Buah Dari Perselingkuhan

Buah Dari Perselingkuhan
Bab 12


__ADS_3

Melihat ada Rudi dan Sisil di meja makan, Radit berhenti tiga langkah dari perkumpulan itu. Pria itu mendengus, setelahnya berbalik. Namun, saat mau melangkah pergi, Rika menegurnya.


"Mas, mau ke mana? Ayo sarapan bersama," ucap Rika yang sudah stay duduk di samping Sisil.


Radit berbalik. "Nanda mana?" tanyanya.


"Dia nggak mau ikut, Mas," ucap Rudi.


"Nggak mau ikut atau kamu nggak ajak?"


"Nggak mau ikut. Aku sudah ajak." Rudi membela diri.


"Kalau aku jadi Nanda, sudah aku tinggalkan kamu. Rud. Jadi suami kok keterlaluan sekali."


Ucapan itu membuat semua yang ada di meja makan kaget. Tatapan Radit begitu tajam pada Rudi.


"Suami nggak punya pendirian, nggak punya belas kasian. Istri mandul bukannya lebih disayang, malah diduakan. Kamu kira mandul itu pilihan?" tanya Radit sembari membentak. Dia sudah lama memendam kekesalan pada adiknya, pada yang lainnya juga yang mendukung perselingkuhan itu. "Coba, coba kalian kalau mau melakukan sesuatu, kalian pikirkan dulu kalah seandainya kalianlah yang ada di posisi itu. Siapa yang mau mandul? Aku yakin Nanda juga nggak mau, tapi takdir memberinya itu."


Rudi menunduk. Dia tersindir sekaligus merasa bersalah.


"Mas, kamu kenapa, sih?" tanya Rika dengan jutek.


Radit menatap Rika. "Kamu wanita, Nanda wanita, kamu nggak bisa sedikit saja tebak perasaan dia? Bagaimana bisa kamu mendukung kesalahan ini, Rika? Kamu, apa aku harus kasih tahu kamu rasanya diselingkuhin suami, hm?"


Mata Rika membulat. "Mas!" Dia membentak sembari berdiri. Ucapan suaminya itu mengerikan.


Radit menghela napas. "Aku berharap Nanda kuat dan membalas kalian semua. Dia itu anak yang sudah nggak punya siapa-siapa. Tempat bergantungnya suaminya dan kita sebagai keluarganya, tapi kalian malah melakukan ini padanya."


Radit melihat Sisil yang menunduk. Dia melihat tubuh wanita itu sedikit bergetar. "Kamu juga Sisil. Kamu itu wanita, Nanda wanita, nggak bisakah kamu sedikit memahami hatinya, penderitaan yang dia alami dan rasa sakit hatinya dikhianati?"


Radit menatap Rudi yang juga menunduk. "Kamu Rudi, Nanda hanya nggak bisa hamil, selain itu dia sempurna. Nggak bisakah berbaik hati dengan bertahan sama dia? Kalian bisa adopsi anak, atau memakai cara lain, tapi bukan berselingkuh. Andai sudah tidak menginginkan, ceraikan. Jangan sakiti anaknya orang."


"Aku nggak akan ceraikan Nanda. Aku nggak akan nikahin Sisil. Aku tau aku salah dan aku sekarang sedang mencoba memperbaiki semuanya."


"Perbaiki dengan cara sarapan bersama tanpa istrimu, tetapi dengan selingkuhanmu?"


Rudi menggeleng. "Mas, aku tadinya nggak mau datang, tapi nggak enak nolak ajakan Ibu." Rusia menatap Radit.


Radit menghela napas. "Itulah kamu. Terlalu berbakti, akhirnya diikat lehermu dan kamu dikendalikan."


"Radit!" Teriakan Sukma menggelegar. Wanita yang paling tua di ruangan itu menatap tajam Anak keduanya.


"Bu, yang Radit bilang benar."


Ucapan Danu, anak pertama keluarga ini, menarik perhatian. Pria gagah itu tersenyum. "Ibu terlalu mengatur Rian."


"Nggak! Ibu nggak ngatur, ibu hanya melakukan yang terbaik buat Rian. Dia butuh keturunan supaya bisa bahagia. Dia butuh wanita yang nggak mandul."


"Itu Sisil, kah? Kalau iya, apa dia bisa dipastikan nggak mandul juga? Apa setelah menikah, bulan berikutnya Sisil akan hamil langsung, hingga mematahkan perkiraan dia mandul?" tanya Danu. Pria itu selama ini diam juga karena malas ribut, tetapi  karena merasa sudah keterlaluan, dia angkat suara.

__ADS_1


"Aku sehat. Setelah kami menikah, jelas aku bisa langsung hamil," ucap Sisil tidak tahu malu.


Rudi mengepalkan tangan. Dia menatap Sisil tajam. Wanita itu jelas tahu permasalahan pada dirinya, tetapi dengan bodohnya mengatakan hal itu. Bagaimana bisa mereka menikah dan setelahnya punya anak? Dirinya tidak bisa.


Sisil sudah terlalu jauh masuk ke dalam hidupnya. Awalnya mereka bertemu dan memutuskan untuk dekat sebagai pelampiasan nafsu. Saat mereka jalan-jalan, ketemu dengan Rika, sejak saat itu keluarganya semua tahu dan mendukung. Bahkan hubungan mereka kini sudah sampai tahap dijodohkan.


Rudi menggeleng. Menikahi Sisil tidak akan membuatnya punya anak juga. Karena yang bermasalah itu dirinya, bukan Nanda.


