
"Mau ke mana?" tanya Rudi saat melihat Nanda beranjak dari kasur. Pria itu yang sudah berbaring, duduk dan menatap punggung istrinya yang sudah sampai depan pintu.
"Mau minum. Aku haus," jawab Nanda tanpa berbalik. Wanita itu memegang knop pintu.
"Mas ambilkan. Kamu di sini saja." Rudi turun dari ranjang dan berjalan ke arah istrinya. "Di sini aja, ya." Pria itu memindahkan tangan Nanda dari knop.
"Kenapa kalau aku ambil sendiri?" tanya Nanda sembari menatap Rudi.
"Mungkin saja ada yang belum tidur. Nanti mereka akan menyindir kamu. Mas nggak mau itu."
"Oh." Nanda hanya ber 'oh' ria saja.
Rudi mengangguk. Dia mengecup pipi istrinya, setelahnya ke luar kamar. Nanda yang disuruh tetap tinggal di kamar, memilih mengikuti diam-diam dari belakang.
Pria itu menuruni tangga dengan pelan. Langsung menuju ke dapur, tetapi saat dia akan masuk, seseorang keluar. Sisil.
"Mas." Sisil langsung mendekat dan memeluk Rudi. "Aku kangen," ucapnya mesra.
Rudi melepas pelukan Sisil. "Jangan lakukan ini, Sis, ada istriku di atas."
Sisil yang keras kepala kembali memeluk Rudi. "Dia sudah tau, harusnya itu memuluskan jalannya hubungan kita," ucapnya.
Rudi melepas pelukan. "Aku nggak mau main-main lagi dengan kamu. Kita sudahi saja." Pria itu berjalan melewati Sisil,masuk ke area dapur.
Sisil berbalik. Dia yang mau menyusul Rudi mengurungkan niatnya saat mendengar langkah kaki di belakangnya.
"Udah ditolak, loh, masih mau ngejar aja. Urat malunya udah putus ya?"
Sisil berbalik dan menatap nyalang pada Nanda yang berdiri tegak, melipat tangan di depan dada dan menatapnya remeh.
"Kamu--"
"Ya aku. Istri mantan selingkuhan kamu."
"Kami bukan mantan, kami masih berhubungan. Selamanya akan seperti itu."
Nanda tersenyum miring. "Suamiku kelihatannya sudah bosan denganmu."
"Nggak! Dia nggak bosan. Kami hanya sedang sedikit berjarak dan itu karena kamu. Nanti, aku pastikan kami akan dekat lagi dan kamu akan menangis melihat sedekat apa kami."
__ADS_1
Nanda mengangguk. "Kalau kalian dekat, kabari aku, saat itu juga aku akan dekat dengan orang terdekatmu dan melakukan apa yang kalian lakukan. Aku akan membalas perbuatanmu dengan menjadi seperti dirimu."
Nanda berbalik dan berjalan ke arah tangga, berjalan menaiki, menuju kamar.
Sisil mengerjap beberapa kali, setelahnya mendecih. "Aku akan mengambil milikku," ucapnya sembari menatap kesal ke arah tempat perginya Nanda.
**
Rudi masuk kamar dan mendapati Nanda sudah tidur. Padahal wanita itu hanya pura-pura tidur karena menahan kesedihan menyadari kalau selingkuhan suaminya itu begitu keras kepala. Bagaimana pelakor setidak malu itu? Melawan istri sah tanpa rasa takut. Ah! Itu karena Sisil mendapat dukungan keluarga Rudi.
Rudi menaruh gelas di atas nakas, setelahnya pria itu duduk di tepi ranjang, menatap sayang ke wajah istri tercintanya. "Maafin mas ya, Sayang. Mas akan terus berusaha untuk menjaga kepercayaan kamu mulai sekarang. Tolong maafkan mas dan kita kembali seperti dulu. Mas merindukan bermesraan dengan kamu."
Mendengar penuturan itu, Nanda merasa tersentuh dan sedikit iba. Namun, tidak membuat wanita itu membuka matanya.
***
Andi membuat nasi goreng sambil sesekali melihat ke arah Sindi yang duduk di lantai dengan banyak mainan di depannya. Setelah selesai, dia membawa ke meja makan dan mulai makan berdua dengan anaknya.
Sambil makan, Andi mencoba menelepon Sisil, tetapi ponsel wanita yang entah di mana itu lagi-lagi tidak aktif. Istrinya itu bebar-benar sangat mencurigakan.
