
Sumi, Andi dan Sisil duduk bersama di meja makan. Hidangan yang menggugah selera ada di depan mereka, tetapi tidak ada satupun yang berniat untuk menyendok dan melahap.
"Sindi suka sekali sama ayam goreng. Dia kalau masih ada pasti ... Hah!" Andi diam setelah menghela napas. Dia berdiri dan berjalan ke kamar.
Sisil mengambil ayam goreng, memakannya dengan lahap. Tadi, dia menahan image sedihnya di depan sang suami, padahal kenyataannya dia sangat lapar.
Sumi tersenyum tipis. "Kalau lapar, makan, Sil, jangan karena Andi nggak makan, kamu jadi kelaparan," ucapnya.
Sisil mengambil sepotong ayam lagi. Dia mengabaikan ucapan Sumi dan terus memakan. Dia butuh tenaga.
"Mau pakek nasi?" tawar Sumi.
Sisil menatapnya tajam. "Jangan ganggu aku, Bu. Mending Ibu ke kamar sana," ucapnya kasar.
Sumi mengangguk, setelahnya berdiri dan berjalan pergi.
Tring!
Sisil mengambil potongan ayam ketiga. Sambil makan, dia membaca chat yang masuk dari Rika, calon kakak iparnya.
[Demi lancarnya pembuatan anak kamu dan Rudi, bagaimana kalau kalian dua Minggu liburan. Pilih waktu dan tempat, aku, mbak Sifa dan Ibu akan membiayai.]
Mata Sisil membulat.
***
Nanda tengah makan malam bersama suaminya. Nanda masak ayam kecap dan tumis kangkung, tidak lupa sambal tomat yang rasanya sangat pedas.
"Nanda," panggil Rudi.
"Ya."
Rudi menggeleng. Dia tadinya mau membicarakan masalah dia yang mau berlibur dengan Sisil, tetapi rasanya tidak baik. Nanda jelas akan sakit hati dan murka.
"Kenapa, Mas?" tanya Nanda.
"Nggak, Sayang. Makan yang banyak, biar cepet besar," ucap Rudi sembari mengambilkan sepotong ayam kecap untuk istrinya itu.
Nanda tidak terharu dengan perlakuan manis Rudi, dia malah memicingkan matanya, memiringkan kepalanya, merasa curiga dengan gerak gerik suaminya itu.
"Kenapa?" tanya Rudi yang sedikit gelagapan.
"Ada yang mau Mas bilang ke aku, kah?"
Rudi mengunyah makanan dalam mulutnya secara perlahan. Dia tengah melakukan peran batin antara memberitahu ide gila kakak iparnya atau menyembunyikan seperti yang kakak iparnya.
"Mas, kenapa?" tanya Nanda.
"Kamu ingat yang mas bilang kalau Sisil nggak hamil, kami nggak akan bisa menikah, kan?"
Nanda mengangguk. "Kalian bukannya sudah melakukannya kemarin, jelas Sisil akan segera hamil," ucap Nanda sembari melahap makanan. Hatinya berdenyut nyeri. Mood nya tiba-tiba buruk.
"Mbak Rika memberikan kami masukan kalau kami berdua harus berlibur selama dua Minggu untuk fokus membuat anak supaya Sisil hamil dan bulan depan bisa menikah sesuai tanggal yang ditetapkan."
__ADS_1
Brak!
Nanda memukul meja. Dia berdiri dan menatap nyalang suaminya. "Lakukan apapun yang kalian mau!" Setelah berucap dengan nada membentak, Nanda pergi.
Rudi memijit pelipisnya. Dia berdiri dan segera menyusul istrinya.
"Nanda, Sayang, tunggu," ucap Rudi.
Nanda jelas tidak menurut. Wanita itu berjalan cepat menaiki tangga. Tepat di anak tangga paling atas, Rudi memegang lengannya.
"Mas jelasin, Sayang."
