Buah Dari Perselingkuhan

Buah Dari Perselingkuhan
Bab 2


__ADS_3

Ceklek!


"Sayang, kok lama? Aku rindu." Sisilia, 30 tahun, wanita yang menjadi selingkuhan Rudi dua bulan ini menyambut dengan pelukan erat pria tercintanya yang datang ke kamar hotel langganan mereka.


Rudi membalas pelukan. Dia membawa pelukan itu maju selangkah dan menutup pintu kamar dengan kakinya. Pria itu menghela napas. "Istriku tau hubungan kita."


Ucapan itu membuat Sisil menghentikan usapan lembutnya ke punggung Rudi. Wanita itu menarik diri dari pelukan hangat, menatap kaget pada selingkuhan tercintanya itu. "Terus? Terus gimana, Sayang? A--aku nggak mau kita putus, loh. Setelah sekian lama kita pisah dan baru bertemu dan bisa bersama, aku nggak mau kita berpisah," ucapnya gagap. Ekspresinya nampak sekali ketakutannya.


Rudi memijit pelipisnya. Dia merasa bingung. Di satu sisi dia sangat mencintai Nanda, di sisi lain, dia lebih nyaman dengan Sisil.


Sisil dan Rudi dulunya pasangan kekasih saat di SMA. Ketika Rudi lulus, keluarga pindah kota dan hal itu membuat mereka terpisah. Namun, dua bulan lalu karena tidak sengaja berpapasan di cafe, mereka akhirnya dipertemukan dan menjalin hubungan di belakang pasangan masing-masing.


"Aku nggak tau harus gimana? Aku bingung."


"Mas, pilih aku."


"Aku mencintai istriku."


"Aku dan kamu saling mencintai. Kalian nggak akan bisa punya anak. Dia akan menghinamu, merendahkanmu saat tau semuanya."


Rudi diam.


"Mas, aku nggak mau pisah dari kamu. Aku mencintai kamu." Sisil memeluk erat Rudi. "Katanya kamu lebih nyaman saat bersamaku, jadi kita akan tetap bersama."


Rudi diam.


Sisil kesal. Dia menarik kepalanya, beradu tatap dengan Rudi. Wanita itu langsung menyerang bibir pria tercintanya. Memberikan servis bibir yang tidak bisa ditolak oleh Rudi. Dulu, pria itu hanya candu pada milik istrinya saja, tetapi saat hasil tes kesuburan keluar, dia merasa rendah di depan istrinya hingga membuatnya kesal dan tidak bergairah dengan wanita tercintanya itu dan Sisil kini adalah candunya.

__ADS_1


Rudi memeluk pinggang Sisil. Pria itu membalas ciuman selingkuhannya.


***


Nanda duduk di sofa teras. Dia menunggu kepulangan suaminya dari kerja, tetapi sudah hampir magrib pria itu belum muncul juga. Wanita itu melihat ponselnya, tetapi tidak ada chat atau panggilan dari suaminya.


"Hah!" Nanda menghela napas, setelahnya berdiri, dia memilih masuk ke dalam rumah. Sembari menaiki tangga, wanita itu menyeka air matanya. Suaminya jelas menemui selingkuhannya. Pria itu benar-benar berubah setelah vonis mandul ditujukan pada dirinya. Melupakan janji suci pernikahan yang dulu pernah diucapkan.


Nanda duduk di tepi kasur. Dia menyeka air matanya. Wanita itu diam dengan otak yang terus memikirkan dia harus mempertahankan rumah tangga ataukah berpisah saja.


"Hah!" Lagi, Nanda menghela napas kasar, setelahnya wanita itu memijit pelipisnya. Saat dia akan berdiri, terdengar suara mobil masuk pekarangan rumahnya. Tahu betul itu mobil suaminya, Nanda memilih berbaring di ranjang, pura-pura tidur. Dia ingin mengetahui reaksi apa yang suaminya akan berikan padanya.


**


Rudi masuk rumah dengan keadaan yang lelah. Lelah badan habis bermesraan dengan Sisil dan lelah pikiran memikirkan kemelut rumah tangganya.


Ceklek!


Rudi menghela napas saat melihat istrinya tidur nyaman di ranjang. Ini tidak seperti biasanya. Biasanya istrinya akan menyambutnya dengan senyuman manis, tetapi sekarang tertidur dengan pulas.