"Awas saja kalau kamu main belakang sama aku, Sil. Selama ini aku diam karena sayang sama kamu, tapi kalau kamu menghianati kepercayaanku, kamu akan tau akibatnya," ucap pria itu.
Andi dan Sisil menikah 3 tahun lalu. Saat itu Andi tidak sengaja hampir menabrak Sisil yang menyeberang jalan sembarangan. Pria itu yang baik hati meminta maaf. Di situlah awal mula hubungan mereka. Kedekatan menumbuhkan cinta dan memutuskan untuk menikah. Andi sangat mencintai Sisil hingga memperlakukannya seperti seorang ratu.
Andi menatap anaknya yang memanggil mamanya. Pria itu tersenyum manis. "Sama papa dulu, ya. Nanti kalau mama pulang, Sindi sama mama."
Sindi yang sudah mengerti bahasa, mengangguk dan kembali melahap masakan lezat yang Papanya buatkan.
***
Rudi dan Nanda pulang setelah sarapan bersama. Sampai di rumahnya, Rudi langsung berganti pakaian karena akan berangkat ke kantor, sedang Nanda duduk di sofa, berbalasan pesan dengan Megan. Wanita itu menceritakan keadaan di rumah mertuanya dan sahabatnya semakin membenci Sisil.
[Kembali ke rumah mertuamu. Pantau si gatal. Ikutin supaya dapat infomasi.]
Nanda mengangguk. Suka dengan ide sahabatnya itu. Kalimat tantangan yang dia ucapkan pada Sisil semalam juga mengharuskannya mengetahui kehidupan wanita itu supaya bisa mengambil orang terdekatnya.
"Sayang."
Panggilan Rudi membuat Nanda mendongak. Dia melihat suaminya yang sudah rapi dan tampan. Namun, pria itu belum memakai dasi.
__ADS_1
Nanda berdiri, menghampiri suaminya yang berada di anak tangga pertama dari bawah. Menadahkan tangan untuk meminta dasi yang suaminya pegang.
Rudi tersenyum. Dengan senang hati menyerahkan dasi itu. Nanda langsung melakukan tugasnya dengan baik. Membuat simpul dasi yang rapi dan mendapat kecupan terima kasih dari suaminya.
"Mau ikut mas ke kantor?" tanya Rudi.
Nanda menggeleng. "Aku di rumah saja. Mau tidur."
Rudi mengangguk. Dia memajukan diri untuk mengecup kening Nanda lagi, tetapi wanita itu berjinjit hingga mempertemukan bibir keduanya.
Hati Rudi sangat bahagia. Pria itu langsung merangkul pinggang Nanda dan tangan lainnya menekan tengkuk istrinya itu. Dia tidak menyia-nyiakan kesempatan. Langsung ******* penuh semangat bibir manis istrinya.
Nanda mendorong dada Rudi, membuat pria itu mundur selangkah hingga ciuman mereka berakhir.
"Mas harus kerja," ucap Nanda sambil mengatur napasnya.
Rudi tersenyum. Pria itu menggeleng. Maju dan kembali menyerang bibir istrinya. Ciuman itu semakin menuntut. Rudi membawa tubuh Nanda ke sofa. Mereka menjatuhkan diri dengan tubuh Rudi di bagian bawah.
Nanda menarik kepalanya. "Mas harus kerja."
"Kamu yang mancing, Sayang." Muka Rudi merah. Gairahnya sudah bangkit.
Nanda tersenyum. "Aku hanya ngasih semangat pagi."
"Mas sangat bersemangat untuk membanting kamu ke kasur."
Nanda tertawa pelan.
"Sayang, mas ingin."
Nanda mengecup bibir Rudi. "Perlahan ya, Mas. Aku baru bisa melakukan sebatas ini sama kamu. Aku takut saat kita bermain lebih, kamu akan menyebut nama wanita lain karena kamu bermain dengan dua wanita." Perlahan wanita itu pindah dari atas tubuh Rudi.
Rudi duduk. "Mas nggak akan salah sebut, Sayang. Sekarang hanya kamu." Dia menatap memelas pada istrinya.
Nanda tersenyum. "Mas nggak ada meeting?" tanyanya.
Rudi menggeleng.
"Beneran?"
__ADS_1
Rudi mengangguk.
Nanda tersenyum. Dia mengulurkan tangannya pada Rudi. Suaminya yang mengerti langsung menyambut dan tersenyum lebar.