"Aku nggak akan menikahi Sisil." Rudi berdiri dan melangkah pergi.


Sisil berdiri, dia segera mengejar Rudi. Mencekal tangan pria itu agar berhenti. Dia langsung berdiri di depannya.


"Apa maksudmu nggak akan menikahiku, Mas? Kita saling cinta."


Rudi memijit pelipisnya. "Pernikahan kita itu bukan karena kita saling cinta saja, tapi keluargaku butuh keturunan dari aku. Kamu tau aku nggak bisa, kan?" Rudi merasa kepalanya mau pecah. Dia menyalakan api dengan berselingkuh, dan sekarang terbakar karena selingkuhannya menuntut lebih. Dirinya sangat mencintai Nanda dan tidak berpikir untuk menduakan, Sisil hanya pelampiasan kekesalan sesaat saja.


"Mas, kita akan punya anak. Mungkin bersamaku, Mas akan sehat dan kita akan punya anak."


Rudi menggeleng. Dia merasa pemikiran Sisil itu konyol. Pria itu berjalan melewati selingkuhannya.


"Mas!"


Langkah Rudi berhenti. Dia berbalik. Mereka berdua tengah berada di teras rumah. "Apa lagi, Sil. Aku nggak cinta sama kamu. Aku hanya jadiin kamu pelampiasan nafsu saat aku nggak bisa main sama istriku."


Sisil terdiam. Ucapan itu cukup menghancurkan harinya, tetapi tekatnya susah bulat untuk mendapatkan cinta pertamanya. "Menikah sama aku, atau aku bongkar semuanya."


***


Ting-tung!


Nanda memencet bel rumah Andi. Tidak lama pria itu keluar dari rumah dan membukakan pagar untuknya.


"Masuk," ajak Andi dengan wajah yang datar.


Nanda mengangguk dan mengikuti Andi dari belakang. Mereka duduk berdua di sofa. Saling berhadapan. Nanda sedikit merasa tidak nyaman karena aura Andi sangat mencekam, apalagi pria itu menatapnya tajam.


"Kamu panggil aku--"


"Aku terima tawaranmu. Ayo selingkuh."


Mata Nanda membulat. Dia tidak percaya. Dia kira Andi akan menolak seperti  saat dia tawarkan karena pria itu terlihat suaminya yang setia, tetapi ....


"Kamu yakin?" Nanda sedikit merasa ragu.


Andi mengangguk. "Kita balas mereka dengan hal yang sama seperti yang mereka lakukan ke kita."


Nanda mengangguk. Perlahan senyumnya muncul. "Oke. Kita mulai kapan?"


"Sekarang juga."

__ADS_1


Nanda mengangguk. Dia mengulurkan tangan dan Andi menyambutnya.


"Kita siap dengan semua konsekuensinya, ya," ucap Nanda setelah melepas jabat tangan itu.


Andi mengangguk.


"Kita harus bahagia ngejalaninya."


"Seperti  mereka yang bahagia, kita juga harus bahagia."


Nanda mengangguk. Sangat setuju dengan ucapan Andi.


"Aku sadap nomer suamiku, jadi chat mereka aku tau, nanti aku kabarin kalau ada informasi."


Andi mengangguk. "Kamu, apa nggak papa?" Pria itu merasa harus mempertanyakan ini. Dia sebagai laki-laki, melakukan hal lebih mungkin penyesalannya tidak akan lama, tetapi Nanda sebagai perempuan yang memiliki perasaan halus, mungkin berbeda.


Nanda menggeleng. "Semua yang mereka lakukan, kita harus lakukan. Aku nggak masalah akan hal itu. Sekarang aku hanya ingin balas dendam. Ingin memberitahu mereka bagaimana rasanya diselingkuhi dan ingin tau juga gimana rasanya berselingkuh sampai mereka bisa melakukan padahal sudah punya pasangan."


Andi diam sembari menatap Nanda.


"Aku beneran nggak papa." Wanita itu tersenyum paksa.


Andi masih saja menatapnya.


"An--anakmu mana?" tanya Nanda mengalihkan topik.


"Lagi tidur."


Nanda mengangguk. "Kalau gitu aku pulang dulu."


Andi mengangguk. Dia berdiri. Begitupun Nanda. Mereka berdua berjalan ke arah pintu.


"Nanda," panggil Andi.


"Ya." Nanda berhenti dan berbalik. Posisi mereka di teras rumah Andi.


"Tadi aku mengikuti Sisil. Ternyata dia ke rumah keluarga suamimu dan suamimu datang. Mereka bertemu."


Nanda mengangguk. "Aku tau. Mertuaku mengundang mereka untuk sarapan pagi bersama."


"Sisil memeluknya dan mengecup bibir--" ucapan Andi berhenti kala Nanda memeluknya. Setelahnya wanita itu melepas pelukan dan sedikit berjinjit untuk mengecup bibir Andi, membuat mata pria itu membulat sempurna.


Nanda merasa canggung. Pipinya terasa panas. Dia menunduk karena baru saja melakukan hal yang memalukan.


"Kamu--"


Nanda menatap Andi. Wanita itu menghela napas. "Aku melakukan apa yang istrimu lakukan. Aku sedang melakukan peran balas dendam kita, tapi rasanya canggung sekali."


Andi tertawa pelan. Ya, dia juga merasakan kecanggungan itu. Biasanya dia hanya dicium istrinya, tetapi sekarang bibirnya harus dikecup wanita lain. Namun, jujur ini tidak buruk, walaupun singkat, bibir Nanda yang berwarna pink itu sangat lembut dan kenyal.

__ADS_1


__ADS_2