
Nanda mengedarkan tatapan pada kamar Sisil dan Andi. Menurutnya cukup rapi. Nuansa pink membuat mood baik, furniture yang bermerek. Namun, wanita itu tertarik pada ruangan kaca dalam kamar itu, dibagikan pojok, di dalamnya ada ranjang dan beberapa kota yang berisi mainan.
"Anak kalian sekamar dengan kalian?" tanya Nanda tanpa menatap Andi yang berdiri di belakangnya. Wanita itu fokus pada gadis kecil yang tidur memeluk guling di ranjang, dalam ruang kaca.
"Ya."
Nanda mengangguk. Menurutnya tidur sekamar dengan anak itu sangat menyenangkan. Wanita itu berjalan mendekati. Menatap penuh kasih dan berpikir kapan dia akan menjadi seorang ibu. Nantinya, dia jelas akan melakukan hal yang sama seperti Andi dan Sisil, sekamar dengan anaknya sampai anak itu berumur mantap untuk memiliki kamar sendiri.
"Biasanya anak akan tidur sekasur dengan orang tuanya. Kenapa kalian terpisah?" tanya Nanda sembari berbalik.
Andi yang merasa sangat canggung itu menghela napas. Bagaimana tidak canggung, di dalam kamarnya ada wanita cantik, tetapi bukan istrinya, dan lebih canggung saat dirinya yang membawa.
"Sisil yang punya saran itu. Kami, beberapa kali gagal memadu kasih karena gerakan kami membangunkan Sindi."
"Oh." Nanda berbalik. Dia merasa pipinya memanas. Inti ucapan Andi adalah permainan **** Sisil dan Andi itu penuh semangat. Itu sungguh berbeda dengan permainannya dengan Rudi yang memilih perlahan tetapi penuh kenikmatan. Seketika dia berpikir, apa permainannya dengan Andi nanti akan memuaskan? Secara mereka punya cara **** yang berbeda.
"Dia tidur dari tadi?" tanya Nanda.
"Hm."
Nanda kembali berbalik, menatap Andi yang posisinya tiga langkah darinya. "Berarti dia akan segera bangun. Permainan kita--"
"Jika dia bangun, dia akan tetap di dalam sana dan bermain dengan mainannya. Sindi tipikal anak yang nggak rewel."
Nanda berbalik lagi. "Kalau dia bangun, dia akan melihat kita melakukan itu dan jelas itu tidak baik buat dia."
"Ruangan itu memiliki tirai yang mengelilingi." Andi maju, memencet tombol yang ada di samping knop pintu kaca, setelahnya mundur selangkah. Tidak lama dinding kaca itu dikelilingi gorden bunga-bunga berwarna-warni.
Nanda menatap kagum. Dia mengacungkan jempol untuk pemikiran Andi dan Sisil yang bisa sekamar dengan anaknya, tanpa pusing memikirkan kenyamanan tidur anaknya saat mereka sedang berhasrat. Nanti, jika dia memiliki anak ... Nanda langsung tersenyum miring dengan pemikiran bodohnya. Bagaimana bisa orang mandul memiliki anak?
Tring!
Ponselnya dalam tas selempang, berbunyi. Wanita itu langsung mengambil dan melihat chat masuk dari nomor Sisil yang diberi nama 'Sampah.'
Sisil mengirim foto dirinya yang tersenyum lebar, badan ditutupi selimut sebatas dadanya dan rambut yang acak-acakan. Yang bikin Nanda sakit hati adalah itu selimut di kamarnya, selimutnya, kenapa suaminya ... Nanda tidak bisa berkata-kata. Air mata wanita itu mengalir. Suaminya sungguh keterlaluan.
'Aku akan membalas kalian. Kamu berulah di kamarku, aku berulah di kamarmu!' Nanda membatin.
"Siapa?" tanya Andi.
__ADS_1
Nanda menatap pria itu. Dia menggeleng, setelahnya tersenyum. Menaruh ponselnya, menyeka air matanya dan menghela napas berat. "Ayo mulai." wanita itu berjalan ke ranjang, duduk di tepinya.
"Itu dari Sisil?" tanya Andi.
"Ya."
Andi tidak bergerak. Dia menatap Nanda dengan tatapan bingung. Perasaannya nano-nano. Haruskah dia melakukan hubungan badan dengan istri orang demi balas dendam pada istrinya?
Nanda tersenyum. Dia mengacungkan jempol untuk hati Andi yang sangat baik itu. Pria itu jelas memikirkan berkali-kali harus melakukan hal ini atau tidak walaupun mereka telah sepakat. Wanita itu berdiri, misi balas dendamnya tidak boleh gagal. Kalau pria itu tidak mau memulai, biar dirinya yang memulai permainan ini.
Tubuh Andi menegang saat melihat Nanda berjalan mendekatinya. Tubuhnya terasa lemas ketika wanita itu berhenti di depannya. Jarak mereka sangatlah dekat. Dia menunduk untuk beradu tatap dengan Nanda yang lebih pendek darinya.
"Nan--"
Jantung Andi rasanya berhenti berdetak saat Nanda mengalungkan tangan di lehernya. Wanita itu berjinjit dan menempelkan bibir mereka. Gerakan itu begitu halus, tetapi cepat, membuatnya tidak bisa mengantisipasi dengan menghindar sebagai penolakan. Jujur, dia belum bisa memutuskan harus membalas dendam dengan membalas kelakuan atau tidak.
Jantung Andi berdegub lagi dengan irama yang tidak biasa, sangat kencang, saat Nanda menjauhkan wajahnya sedikit, beradu tatap dengannya.
Nanda tersenyum, dari jarak sedekat ini dia bisa memastikan Andi itu sangat tampan. Wajahnya juga mulus dan aroma tubuhnya menenangkan.
