
Sisil terus merangkul lengan Rudi posesif. Senyumannya merekah indah karena Sukma, Rika dan Sani terus menceritakan dirinya pada teman-teman sosialitanya. Memuji kecantikannya, memperkenalkan sebagai calon ipar juga menantu dan dibangga-banggakan akan memberikan anak untuk Rudi.
"Mas, aku suka pestanya," ucap Siska.
Rudi mengangguk. Ini pesta salah satu kerabat ibunya. Dia yang merasa jahat karena tidak membawa Nanda membuatnya kurang menikmati momen ini.
***
Andi tersenyum kala melihat Nanda yang tidur bersama Sindi di kamar kaca. Wanita itu dan Sindi tidur berpelukan memperlihatkan keindahan yang menenangkan hati. Andi duduk di tepi kasur, di belakang pinggang Nanda.
Nanda membuka mata saat merasa ada pergerakan di belakangnya.
"Aku bangunin kamu?"
Pertanyaan itu membuat Nanda menoleh dan mendapati Andi yang duduk di belakangnya.
"Mas," ucapnya sembari perlahan melepas pelukan Sindi dan bergerak duduk. Dia jadi berhadapan dekat dengan Andi.
"Tidur aja lagi," ucap Andi.
Nanda menggeleng. "Ini jam berapa?" tanyanya sembari merapikan rambutnya.
"Jam sepuluh. Kenapa?"
"Aku mau pulang. Nanti Sisil datang, bahaya."
Andi mengangguk. "Aku panggilkan taksi online."
"Nggak usah. Aku jalan aja ke jalan raya. Aku nggak mau pulang dulu. Mau jalan-jalan dulu."
Andi diam. Dia tahu betul kalau Nanda ini bingung mencari tempat yang membuatnya bisa tenang dan merasa nyaman.
"Mandi dulu aja baru pulang. Di luar cuacanya panas, kalau nggak langsung naik taksi, kulit harus lembab biar kalau kena sinar matahari nggak mengeriput."
Bugh!
Nanda memukul pelan dada Andi yang bisa-bisanya mengucapkan lelucon yang menggelikan. Mereka berdua tertawa pelan.
"Mau mandi bareng?" tanya Nanda yang gantian menggoda.
Andi diam.
"Mau nggak?" tanya Nanda yang tidak peka kalau tawarannya itu seperti membangunkan singa yang lagi tidur.
"Mandilah, Nda."
Nanda tersenyum. Dia mengangguk dan perlahan menurunkan kakinya ke lantai. "Beneran nggak mau ikut mandi?" Wanita itu masih saja menggoda.
__ADS_1
"Nda--" ucap Andi dengan suara yang rendah. Andi yang normal merasa panas saat diajak mandi apalagi dengan Nanda yang sudah pernah bermain dengannya. Wanita itu, pesonanya sangat susah untuk diabaikan, tetapi menerima langsung, dia merasa kurang pantas apalagi keadaan sekarang wanita itu dalam suasana yang kurang baik.
"Baiklah. Aku mandi dulu." Nanda berdiri dan berjalan keluar kamar kaca. Andi mengikuti setelah mengecup kening Sindi dan menaruh bantal guling di ujung kasur.
"Kamu tersinggung aku menolakmu?" tanya Andi.
Langkah Nanda berhenti tepat di depan pintu kamar mandi yang menjadi fasilitas kamar ini. Wanita itu tidak menoleh. Dia menggeleng dan segera membuka pintu.
"Nda," panggil Andi. Pria itu berjalan mendekati Nanda yang mengurungkan niatannya untuk masuk kamar mandi. Andi membalik badan wanita itu dan mendapati wajah Nanda yang datar menatapnya. "Kamu marah?" tanyanya.
Nanda menggeleng. Wanita itu perlahan tersenyum. "Aku nggak marah. Aku hanya bercanda juga nawarin tadi. Aku masih punya otak untuk nggak mengambil waktu dan perhatianmu hanya buat aku disaat Sindi sedang butuh kamu seutuhnya. Sorry. Jangan gitu mukanya. Gemesin tau," ucap Nanda sembari mencubit pipi Andi.
Andi tersenyum. Dia senang dengan pemikiran Nanda, sayangnya candaan wanita itu tidak lucu. Dia sempat tergiur dengan ajakan itu.
"Ya udah, mandi sana."
Nanda mengangguk.
***
Rudi pulang ke rumah di sore hari. Pintu rumah dalam keadaan terkunci, dan Nanda tidak ada di kamar atau di manapun. Dia menelepon, tetapi istrinya itu tidak mengangkat. Rudi memilih membersihkan diri dulu barulah mencaritahu lagi keberadaan Nanda.
***
Sisil pulang ke rumah. Dia mendapati Andi yang tidur bersama Sindi di kamar kaca. Sudah sore, tetapi anak dan Papa itu masih saja mengarungi dunia mimpi.
Ketukannya di pintu kaca membangunkan Sindi. Gadis kecil itu mengerjap dan langsung duduk.
"Mama," ucapnya riang. Dia mengulurkan tangan, meminta gendong.
