Buah Dari Perselingkuhan

Buah Dari Perselingkuhan
Bab 13


__ADS_3

Rudi pulang, dia memutuskan tidak kerja. Saat membuka pintu, dia terkejut karena pintu terkunci. Bukan mengambil kunci cadangan, dia memilih mengambil ponselnya dan langsung menghubungi nomor istrinya.


"Mas."


Rudi menoleh. Setelah melihat siapa yang memanggil, dia mendengkus. Menatap ke arah lain dan melanjutkan menelepon istrinya.


"Buka pintunya, Mas. Tamu istimewamu ini, calon nyonya rumah, mau masuk."


Rudi mengabaikan ucapan Sisil dan membuat wanita itu kesal. Dia mengambil ponsel Rudi, mematikan sambungan telepon dan menaruh benda pipih itu di dalam tas selempangnya.


"Sil, kembalikan," ucap Rudi menahan amarah. Dia malas berurusan dengan Sisil sekarang. Dia hanya ingin bersama istrinya. Menebus kesalahannya. Dia tidak ingin Nanda balas dendam dengan meninggalkannya.


"Nggak mau. Sekarang buka pintu, Mas. Aku mau masuk. Nanda nggak ada, kan?" tanyanya.


Rudi memijit pelipisnya. "Nggak. Kamu pulang, Sil," ucapnya. Membuka, takutnya Nanda pulang, melihatnya bersama Sisil di dalam, pasti akan salah paham lagi.


"Aku akan pulang, Mas, tapi kasih aku jawaban. Kapan kita nikah?" tanyanya.


Tadi, di rumah ibunya, Rudi tidak menjawab ancaman Sisil, pria itu melarikan diri pulang dan karena tidak ingin digantung, Sisil mengejar mengunakan taksi.


"Kita nggak akan menikah."


"Jadi lebih baik aku buka saja aibmu, Mas?"


Detik ini juga Rudi merasa sangat menyesal telah membuka hubungan dengan Sisil. Dia kira wanita itu bisa dia peralatan karena terlalu mencintainya. Nyatanya sekarang dia yang diperalat. Dia menyesal tidak setia, menyesal karena merasa rendah di depan istrinya, membuatnya jadi berselingkuh. Menyesal karena hanyut dalam permainan Sisil, sekarang dia tidak bisa lepas dari belenggu wanita ini. 


"Gimana, Mas?" tanya Sisil dengan alis mata yang dia naik turunkan, tidak lupa senyumnya merekah lebar.


"Sil, kamu jangan gila."


"Aku gila karena kamu, Mas. Dulu kita berpisah, sekarang aku nggak mau itu terjadi."


"Aku sudah punya istri."


"Aku siap jadi yang kedua."


"Nanda nggak akan mau."


"Ceraikan dia."


Rudi menggeleng. "Nggak bisa. Aku nggak bisa tinggalin dia. Aku cinta sama dia."


"Begitu juga dengan aku, Mas. Aku nggak bisa tinggalin kamu karena aku mencintaimu. Aku menunggumu sudah sangat lama. Kurang apa perjuanganku, Mas. Perawanku, kamu yang yang ambil. Aku nunggu kamu sampai nggak nikah. Pas kita ketemu, aku langsung nerima kamu dan mau kamu pakek. Ingat, dua bulan kita sangat intim dan mesra, aku bisa membahagiakanmu, Mas. Kurang apa aku?" tanya Sisil. Rudi terlalu bertele-tele. Dia merasa kesal. Pria di depannya itu sangat jual mahal.


"Sil--"


"Apa, Mas? Kalau aku cerita yang sebenarnya sama Nanda, dia pasti akan kecewa bahkan membencimu. Kamu menuduhnya mandul padahal dia tidak mandul. Kamu yang mandul. Belum lagi reaksi keluargamu. Mereka akan kecewa. Kamu tidak akan punya muka lagi. Anak kebanggaan, ipar kebanggaan, adik kebanggaan mereka ternyata tidak bisa memiliki anak."


Rudi memijit pelipisnya. Kepalanya terasa mau pecah. "Kita menikah, apa kamu akan bisa hamil? Nggak, kan? Aku mandul, kita nggak akan punya anak, kamu nggak akan bisa hamil."


Sisil tersenyum. "Sama aku, kamu pasti akan bisa punya anak. Kita saling cinta. Yang kuasa pasti akan berbaik hati." Wanita itu memeluk Rudi. Menekan bagian depannya, menggoda. "Percaya sama aku, Mas. Kita pasti bisa punya anak." Sisil punya rencana makanya dia sangat tenang menghadapi masalah anak untuk Rudi. Pria itu memang mandul, tetapi dirinya pasti bisa hamil karena ada Andi. Benih Andi akan dia katakan benih Rudi. Semua akan aman terkendali.

__ADS_1


"Aku mandul. Aku nggak bisa--"


"Bisa, bersamaku pasti bisa."


Rudi menghela napas. Ucapan Sisil yang penuh keyakinan itu membuat pertahanannya goyah. Dia merasa tertantang untuk memastikan kata-kata Sisil. Dia menginginkan seorang anak sebagai generasi penerusnya.


"Bersamamu aku akan punya anak?" tanyanya lirih.


Sisil mengangguk. Dia mengusap punggung Rudi. "Bersamaku, kita akan punya anak."


Rudi mengangguk. Dia masuk perangkap dan Sisil tersenyum manis.


