Buah Dari Perselingkuhan

Buah Dari Perselingkuhan
Bab 16


__ADS_3

Taksi yang Nanda tumpangi sudah berhenti didepan rumahnya. Namun, wanita itu enggan turun. Dia memikirkan apakah Sisil masih ada di dalam sana? dan entah mengapa dia tidak sanggup bertemu dengan suaminya karena merasa bersalah telah berselingkuh.


"Apa saat dia pertama kali selingkuh juga merasa seperti ini?" tanyanya pelan sembari menatap ke arah pintu rumahnya yang tertutup rapat. "Sepertinya nggak. Dia pasti menikmati dan saat itu pulang juga santai saja," jawabnya.


Saat melihat pintu rumah terbuka dan memunculkan Rudi, Nanda menatapnya sendu, mau gimanapun dia balas dendam, tetap dia merasa bersalah sudah melakukan penyatuan dengan pria lain, tetapi saat Sisil keluar dari dalam rumahnya dan langsung bergelayutan manja di lengan suaminya dan pria itu diam saja, hatinya sakit sekali. Segitu teganya perlakuan suaminya sampai membawa selingkuhan ke rumah, membebaskan wanita itu tinggal padahal belum sah. Benar-benar tidak menjaga perasaannya.


"Jalan, Pak," ucap Nanda pada Sopir Taksi.


***


"Sil, pulang sana, ini susah sore," ucap Rudi yang merasa risih Sisil berada di rumahnya. Wanita itu terus mengikutinya bahkan saat duduk pun bersandar padanya. Nanda, istrinya tidak pernah melakukan hal seperti ini.


"Aku belum mau pulang, masih mau sama kamu," ucap Sisil santai. Dia bermain ponsel. Kepalanya bersandar pada pundak Rudi. Posisi ini sangat nyaman.


"Aku mau cari Nanda."


"Ngapain dicari? Dia tau jalan pulang, lagian udah besar juga."


Rudi menghela napas. "Dia mungkin mau pulang, tapi liat kamu ada di rumah ini, dia jelas mengurungkan niatnya."


"Biar aja, itu bagus. Supaya dia sadar kalau aku akan menjadi orang ketiga diantara kalian." Sisil menarik diri. Dia menatap Rudi. "Aku akan memberimu anak, Mas."


"Aku ingin itu, tapi pernikahan kita harus atas izin Nanda."


Mata Sisil berbinar. "Deal!"


Rudi memijit pelipisnya. Dia menatap ke arah pagar, berharap istrinya berada di sana, sedang ingin berjalan masuk, sayangnya dari tadi dia hanya mendapati kekosongan.


'Kamu di mana, Sayang?' Rudi bertanya dalam hati.


***


Nanda yang tidak punya tujuan, memilih ke apartemen Megan. Sahabatnya itu menyambut hangat. Merasa senang karena tidak kesepian.


"Udah makan?" tanya Megan yang menaruh anaknya di box bayi.


"Udah."


Mereka berdua keluar dari kamar, menuju ruang tamu. Duduk di sofa bersisian.


"Kamu sakit?" tanya Megan.


Nanda menggeleng.

__ADS_1


"Kenapa pekan baju kayak gini?" Wanita itu menunjuk ke leher Nanda yang tertutup leher baju.


Nanda mengigit bibir bawahnya. Ini baju Andi, kaos panjang yang leher bajunya tinggi. Wanita itu meminjam karena untuk menutupi tanda merah hasil buatan suami Sisil itu. Bawahannya, dia meminjam celana jeans Sisil. Gaunnya dia tinggal, itu suruhan Andi.


"Pengen aja pakek yang kayak gini."


Megan mengangguk. "Kamu kelihatan lelah, habis ngapain?" tanya Megan.


Nanda menghela napas. Dia memang lelah sekali setelah melayani nafsu Andi yang tidak tanggung-tanggung itu. Sebenarnya dia menikmati karena dua bulan dianggurin Suaminya, tetapi setelah mendapat kesempatan menyalurkan hasrat, lawannya itu ternyata sangat perkasa, membuatnya kewalahan. Namun, jujur itu adalah pengalaman yang tidak akan terlupakan.


"Nanda, Rudi berulah lagi?" tanya Megan dengan raut wajah panik.


Nanda mengangguk. Dia lelah karena Andi, semakin lelah karena melihat kebersamaan suaminya dan Sisil yang sudah main terang-terangan.


"Dia kenapa?" tanya Megan tidak sabaran.


"Sisil di rumah, mereka ... Gitulah." Mata Nanda berkaca-kaca.


"Sialan! Terus kenapa kamu malah pergi? Harusnya kamu hajar si gatal itu."


Nanda menoleh, menatap Megan. "Mukul Sisil nggak akan memberi aku apapun, aku malah akan disalahkan sama keluarga mas Rudi."


"Setidaknya hatimu lega."