Rudi duduk di tepi ranjang. Dia mengusap lembut pipi gembul istrinya. "Maafin Mas, Sayang. Mas mencintai kamu, tapi mas butuh pelampiasan. Mas nggak bisa terima ini semua. Jadi Mas ingin egois dengan ingin memiliki kalian berdua dalam hidup mas." Setelah berucap, pria itu mengecup kening Nanda dan pergi ke kamar mandi.


Nanda membuka mata. Dia menghela napas, bersamaan dengan air matanya yang mengalir. Hatinya sakit sekali. Bau suaminya itu aneh. Bau parfum wanita bercampur bau cairan kenikmatan. Suaminya pasti habis melakukan kemesraan dengan selingkuhannya. "Tega sekali kamu, Mas. Aku nungguin kamu, kamu malah enak-enakan bersama selingkuhanmu."


***


Melihat suaminya masuk, Sisil langsung menarik selimut sebatas leher dan memejamkan mata. Dia malas berurusan sama suaminya.

__ADS_1


"Ma, kamu udah tidur?" tanya Andi Prayoga, 31 tahun, suami Sisil, papanya Sindi, buah hati Andi dan Sisil yang baru berusia 2 tahun.


"Udah mau tidur. Capek banget, tadi banyak pelanggan di salon. Papa tidur juga, capek juga, kan?" Ucapnya dengan mata yang di buat sesipit mungkin.


Andi naik ke kasur. Dia berbaring di sisi istrinya dan memeluk wanita yang memunggunginya itu. "Ma, papa pengen. Udah dua bulan--"


"Mama ngantuk, Pa. Papa juga pasti capek, kan? Tidur, yuk. Besok pagi kita harus beraktifitas lagi."


Andi menghela napas. Hatinya sudah cukup kebal dengan penolakan yang sama, yang selalu menjadi andalan istrinya setiap dia meminta jatahnya. Pria itu berbaring terlentang dan menatap langit-langit kamar. "Selamat tidur, Ma," ucapnya lembut, setelahnya memejamkan mata.


Sisil tersenyum senang. Dia menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya dan mengotak-atik ponsel, mengirim ucapan selamat malam untuk Rudi.


***


Tring!


Nanda yang berniat bangun untuk ke kamar mandi, memilih mengambil ponsel suaminya yang berada di atas nakas. Benda pipih itu berbunyi dan dia penasaran siapa yang mengirim chat malam-malam. Nanda melihat suaminya sangat nyenyak di sisinya, setelahnya wanita itu kembali melihat ponsel yang berada di tangannya.


Nanda menghela napas. Ponsel suaminya membutuhkan sandi untuk membuka. Dia langsung mengotak-atik dan hatinya menghangat saat sandi itu adalah tanggal pernikahannya. Hatinya menghangat lagi saat melihat walpaper ponsel suaminya adalah foto mereka saat bangun tidur di hari pertama setelah pernikahan mereka. Namun, chat masuk itu membuatnya sakit hati. Tertera nama Sisil dan isi chatnya adalah ucapan selamat malam dengan embel-embel Sayang. Air mata wanita itu menetes.


Nanda menghela napas berulang, setelahnya menatap suaminya. Dia benar-benar mencintai pria yang terpejam ini, tetapi penghianatannya sungguh menyakitkan. Teringat pria itu berkata ingin egois karena menginginkannya juga selingkuhannya, Nanda jadi merasa penasaran seperti apa selingkuhan suaminya itu.


Nanda membuka foto profil Sisil, tetapi tidak menemukan foto asli, melainkan foto anime.


Dia membuka room chat bersama Sisil lagi, dan tidak menemukan chat lain selain chat yang baru masuk itu. Nanda mengigit bibir bawahnya. Dia berpikir bagaimana bisa mengetahui bentuk selingkuhan suaminya.


"Ah! Ya," ucapnya. Nanda mengambil ponselnya. Dia mengotak-atik dua ponsel itu, setelahnya tersenyum. Menyadap adalah langkah detektif yang dia ambil. Wanita itu menaruh ponsel suaminya kembali ketempat semula, sedang ponselnya dia taruh di bawah bantal. "Aku akan melihat dia dulu, Mas, setelahnya akan memikirkan langkah selanjutnya," ucapnya sendu.

__ADS_1


__ADS_2