga bisa menyembuhkan luka juga dengan cepat. Kalau meminta Rudi melepaskannya, jelas pria itu tidak akan mau, menunggu pria itu memergokinya selingkuh dengan perubahan sikapnya, entah sampai kapan, tetapi kalau membuat suaminya memergokinya sedang berselingkuh di sebuah hotel, dia bisa dan sepertinya memang bisa membuatnya terlepas dari belenggu suaminya itu.


"Sayang, mas pulang."


Teriakan Rudi membuat Nanda berdiri dan berjalan ke luar kamar. Dia menuruni tangga dan bertemu dengan suaminya.


"Mas bawain kamu bakso. Mau makan sekarang?" tawar Rudi dengan nada penuh semangat. Dia harus mengambil hati istrinya supaya betah di sisinya. Biarlah berlaku egois, dia ingin anak juga ingin istrinya.

__ADS_1


Nanda tersenyum. Hatinya senang karena Rudi kembali seperti dulu yang selalu membawa oleh-oleh saat pulang ke rumah. Namun, senyumnya luntur saat melihat noda merah tipis di lipatan kerah kemeja suaminya.


Nanda maju selangkah, dia memegang kerah kemeja itu dan membuat mata Rudi membulat. Jantungnya berdegub kencang. Bagaimana bisa Sisil membuat kekacauan padahal dia sudah mengatakan mereka mainnya harus bersih?


"Habis main sama Sisil kamu, Mas?" tanya Nanda dengan nada suara yang tercekat. Dia mundur selangkah dan menatap nanar pada mata Rudi.


"Sayang, itu ...."


"Jelaskan apa yang mau kamu jelaskan, Mas," ucap Nanda dengan mata yang berkaca-kaca. Suaminya tidak mau melepasnya dan inilah balasan untuk kepatuhannya. Sangat keterlaluan.


Rudi menelan salivanya susah payah, setelahnya menghela napas. "Maaf, Sayang. Mas emang habis main sama Sisil tadi." Hati pria itu terasa nyeri saat melihat istrinya mengangguk dan air matanya mengalir. "Sayang, ibu mengajukan syarat kami boleh menikah kalau Sisil hamil. Jadi, rencana mas, kami cepat main, Sisil cepat hamil, kami menikah, Sisil melahirkan dan mas dan kamu, kita berdua akan hidup bahagia bertiga dengan anak itu."


Nanda bertepuk tangan.


Prok! Prok! Prok!


"Ide yang bagus, Mas." Nanda berucap dengan senyuman manis dan hal itu membuat Rudi tersenyum. Pria itu senang Nanda setuju dengan idenya.


Nanda menggeleng. "Buat kamu aja, Mas. Aku nggak butuh. Aku nggak butuh anak apalagi dari rahim orang lain. Kamu yang butuh jadi jangan tarik aku untuk berada diantara kalian."


"Sayang--"


"Pernah mikir nggak gimana sakitnya aku tau kamu main sama orang lain? Pernah mikir nggak kalau seumpama permainan kalian tidak juga menghasilkan anak, jadi mau sampai kapan kalian melakukan itu diluar nikah? Andai--" Nanda menyeka air matanya. "Oke, andai Sisil hamil, melahirkan, tolong Mas jaga anak itu sama Sisil, aku nggak akan nerima anak dari hasil perselingkuhan."


"Sayang, tolong ngertiin Mas. Posisi mas ini juga mas nggak mau. Mas hanya ingin jadi pria sempurna, punya anak dan tetap bersama kamu."


Nanda menyeka air matanya lagi. "Lakukan sesukamu, Mas." Wanita itu berjalan menaiki tangga, kembali ke kamarnya.


Brak!


Pintu kamar tertutup dan hal itu membuat Roy mengusap mukanya kasar. Pria itu frustasi.

__ADS_1


***


Sindi meninggal, membuat kediaman Andi dipenuhi para tetangga yang datang untuk mengucapkan bela sungkawa. Andi terus saja menangis di sisi Sindi bahkan pria itu beberapa kali pingsan. Dia tidak menyangka anaknya akan pergi secepat ini. Di samping Andi ada Sumi yang tidak kalah histerisnya menangisi kepergian cucunya. Sedang Siska menangis di kamar, ditemani beberapa ibu-ibu tetangga. Wanita itu juga tidak menyangkan anaknya akan pergi secepat ini.


Walaupun tidak rela, Andi tetap menjalankan prosedur pemakaman dan mencoba mengikhlaskan kepergian Sindi.


Pria itu berjalan lesu masuk kamar kaca. Dia duduk di tempat tidur, mengusap tempat biasa anaknya itu tidur. "Kenapa Sindi pergi ninggalin papa, hm?" tanyanya dengan air mata yang kembali mengalir.


Andi semakin tergugu saat mengingat kebersamaannya dengan anak semata wayangnya. Pria itu berbaring dan memeluk boneka pemberian Nanda yang dipeluk anaknya terakhir kali.


Sumi menyeka air matanya. Dia yang berdiri di luar kamar kaca merasa sedih anaknya terlihat sangat terpukul. Sumi menoleh pada Sisil yang berbaring di atas ranjang. Menantunya itu juga terlihat sangat sedih.


***


Setelah makan malam, Rika mengode Sifa dan Sukma untuk tetap tinggal di meja makan karena dia harus membicarakan sesuatu. Saat mereka sudah bertiga, wanita itu langsung mengutarakan pemikirannya.


"Gimana kalau kita kasih waktu dua Minggu untuk Rudi dan Sisil bersama. Tinggal bersama, supaya Sisil cepat hamil dan mereka cepat nikah," ucap Rika.


"Bagus, sih, tapi gimana kalau dalam dua Minggu itu nggak jadi hasil di bulan setelahnya?" tanya Sifa.


"Jelas jadi. Rudi dan Sisil itu sama-sama subur jadi jelas dua minggu Sisil bisa hamil. Nah, bulan depan sesuai tanggal, mereka bisa nikah. Kalau belum, kita ganti Sisil dengan wanita lain."


"Ibu terserah kalian aja."


"Aku juga setuju, sih," ucap Sifa.


Rika tersenyum. Dia suka idenya diterima baik. Sebenarnya dia tidak punya dendam apapun dengan Nanda, hanya dia tidak ingin keluarga besar suaminya mendapat nama buruk dengan mempunyai menantu yang mandul, jadi, sebisa mungkin dia akan membuat nama keluarga tetap baik baik saja.


"Bagusnya mereka tinggal di hotel atau di rumah ini atau liburan ke luar kota. Supaya cepat jadi, mereka harus dalam situasi dan kondisi yang baik."


"Liburan aja, tempatnya terserah Sisil," jawab Sifa.

__ADS_1


Rika mengangguk. "Aku nanti bilang ke Rudi dan Sisil."


__ADS_2