Buah Dari Perselingkuhan

Buah Dari Perselingkuhan
Bab 18


__ADS_3

Nanda, Andi dan Sindi sarapan bersama di rumah Andi. Mereka bertiga makan dengan lahap nasi goreng buatan Andi.


Sesuai kesepakatan, mereka akan apa yang Sisil dan Rudi lakukan. Dua orang itu sarapan bersama, Nanda dan Andi juga melakukannya, bedanya mereka bertiga, tetapi Sisil bersama keluarga besar Jaelani.


Andi tersenyum manis saat melihat Nanda menyuap Sindi dengan telaten. Hal yang sudah lama sekali tidak istrinya lakukan pada anaknya. Semenjak Sindi bisa makan sendiri, saat itu juga anaknya itu mandiri. Andi sebenarnya tadi sudah melarang Nanda, tetapi wanita itu meminta izin supaya bisa merasakan rasanya menjadi seorang ibu.


"Kamu makan juga, Nda," ucap Andi.


Nanda mengangguk. Namun, tidak menurut, dia masih sibuk menyuap Sindi sembari menatap penuh sayang gadis kecil yang mengemaskan itu. "Aku salah apa ya, Mas, sampe harus mendapat takdir yang menyedihkan begini. Kalau aku nggak mandul, pasti aku sekarang sedang menyuap anakku."


Andi menelan kunyahannya. Pria itu minum dan menatap Nanda dalam diam. Dia tidak tahu harus merespon apa ucapan wanita itu.


Nanda menoleh, menatap Andi. Wanita itu tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. "Jangan natap aku kasian kayak gitu. Aku nggak papa, kok." Air mata wanita itu mengalir dan segera disekanya. "Waktu itu aku sedih karena mandul. Duniaku benar-benar runtuh saat diduakan karena nggak bisa hamil, tapi setelah selingkuh denganmu aku merasa senang bisa menjadi seorang ibu."


Andi mengangguk.


Nanda kembali menatap Sindi dan kembali menyuap. "Makan yang banyak, biar cepat besar."


Sindi yang polos itu mengangguk. Dia menerima suapan Nanda sampai isi piringnya habis, tidak tersisa.


"Kenyang?" tanya Nanda.


"Iya, Ante."


Nanda tersenyum. Dia mengusap puncak kepala Nanda, membantu minum, setelahnya mengambil tisu untuk mengelap mulut anak itu. Nanda menghela napas. Dia mengecup pipi gembil Sindi. Kemudian tersenyum lebar. "Aku pengen anak ya Tuhan," ucapnya lirih.


Andi diam, tetapi hatinya meras sangat iba. "Selama kamu bersamaku, Sindi anakmu juga. Kamu bisa memperlakukan dia sebagai anak kandungmu."


Nanda menoleh. "Aku akan melakukan itu. Makasih batas kesempatan ini."


Andi mengangguk.


Nanda tiba-tiba cemberut. "Aku bilang jangan kasian sama aku. Natalnya biasa aja jangan kayak gitu. Aku nggak mau dikasihani."


Pria itu menggeleng. "Aku nggak kasian sama kamu."


Nanda mengangguk. "Bagus."


"Sekarang kamu makan. Aku mau ambil tas kerja dulu di kamar."


Nanda mengangguk. Kali ini wanita itu patuh dan memulai sarapannya. Saat melahap nasi goreng, cita rasa yang enak karena bumbunya yang pas, membuatnya menaruh masakan buatan Andi ini kederatan nomer satu masakan favoritnya.

__ADS_1


"Papa Sindi pinter masak. Nanti Sindi harus kayak papa, ya," ucap Nanda.


Sindi yang bermain boneka Barbie itu mengangguk tanpa menatap Nanda.


Andi kembali. Dia duduk lagi di kursi depan Nanda. "Habis ini kamu mau pulang?" tanyanya.


"Kayaknya. Mas kerja di mana, terus Sindi gimana?" Nanda bertanya sembari menusuk udang goreng pakai garpu dan langsung melahapnya. Selain nasi goreng, ada ayam goreng, udang goreng dan lalapan ketimun.


"Karena kami berdua kerja, Sindi aku titipkan sama ibuku. Rumahnya nggak jauh dari sini."


Nanda mengangguk. "Mas kerja apa?"


"Manager cafe. Sisil membuka usaha salon kecantikan."


"Enak ya Sisil, bisa kerja. Aku nggak. Mas Rudi nggak izinin. Dia bilang aku di rumah saja, takut aku dilirik pria lain, eh taunya dia ngelirik wanita lain." Nanda kembali menusuk udang goreng dan memakannya.


