Buah Dari Perselingkuhan

Buah Dari Perselingkuhan
Bab 35


__ADS_3

Nanda keluar dari kamar mandi. Wanita itu memakai jubah mandi yang tersedia di kamar hotel. Dia berjalan mendekati Andi sembari menggosok rambut basahnya dengan handuk.


"Mas," panggilnya.


Andi tidak merespon. Pria itu menatap depan, tatapannya kosong. Nanda peka kalau pria itu tengah melamun. Kehilangan anak sama seperti kehilangan separuh dunianya. Andi tengah merasakan hal itu sehingga membuatnya merasa tidak seimbang.


Nanda menaruh handuk di atas nakas. Dia naik ke atas kasur, duduk di atas pangkuan Andi, membuat pria itu tersentak kaget dan mengerjap.


"Nda," ucapnya lirih.


"Hm." Nanda melingkarkan tangannya di leher Andi. Wanita itu mendekatkan wajahnya, mengecup bibir tipis pria itu, setelahnya memeluknya erat. "Kamu kuat, Mas. Kamu harus kuat," ucapnya sembari mengusap punggung Andi.


Mendapat perlakuan lembut, perhatian penuh juga ucapan penyemangat, Andi tersentuh. Pria itu membalas pelukan Nanda dan malah menangis.


"Nangis, Mas. Malam ini aku akan menjadi tempat sandaranmu," ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Dia juga terpukul dengan kepergian Sindi yang dadakan, terlebih dia tidak bisa melihat wajah gadis itu untuk terakhir kalinya.


***


Sisil bangun pagi. Dia yang haus berjalan ke dapur. Langkahnya berhenti kala melihat mertuanya sedang sibuk memasak.


"Ibu ngapain?" tanya Sisil.


Sumi menoleh. Dia tersenyum pada Sisil. "Ibu buat sarapan. Kamu duduk aja dulu, kalau sudah Mateng nasi gorengnya, nanti kita makan bersama," ucapnya lembut. Mata merah, hidung merah, jelas membuktikan kalau wanita tua itu menangis dalam waktu yang cukup lama.


"Sejak kapan aku makan masakan Ibu? Bu, kita lagi berduka dan ibu mikirin makanan, Ibu nggak ada sedih-sedih atas kepergian Sindi?" tanya Sisil dengan nada menuduh.


Sumi mematikan kompor. Wanita tua itu berbalik. Dia beradu tatap dengan sang menantu. Air matanya mengalir. Tuduhan wanita di depannya itu sungguh keterlaluan.


"Ibu tau ini sedang berduka, ibu juga sangat sedih, tapi kita harus terus hidup jadi kita butuh asupan makanan untuk energi," jelasnya dengan air mata yang mengalir.


Sisil diam. "Aku nggak mau makan, terlebih itu masakan Ibu." Wanita itu tidak jadi minum. Dia berbalik dan berjalan pergi.


Sumi menyeka air matanya. Dia menghela napas, melegakan dadanya yang terasa sesak akibat perlakuan menantunya itu.


***


Nanda membuka mata karena mendengar getaran ponsel di atas nakas. Wanita itu menunduk dan mendapati wajah Andi yang berada di depan dadanya itu terpejam dengan sangat damai. Dia tersenyum, mengecup kening Andi, setelahnya mengulurkan tangannya untuk mengambil salah satu ponsel yang berada di atas nakas dan pergerakan itu membuat Andi bangun.


"Nda," panggil Andi sembari mendongak.


Nanda menunduk membuat mereka berhadapan sangat dekat dengan ujung hidung yang saling bersentuhan.


"Hm?"


Andi diam, dia memperhatikan Nanda dengan teliti.


Dreeet! Dreet!

__ADS_1


Nanda menatap ke arah nakas. Salah satu ponsel di nakas sana bergetar menandakan ada yang menelepon.


"Bentar," ucap Nanda. Dia menarik tangan yang untuk bantalan kepala Andi, setelahnya duduk. Mencondongkan badannya ke arah nakas, mengambil ponselnya yang bergetar. "Mas Rudi," ucapnya sembari menatap Andi yang masih berposisi tidur miring.


Nanda segera menerima telepon.


"Ya, Mas?" tanyanya.


"...."


"A--aku ...." Wanita itu menarik tangan Andi dan melihat jam tangan pria itu. "Aku keluar untuk membeli bubur," ucapnya. Rudi mempertanyakan keberadaannya. Karena tidak mungkin mengatakan menemani seseorang yang tengah sedih di hotel, dia pun mengatakan kebohongan dan bersyukur kebohongannya di dukung karena ini sudah pagi.


"...."


"Ya, aku akan segera pula--" Ucapan Nanda berhenti kala Andi merubah posisi, tidur berbantal pangkuannya, pria itu memeluk pinggangnya, memposisikan wajah ke perutnya. Gelengan Andi jelas kode kalau dia tidak ingin di tinggal.


"Ak--aku pulang siang. Megan mengajakku sarapan bersama."


"...."


"Maaf, Mas. Dia lebih utama dari kamu. Dia ada saat aku susah maupun senang."


"...."


"Baiklah. Makan siang aku ke kantormu membawa makanan, kita makan bersama."


"...."


Tut!