Megan diam. "Kamu udah selidiki Sisil?" tanyanya.


Nanda menatap ke arah lain. Dia menghela napas dan menggeleng. Dia tidak mau menceritakan tentang Andi dan apa yang terjadi dengan mereka berdua, menurutnya balas dendam yang sedang dia jalani itu jelas tidak masuk logika Megan. Sahabatnya itu takutnya akan merasa jijik padanya.


"Kamu sabar. Hadapi saja. Sekiranya kamu merasa sakit hati, ke kamar, nangis di kamar atau ke sini. Tempatku ini selalu terbuka buat kamu."


Nanda menatap Megan. Dia mengangguk dan tersenyum lebar. "Makasih Megan."


Megan mengangguk. "Tetap kuat buat balas perlakuan mereka. Selidiki Sisil supaya kamu punya bahan untuk menekan dia. Kalau nggak, sabar liat dia sama Rudi, cuekin Rudi, liat gimana reaksi suamimu. Kalau dia ngemis ke kamu, lanjutkan terus menghindarinya supaya pria itu gila. Biar kapok!"


"Kalau dia nggak ngemis?"


"Tinggalin. Masih banyak cowok baik di luar sana. Setidaknya cari tahu dulu kelemahan Sisil, Rudi dan keluarga suami kamu itu dan balas dendam kalau sekiranya sudah puas, tinggalin dan cari kebahagiaanmu."


Nanda mengangguk.


***


Andi sedang berhadapan dengan mesin cuci, pria itu sedang mencuci bajunya, baju istri dan anaknya, juga gaun milik Nanda.

__ADS_1


Pria itu menoleh, melihat Sindi yang tengah main boneka di lantai. Seketika dia mengingat Nanda yang memeluk Sindi sangat erat sebelum wanita itu pulang. Andi merasa kasihan dengan nasib malang yang selingkuhannya itu alami.


"Papa, mama ana?"


Andi menghela napas. Pria itu tersenyum paksa. "Mama kerja. Bentar lagi pulang. Sindi sabar, ya," ucapnya lembut dan anggukan anaknya itu membuat hatinya tercubit sakit. Sisil sudah keterlaluan. Lebih memilih menghabiskan waktu dengan selingkuhannya daripada dengan keluarganya.


Suara gilingan mesin cuci, berhenti. Andi segera mengepul cucian, setelahnya menaruh pakaian-pakaian itu ke mesin pengering. Namun, saat tangannya memegang gaun Nanda, seketika bayangan permainan panas dengan wanita itu terputar dibenaknya. Bagaimana 10 menit di permainan panas itu mereka sama-sama mencapai puncak bersama. Ronde kedua, Nanda yang masih memakai gaya women on top, dalam setengah jam bisa sampai puncak sebanyak tiga kali sedang dirinya satu kali. Ronde ketiga, Nanda pasrah berada di bawah kungkungannya. Setengah jam mereka lakukan sangat panas. Walaupun Nanda lelah, wanita itu tetap melayaninya dengan baik dan ronde keempat terjadi di dalam kamar mandi.


Andi mengerjap. Dia menggoyangkan kepalanya, mengusir bayangan panas yang membuat pusakanya memegang. Pria itu menghela napas. Menaruh gaun Nanda dalam pengering.


Membayangkan sesi bercintanya dengan Nanda, dirinya cukup malu karena tidak bisa menahan hasrat, terlebih merasa sangat candu dengan tubuh seksi juga ******* sensual yang keluar dari mulut wanita itu dan candu juga karena wanita itu mengimbangi permainannya. Ibaratnya, pelayanan Nanda itu sangat memuaskan. Dirinya puas.


"Papa."


Andi mengerjap. Dia mengusap mukanya. Kemudian menoleh pada Sindi. "Kenapa, Sayang?"


"Au inum."


Andi mengangguk.


***


Rudi baru bisa bernapas lega saat Sisil pulang dari rumahnya. Dia mengatakan besok pagi akan makan bersamanya di rumah Sukma lagi dan Sisil setuju, setelahnya langsung pulang.


Rudi belum mandi, belum menganti baju, dia duduk di sofa teras dan menatap ponselnya. Istrinya belum mau menerima telepon dan tidak juga membalas chat nya, membuatnya merasa sangat frustasi.


[Pulang, Sayang. Sisil sudah nggak ada di rumah. Maaf untuk kejadian ini.]


Pria itu mengirim chat seperti itu pada istrinya.


Tring!


Rudi tersenyum. Akhirnya istinya membalas chatnya juga.


[Aku nggak pulang sekarang. Aku menginap di tempat Megan.]


Jemarinya cepat mengetik.


[Pulang, ya. Mas jemput.]


[Biarkan aku menginap atau aku nggak akan pulang.]


Balasan itu membuat Rudi menelan saliva nya susah payah.

__ADS_1


__ADS_2