"Jadi, rencana kamu apa?" tanya Andi.


"Kita harus membuat mereka sadar kalau kita selingkuh. Maksudku, mas Rudi mulai curiga aku selingkuh dan Sisil curiga Mas Andi selingkuh."


"Berarti kita harus cuek."


"Nanda mengangguk. Main ponsel terus," sarannya.


"Melakukan hal sendiri, mandiri tanpa mau mereka bantu."


"Kalau dengan cara begitu mereka belum curiga?" tanya Andi.


"Kita buat seolah-olah kita terciduk. Dia dengar kita telponan, atau pergokin kita pas jalan atau makan bareng, atau bekas lipstik di kemejamu, itu yang aku temukan di kemeja mas Rudi, bekas lipstik Sisil."


Andi diam. Dadanya sesak saat memikirkan ulah istrinya itu. Menyakiti hati wanita lain dan membuatnya puasa dua bulan hanya dan memilih melayani selingkuhannya. Sungguh keterlaluan.


"Mas," panggil Nanda.


"Ya." Andi mengerjap.


"Aku udah selesai sarapan. Berangkat ayo."


Andi mengangguk.


***

__ADS_1


Adanya Sisil di momen sarapan pagi keluarga Jaelani, membuat Danu dan Radit memilih sarapan di kantin kantor. Jadi, hanya tersisa Jaelani, Sukma, Rika, Sani, Sisil dan Rudi. Anak-anak Sani dan Rika diurus baby sister.


"Makan yang banyak, Sil. Kamu harus kuat pertahankan hubungan dengan Rudi sampai kalian menikah," ucap Rika yang melihat Sisil mengambil nasi.


"Iya, Mbak." Pipi Sisil merona dengan jantung yang berdegub kencang, merasa senang karena mendapat dukungan. Hal itu juga yang dia mau.


"Rud, kapan kamu akan menikahi Sisil?" tanya Sukma. "Anak orang jangan digantung lama-lama. Kasian. Ibu sudah pengen cucu dari kamu, loh," sambungnya.


Rudi berhenti makan. Pria itu menatap Sukma, setelahnya anggota yang lainnya. Kemudian menatap Sisil yang tersenyum manis membalas tatapannya.


"Mas Rudi bilang asal Nanda mengizinkan, dia akan menikahi aku." Wanita itu berucap dengan bangga. Senyumnya merekah indah, setelahnya menatap Rudi lagi dan mengedipkan sebelah matanya.


"Benar begitu, Rud?" tanya Rika dengan mata berbinar. Raut senang itu ditunjukan Sukma dan Sani, sedang Jaelani hanya sebagai pendengar setia. Tetap makan sembari menajamkan telinga.


Rudi menghela napas. Berat rasanya mengangguk, tetapi dia lakukan karena tergiur dengan tawaran Sisil yang akan membuatnya memiliki anak.


"Wah, ini berita bagus," ucap Rika.


"Kamu sudah yakin, Rud?"


Pertanyaan Jaelani menarik perhatian semuanya termasuk Rudi.


Pria tua itu menghela napas. "Kamu yakin akan beristri dua? Yakin bisa adil? Yakin dengan yang ini akan punya anak?"


Dua pertanyaan awal Rudi merasa yakin, tetapi pertanyaan terakhir itu membuatnya dilema. Mandul, apakah bisa memiliki anak jika main dengan wanita lain? Seketika ucapan meyakinkan Sisil membuatnya semakin dilema. 


***


Nanda pulang ke rumahnya, langsung ke kamar dan berbaring di kasur. Dia merasakan kesepian yang menyedihkan berbeda saat dia bersama Andi dan Sindi. Andai dia tidak mandul pasti nasib rumah tangganya tidak akan begini. Dirinya dan Rudi akan bahagia bersama anak-anak mereka. Dirinya tidak akan berselingkuh dan main dengan pria lain, juga keluarga suaminya jelas akan menyayanginya.


Tring!


Nanda mengambil ponselnya dalam tas selempang. Melihat chat yang ternyata dari Rudi.


[Sayang, kamu sudah di rumah?]


[Ya.]


Nanda sengaja membalas. Ingin tahu reaksi suaminya.


[Maaf, mas berangkat kerjanya cepat. Harus menyiapkan rapat.]

__ADS_1


Nanda tersenyum getir. Segitu cintanya dengan selingkuhan, suaminya itu sampai berbohong padanya.


[Selamat bekerja, Mas. Semoga segala urusannya dilancarkan.] balasnya, setelahnya ponsel itu ditaruh di atas nakas. Dia memejamkan mata sembari mengigit bibir bawahnya. Hatinya sakit sekali.


__ADS_2