Nanda meronta, tetapi cengkeraman Rudi terasa lebih erat dan menyakitkan. Jadilah dia menurut. Berdiri diam, menatap tajam ke arah suaminya.
"Mas menolak, Sayang, awalnya, tetapi mas ingin punya anak, tolong izinkan mas bersama Sisil selama dua Minggu, ya?"
Awalnya Nanda cukup senang karena suaminya itu menolak ide gila dari kakak iparnya itu, tetapi ucapan terakhir dari kalimat suaminya, membuat hatinya semakin hancur. Istri mana yang nggak akan sakit hati kalau diperlakukan seperti ini? Diduakan terang-terangan.
"Kamu minta izin dari aku, Mas? Kamu berharap aku kasih izin? tanya Nanda dengan air mata yang mengalir.
"Maaf, Sayang, tapi ini untuk kita. Kalau Sisil cepat hamil, kita akan semakin dekat dengan impian kita mempunyai anak."
"Kalau dia nggak hamil juga?"
"Dia akan di ganti. Kami nggak jadi nikah."
Air mata Nanda semakin mengalir deras. Suaminya konyol sekali. Pria itu menyakiti hatinya untuk membahagiakannya, sangat mengelikan.
"Mas gila, ya, mas gila tapi mas ingin anak untuk kita, Sayang. Mengertilah."
"Aku nggak mau punya anak, Mas."
Rudi diam. "Sayang, please! Itu akan menjadi anak kita. Mas janji nggak akan melupakanmu. Mas melakukan semua ini demi rumah tangga kita lengkap."
"Tapi kenapa harus dengan cara begitu. Aku nggak mau, Mas. Kamu namanya mempermainkan wanita."
Rudi menelan salivanya susah payah.
"Kurang sabar gimana aku, Mas, dalam menghadapi kamu, hm? Kamu selingkuh dua bulan, kamu janjiin aku kepastian akan meninggalkan selingkuhanmu, nyatanya hubungan kalian makin gila sampai dapat dukungan keluarga. Kalian akan menikah, tapi sebelum itu kamu harus menghamili dulu Sisil. Kalau Sisil nggak hamil, akan ada wanita yang lainnya. Mas, bayangin kamu ketemuan sama Sisil, terus kalian main, itu sudah bikin aku kecewa dan sakit hati, ini kalian mau menghabiskan waktu dua minggu bersama, Mas, kita pisah saja. Kamu lebih baik fokus dengan Sisil untuk menghasilkan anak kalian. Aku nggak kuat bertahan, kamu hanya nyakitin aku terus." Nanda menyeka air matanya.
"Nggak, Sayang. Nggak ada pisah-pisahan diantara kita." Rudi mengusap mukanya kasar. Dia paling kesal kalau Nanda sudah mengatakan perpisahan. "Sayang, Mas lakuin ini semua demi kami, demi kita." Pria itu memegang kedua tangan Nanda. "Please, dukung mas. Setelah anak itu lahir, mas akan ceraikan Sisil. Mas hanya butuh anak dari dia."
Nanda menggemparkan tangannya, membuat pegangan Rudi terlepas. "Aku semakin kecewa punya suami kayak kamu, Mas. Bagaimana bisa segampang itu permainkan hati wanita? Hah!" Nanda menyeka air matanya.
"Mas pernah berpikir kalau kita bertukar posisi nggak? Aku subur dan Mas yang mandul. Aku selingkuh, bahkan sekarang mengatakan kalau aku dan selingkuhanku harus bersama dalam dua Minggu, kami harus pokus membuat anak supaya aku, eh, supaya kita bisa punya anak. Apa Mas akan mengatakan 'pergilah, Sayang, aku mendukungmu. Aku akan menerima anak itu dengan senang hati' apa Mas akan mengatakan seperti itu?"
Rudi menggeleng. Jelas jawabannya adalah tidak.