"Mama mandi dulu, ya."
Sindi menurunkan tangannya, setelahnya mengangguk. Gadis kecil itu kembali berbaring dan memeluk Andi.
Sisil berjalan ke arah kamar mandi. Dia lelah karena perjalanan yang lumayan jauh, tetapi terbayarkan dengan kejadian di pesta. Memutuskan mandi untuk menyegarkan badan dan bersiap kembali menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik.
***
Rudi yang baru selesai mandi, tersenyum saat melihat Nanda yang sudah berada di kamar, duduk di tepi ranjang, tengah bermain ponsel.
"Sudah pulang, Sayang?" tanya Rudi sembari menghampiri Nanda.
Nanda menoleh, dia mengangguk, setelahnya kembali meng-scrool layarnya. Dia tengah melihat-lihat boneka di aplikasi penjualan online.
"Darimana?" tanya Rudi sembari duduk di sisi Nanda. Merangkul pinggang istrinya itu dan mengecup pundaknya.
"Dari rumah Megan. Ada pesta di teman kita, jadi sama-sama perginya. Maaf nggak ajak kamu, Mas."
__ADS_1
Rudi diam. Dia merasa sedikit kecewa karena istrinya pergi ke pesta tanpa izinnya dan tidak juga mengajaknya, tetapi dia menyadari kalau hal yang Nanda lakukan juga dia lakukan. Jadi, begini kah perasaan Nanda kalau dia tahu kejadian tidak diajak ke pesta karena digantikan Sisil?
"Mas pakek baju, nanti masuk angin."
Rudi mengangguk, tetapi tidak segera melakukan suruhan Nanda, malah menatap layar ponsel istrinya itu. "Kamu pengen boneka?" tanyanya.
Nanda mengangguk.
"Pilih dan mas yang akan belikan."
Nanda menggeleng. "Ini untuk anak teman aku."
"Megan?"
Nanda menggeleng.
"Bukan. Temen aku yang lain. Hari ini dia sakit dan malah ditinggal mamanya pergi ke pesta dengan pria idamannya, jadi aku yang nggak punya anak ini memilih menyalurkan kasih sayang sama anak itu. Aku mau belikan dia boneka biar dia nggak sedih lagi dan cepat sembuh."
"Kamu baik sekali, Sayang." Rudi mengecup pipi Nanda.
"Aku suka berbaik hati sama orang, tapi sayangnya, ada beberapa orang yang memperlakukanku buruk."
Rudi merasa tersinggung. "Sayang--"
"Hm?"
Rudi menghela napas. Dia tidak bisa berdebat karena kenyataan yang ada memang seperti yang istrinya bilang. "Mas mau pakek baju," ucapnya dan Nanda mengangguk
***
Nanda walaupun kesal, tetap melakukan tugasnya sebagai istri. Dia memasak untuk sarapan suaminya. Rudi datang, memeluk istrinya itu dari belakang. Mengecup pundak dan membatu ceruk leher. Bau tubuh Nanda itu memabukkan.
"Pagi, Sayang," sapanya.
"Pagi, Mas. Duduk di kursimu dan tunggu beberapa menit lagi nasi gorengku akan matang," ucap Nanda. Dia dulu paling suka adegan ini. Suaminya memeluknya saat memasak, bahkan mereka dulu sering melakukan penyatuan di dapur, tetapi sekarang, dia merasa enggan melakukan kontak fisik dengan suaminya yang penuh penghianatan.
"Mas akan seperti ini sampai kamu selesai masak." Rudi mengecup-ngecup leher Nanda. Tangannya pun bergerak nakal, masuk ke dalam baju tidur dan membelai lembut gunung kembar istrinya.
"Mas," ucap Nanda. Gadis itu mematikan kompor. Dia mengigit bibir bawahnya saat sensasi elusan lembut dan kecupan yang Rudi lakukan menjalar ke seluruh tubuhnya. Perutnya merasa ada ribuan kupu-kupu berterbangan.
"Mas ingin kamu, Sayang," bisik nya setelahnya menjilat telinga istrinya itu.
Bulu kuduk Nanda berdiri. Gairahnya muncul dan membuatnya mengangguk. Dia adalah wanita yang tidak bisa menahan hasrat. Jika dia merasa ingin, dia akan lakukan karena jika dipendam, moodnya akan berantakan. Karena sudah semingguan tidak melakukan penyatuan karena datang bulan, wanita itu menginginkan penyatuan itu sekarang.
Dreet!
Ponsel Rudi bergetar dan itu menghentikan aktifitas pria yang bergairah itu. Dia mengambil ponsel dalam sakunya dan melihat nama ibunya sebagai penelepon. Seketika kekesalannya muncul. Wanita tua di seberang sana itu selalu tepat waktu untuk menghancurkan kebersamaannya dengan Nanda.
__ADS_1
Nanda berbalik. Matanya sayunya mendapati nama sang mertua di ponsel suaminya. Wanita itu menghela napas dan kembali berbalik, menghadap kompor. Dia menyendok nasi goreng buatannya ke dalam piring yang sudah disiapkan dan membawanya ke meja makan.