"Nanda."
"Apa kita harus lakukan ini?"
Nanda mengangguk. "Mereka melakukan di kamarku. Istrimu baru saja mengirim fotonya yang terlihat berantakan dengan wajah lelah." Wanita itu berucap dengan suara yang tercekat. Dia benar-benar kecewa dengan Rudi.
Tidak ada reaksi dari Andi, Nanda benar-benar harus menjadi dominan dari permainan ini. Wanita itu menatap bibir tipis Andi. Menjulurkan lidahnya dan menjilati bibir merah alami itu, setelahnya menyatukan bibir mereka lagi.
Permainan Nanda itu membuat Andi memejamkan matanya. Hal sederhana itu menarik gairahnya untuk bangkit.
Nanda membuka bibirnya perlahan. Mengigit bibir bawah Andi, menarik dan menyesap. Dia juga melakukan hal yang sama pada bibir atas pria itu. Elusan lembut di tengkuk Andi membuat permainan Nanda terasa sangat sensual dan sukses menghancurkan pertahanan Andi. Pria itu memeluk pinggang Nanda dan mengambil alih permainan bibir. Andi begitu menggebu-gebu sampai Nanda kewalahan mengimbangi. Ini hasrat dua bulan tidak mendapat jatah dari istrinya.
Andi meremas pinggang Nanda, kode kalau dia sudah bergairah. Sedang Nanda memukul-mukul dada partnernya itu untuk meminta waktu bernapas.
"Hah!" Nanda langsung memanfaatkan menghirup udara sebanyak-banyaknya setelah Andi dengan baik hatinya melepas ciuman mereka.
"Kamu--" ucapan Nanda yang mau protes, berhenti saat dia beradu tatap dengan mata sayu Andi. Sorot mata pria itu penuh gairah dan entah kenapa Nanda merasa terpesona. Banyak sekali rasanya kupu-kupu beterbangan di dalam perutnya.
Andi menarik pinggang Nanda, membuat tubuh bawahnya itu menempel dan Nanda merasa bagian tengah pria itu sudah bereaksi. Sangat cepat? Hanya dengan berciuman? Benarkah dirinya sebaik ini melayani seseorang? Rudi, pria itu ... Nanda memejamkan mata dan menggeleng pelan, dia tidak mau memikirkan suaminya disaat dia balas dendam begini.
__ADS_1
"Aku menginginkanmu."
Nanda membuka mata, dia beradu tatap lagi dengan Andi. Wanita itu mengangguk, setuju dengan ucapan pria itu.
Andi menatap bibir Nanda yang membengkak akibat ulahnya. Bibir itu terlihat lebih merah, gemuk dan mengairahkan. Dia memajukan wajahnya untuk mengecup benda kenyal itu. Mengecup lagi, sampai beberapa kali, setelahnya menatap Nanda. "Aku suka bibirmu?" ucapnya.
Nanda tersenyum manis. Dia masih merasa canggung, tetapi demi balas dendam, dia harus membiasakan diri dan menyamankan diri supaya bisa menikmati aksi-aksi balas dendamnya.
"Aku suka ciumanmu. Ekstrim. Kamu hampir membuatku mati kehabisan napas."
Andi tersenyum dan senyuman itu menurut Nanda sangat manis. Dia menyayangkan Sisil memilih selingkuh padahal suaminya sangat sempurna seperti ini.
"Dipermainkan kita ini, mungkin aku tidak sebaik suamimu, tapi tolong nikmati saja."
Nanda mengigit bibir bawahnya. "Begitu juga dengan aku." wanita itu menjeda. "Aku mungkin tidak sebaik istrimu dalam melayanimu, tapi ayo kita saling bekerjasama agar bisa menikmati."
"Katanya kita sentuhanku membuatmu tidak nyaman. Aku, sudah tidak bisa menghentikan ini."
Nanda mengangguk. "Lakukan apapun yang mau kamu lakukan, tapi tolong jangan menganggap aku istrimu dan jangan menyebut nama istrimu saat kamu mencapai puncaknya. Aku Nanda, kalau mau, kamu boleh menyebut nama itu."
Andi menatap penuh minat pada Nanda. Wanita itu kalau dilihat dari jarak dekat sangat sempurna. Dia juga banyak bicara, membuat momen ini lebih hidup. "Aku Andi. Mas Andi. Sebut itu saat kamu sampai puncak kenikmatan."
Nanda mengangguk, tanda mereka sepakat.
Nanda dan Andi saling tatap. Entah siapa yang lebih dulu, dua orang itu kembali berciuman. Kali ini tidak terburu-buru dan mereka berdua benar-benar bekerja untuk bisa menikmati adegan panas mereka.
***
Rudi mondar-mandir di teras rumah. Dia menelepon Nanda, tetapi nomer istrinya tidak aktif. Dia cemas. Pikiran negatif menumpuk di otaknya.
"Biar aja dia pergi, Mas. Ada aku," ucap Sisil yang duduk tenang di sofa.
"Sil, pulanglah."
Sisil mendengkus. Dia kesal dengan Rudi. Pria itu membuat moodnya buruk. "Kamu ngusir aku berapa kalipun, aku akan pergi kalau aku mau. Kamu sudah mengecewakan aku dengan tidak melanjutkan adegan intim kita, sekarang aku akan membalasmu dengan nggak akan pergi dari sisimu hari ini."
Rudi memijit pelipisnya. Dia berjalan masuk meninggalkan Sisil yang tersenyum manis karena selalu bisa membuatnya kalah dalam berdebat.
"Siapa suruh hancurin gairahku yang udah di ubun-ubun," ucap Sisil dengan bangga.
__ADS_1