"Terus, kenapa kamu mengharapkan aku mendukungmu, Mas! Kamu pria brengsek!"
Bugh!
Nanda memukul dada Rudi dengan keras, setelahnya dia berjalan pergi ke kamar.
__ADS_1
**
Sisil menghampiri Andi yang tidur di kamar kaca. Wanita itu duduk di tepi kasur, memegang lengan suaminya. "Mas," panggilnya.
Mata Andi perlahan terbuka. Dia langsung beradu tatap dengan mata sendu istrinya.
"Pindah di kasur kita, yuk," ajaknya.
Andi melihat penampilan istrinya yang sangat menggoda. Bukannya terpesona, pria itu malah merasa jijik. Sisil terlihat ingin menggodanya padahal bukan saat yang tepat. Andi memejamkan matanya lagi.
"Mas."
Andi tidak merespon. Tetap memejamkan matanya.
"Mas, jangan begini."
"Begini gimana?!" tanya Andi dengan nada suara membentak.
Sisil tersentak kaget. "Mas--" Wanita itu seperti tidak percaya mendapat bentakan dari suaminya. "Aku hanya mengingatkanmu untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Ki--kita memang sedang berduka, tapi--"
Ucapan Sisil berhenti saat Andi beranjak duduk. Kini mereka berhadapan dekat. "Aku nggak seperti kamu yang punya jiwa santai, Sil. Aku sangat menyayangi Sindi makanya aku masih bersedih."
Alis mata Sisil bertaut. "Mas, aku juga sayang sama Sindi, kenapa kamu--"
"Kamu sayangnya hanya di mulut, nggak di hati. Kalau kamu sayang sama Sindi, paling nggak kamu sekarang masih menangisi kepergian anak kita. Kamu sekarang ... Malah berniat menggodaku."
Sisil mengigit bibir bawahnya. Rencananya terendus. Dia memang berniat ingin menghabiskan malam dengan suaminya supaya bisa cepat hamil, sayangnya ....
"Sebelum meninggal, apa Sindi nggak mengatakan apapun?" tanya Andi.
Sisil menelan salivanya susah payah. "Nggak ada, Mas. Kami berdua tidur dan aku bangun setelah mendengar kamu teriak."
Andi menghela napas. "Aku akan tidur di sini, kamu kembali ke ranjang kita saja."
"Mas, kamu jangan terlalu sedih. Aku ... Bagaimana kalau kita membuat pengalihan rasa sedih dengan bercumbu mesra. Aku ... Aku nggak bisa liat kamu sedih seperti ini, Mas. Aku akan memuaskanmu."
Andi menatap tajam Sisil. Pria itu tau niat baik istrinya, tetapi dia merasa tidak berminat, melakukan apapun selain rebahan di kasur anaknya.
"Kembali ke ranjang kita, Sil," ucapnya. Setelahnya berbaring dan memunggungi istrinya itu.
***
Nanda bangun. Dia memimpikan Sindi tengah mengelus perutnya. Wanita itu langsung memegang perut ratanya.
Kruyuk!
Nanda tersenyum saat mendengar bunyi perutnya. Ternyata Sindi membangunkannya karena dirinya lapar dan harus makan.
"Makasih Sindi sayang."
Nanda duduk. Dia menoleh ke arah Rudi yang tidur terlentang. "Dasar menyebalkan," ucapnya pelan, setelahnya turun dari ranjang. Nanda berjalan ke pintu, memutuskan ke dapur untuk makan. Tadi, memang dia belum kenyang makan malam, tetapi karena Rudi menceritakan ide gila, napsu makannya hilang seketika.
Nanda membuka tudung di atas meja. Dia duduk di kursi dan mulai makan. Sambil makan, wanita itu mengingat-ingat mimpinya dengan Sindi. Senyumnya merekah. "Kamu tenang di alam sana ya anak cantik. Tante akan jaga papamu dengan baik."
__ADS_1