Nanda memutus komunikasi. Dia menghela napas. Sedikit kesal dengan sikap Rudi yang mengeluh dirinya lebih memilih Megan dari pada suaminya. Akhirnya ucapan pedas pun terucap. Sebenarnya dia jelas tahu kedudukan suami dan sahabat, tetapi tetap saja tidak terima dikatai seperti itu. Andai dibalikkan kalimat itu, suaminya lebih memilih bersama selingkuhannya daripada dirinya, pria di seberang sana juga pasti akan memprotes.


"Nda,"panggil Andi.


Nanda menunduk. Dia tersenyum melihat kemanjaan Andi. "Kenapa?" tanyanya. Tangan wanita itu mengusap lembut rambut Andi.


Andi menggeleng.


Nanda tersenyum. "Aku mau ke kamar mandi dulu."


"Biar seperti ini dulu, Nda," ucap Andi.


"Aku pengen pipis, Mas. Nahan dikit lagi yang ada aku ngompol."


Andi menghela napas. Dia duduk dan menatap Nanda dengan wajah datar. "Cepat, setelahnya kembali lagi ke sini."


Nanda mengangguk. Wanita itu segera turun dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi. Sedang Andi, dia merasa aneh kenapa senyaman itu dengan istri orang lain.

__ADS_1


***


"Ini gila," ucapnya setelah membaca chat Rika yang memberitahu kalau dia dan Sisil harus liburan ke suatu tempat dalam dua minggu, memproses pembuatan anak supaya pernikahan bisa terjadi sesuai tanggal yang ditentukan.


"Kemarin tau aku main sama Sisil saja aku tidur di sofa ruang tamu, kalau Nanda tau masalah ini, yang ada dia minta cerai langsung," ucap Rudi sembari mengusap mukanya. Pria itu frustasi. Selera makannya seketika hilang. Pria itu berdiri, mengambil tas kerjanya, setelahnya berangkat ke kantor. Roti bakar buatannya tidak dia sentuh.


***


Sisil membulatkan mata. Senyumnya mereka indah setelah membaca chat yang Rika kirim. Dia dan Rudi ... Hah! Wanita itu segera pergi ke kamar mandi dan melompat-lompat kegirangan. Namun, teringat Rudi yang mandul, seketika rasa senangnya hilang. Dua Minggu mereka bersama, jelas itu tidak akan memberi pengaruh apapun. Jadi, dia harus bermain dulu dengan suaminya, barulah berlibur dengan Rudi.


"Aku harus membeli obat kuat supaya bisa main lama dengan Andi, menampung benihnya sebanyak-banyaknya, setelahnya pergi berlibur dengan Rudi. Hah! Harapan ku akan segera terkabul." Wanita itu terlihat sangat senang, melupakan kalau dia harusnya masih berduka atas kepergian anaknya.


***


Nanda menyuap Andi. Pria itu tadi menolak makan. Dia dengan susah payah merayu hingga selingkuhannya itu mau. Suapan demi suapan diterima sampai makanan dalam piring habis dan itu membuat Nanda tersenyum lebar.


Cup!


Hidangan penutupnya adalah kecupan hangat Nanda untuk Andi. Entah mengapa dia begitu senang jika pria itu merespon baik perlakuannya.


Andi yang sudah terbiasa dengan perlakuan Nanda, merasa hatinya menghangat. Kecupan itu membuatnya ingin melakukan hal yang lebih, tetapi keadaan belum memungkinkan.


"Jangan sedih lagi," ucap Nanda. "Boleh inget Sindi, tapi nggak boleh sedihnya berkepanjangan. Mas masih harus melanjutkan hidup. Masalah anak, Mas bisa mendapatkan lagi dari Sisil." Nanda mengigit bibir bawahnya. Dia merasa iri dengan selingkuhan suaminya yang sempurna itu.


"Nda," panggil Andi.


"Ya."


"Aku benci saat melihat Sisil. Itu yang membuatku malas pulang ke rumah."


"Kenapa?" tanya Nanda.


"Saat aku liat dia, aku selalu membayangkan dia yang tega meninggalkan kami demi berselingkuh, di tambah kamu bilang dia nggak mengakui Sindi sebagai anaknya, aku merasa semakin membencinya. Aku rasa aku nggak bisa menyentuhnya apalagi membuat anak dengannya kalau kelakuannya masih seperti itu. Kejadian Sindi bisa saja terulang lagi."


Nanda mengigit bibirnya lebih erat. "Ceraikan dia dan menikah dengan wanita lain. Kamu akan punya anak lagi."


Andi diam. "Aku sedang tidak berhubungan dengan wanita lain selain kamu, bagaimana bisa secepat itu akan punya anak? Cerai butuh waktu. Menikah harus mendapat orang yang cocok. Asal menikah, melakukan hubungan tanpa rasa cinta, anak kami akan seperti apa nanti?"


Nanda menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia menyengir, benar apa yang Andi bilang. Semua butuh proses.


"Andai aku bisa punya anak, aku akan menawarkan diri untuk mengandung benihmu, Mas. Sayangnya aku mandul." Ayu tersenyum paksa.


Andi tersenyum. "Makasih, Nda. Perlakuanmu selalu membuatku hangat dan nyaman."


Nanda mengangguk. "Aku lakuin ini selain peduli dengan Mas karena partner ku, aku juga peduli dengan Sindi. Dia pasti akan sedih kalau liat papanya sedih, jadi--"


Nanda tidak melanjutkan ucapannya karena Andi menarik tengkuknya dan menyatukan bibir mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2