"Nggak ada Nanda, kan?"


Rudi menggeleng.


"Aku boleh masuk?"


Rudi mengangguk. Dia melepas pelukan dan berbalik. Membuka pintu dan masuk. Sisil mengikuti.


"Sangat nyaman, rapi juga," ucap Sisil menilai ruang tamu rumah Rudi.


"Nanda sangat rajin," ucap Rudi.


"Di mana kamar kalian?" tanya Sisil mengubah topik. Malah membahas Nanda, saingannya itu.


Rudi menunjuk atas. Sisil langsung berjalan ke arah tangga dan naik, menuju kamar atas. Rudi mengikutinya.


Ceklek!


Rudi menghela napas. "Ayo turun. Kamu harus pulang."


Sisil menggeleng. "Mas, sini. Baring sini sama aku."


Rudi menghela napas. Dia maju dan duduk di tepi kasur, di sisi Sisil. "Ini kamar kami, ayo keluar."


Sisil menggeleng. Dia menarik lengan Rudi membuat pria itu berbaring di sisinya. Dengan cekatan Sisil langsung naik ke atas badan Rudi, mengukung.


"Si-- mmmmttpppphhh!"


Sisil mencium bibir Rudi, menghentikan ucapan protes pria itu. Menyesap bibir bawahnya dengan agresif.


Rudi memegang pinggang Sisil. Dia menoleh ke kanan, melepas tautan bibir, setelahnya menatap Sisil yang tersenyum manis menatapnya dalam jarak dekat.


"Ayo keluar."


Sisil menggeleng lagi. "Ayo main. Aku pengen, Mas."


Rudi yang menggeleng kali ini. Dia sedang tidak mood.


"Kamu mau aku cepat hamil, kan? Kita harus selalu melakukannya supaya mendapatkan hasil."

__ADS_1


"Kamu tau, aku sudah sering melakukannya dengan Nanda, tapi dasarnya aku mandul jadinya--"


"Sama aku pasti bisa, Mas."


Cup!


Sisil mengecup bibir Rudi.


"Aku menginginkanmu, Mas."


Tatapan sayu Sisil meruntuhkan pertahanan Rudi. Tangan pria itu naik ke tengkuk dan menekan, membuat bibir Sisil menempel ke bibirnya. Dua orang itupun saling bermain bibir dan hanyut dalam ciuman, tidak menyadari ada seseorang di depan pintu yang menatap insiden itu dengan air mata yang mengalir deras.


***


Nanda memencet bel rumah Andi dengan tidak sabaran. Dia menyeka terus air matanya yang mengalir. Apa yang dia lihat di rumahnya, di kamarnya sudah sangat keterlaluan. Bagaimana dua orang itu bisa sejahat ini padanya? Bermain di rumah, di ranjangnya, benar-benar tidak beradap. Benar-benar mengibarkan bendera perang dengannya.


Ting-tung!


Nanda memencet bel rumah Andi lagi. Kali ini pria itu keluar, membuka pagar dan tanpa dipersilahkan masuk, Nanda berlari masuk dan langsung duduk di sofa. Wanita itu kembali menangis.


Andi yang melihat itu, menautkan alis matanya. Dia duduk di sisi Nanda dan bertanya kenapa, tetapi malah mendapat pelukan bukan jawaban.


"Hiks! Mereka ... Mereka melakukan itu di rumahku. Di kamarku. Hiks!"


Kata 'mereka' sudah cukup bagi Andi untuk mengetahui siapa yang dimaksud Nanda. Kata 'melakukan' dan 'di kamarku', dia juga tahu itu ke arah mana. Pria itu mengepalkan tangan.


Nanda melepas pelukan. Dia menatap Andi. "Ak--aku sakit hati."


Andi mengangguk. Dia mengerti perasaan Nanda karena rasa itu juga sedang dia rasakan. Istrinya itu sungguh keterlaluan.


"Kamu siap melakukannya?"


Andi menautkan alis matanya. Dia tidak mengerti.


Nanda menyeka air matanya. "Kita harus melakukan apa yang mereka lakukan. Aku ingin kita main di kamar kalian."


Andi diam.


"Kita sudah terikat perjanjian. Ayo." Ayu memegang tangan Andi. Wanita itu berdiri.


"Nanda."


Panggilan itu membuat Nanda menunduk.


"Kamu yakin kita akan melakukan itu?"


Nanda diam. Tidak lama dia mengangguk, setelah membayangkan bagaimana suaminya bercumbu dengan selingkuhannya di kamarnya tanpa pikir panjang. Terus, kenapa dia harus berpikir banyak kali untuk melakukan hal yang sama? Suaminya adalah panutan baginya, jadi dia akan mencontoh apa yang pria itu lakukan.


"Yakin. Kamu ragu?" tanya balik Nanda.


Andi kini yang diam.

__ADS_1


"Aku melihat dengan mata kepalaku, Istrimu sedang di rumahku, di kamarku bercumbu dengan suamiku. Bercumbu, taukan arahnya ke mana?"


Andi melihat kesungguhan, kejujuran di mata Nanda dan itu membuatnya semakin marah pada Sisil. "Kalau kamu yakin, aku juga yakin." Andi berdiri. "Kamarnya di sana." Pria itu berjalan duluan dan otomatis Nanda mengikuti karena wanita itu memegang tangan Andi.


__ADS_2