
Karena perut Nanda sakit, Rudi memilih membeli makanan dari luar. Mereka makan dengan tenang dalam kesunyian. Nanda menyudahi makan padahal makanan dalam piringnya masih tersisa banyak.
"Kok udah?" tanya Rudi lembut.
Selembut apapun suara Rudi, sebanyak apapun perhatian Rudi, Nanda sekarang merasa muak mendapatkan itu semua. Suami yang dia banggakan, kini berubah menjadi suami yang inginnya tidak dia anggap. Rudi sudah menyakiti hatinya dengan cara yang keterlaluan.
"Aku sudah kenyang. Nggak bisa dipaksa karena perut aku sakit." Namun, Nanda harus tetap bertahan dengan kondisi baik-baik saja sampai perselingkuhannya ketahuan.
Rudi menghela napas. "Ya udah, kamu duluan aja ke kamar."
Nanda mengangguk. Dia berdiri dan berjalan pergi. Hal itu membuat Rudi menghela napas. Istrinya sudah berubah. Dulu, selalu menempel, menemaninya melakukan apapun saat di rumah, sekarang ....
"Hah! Semua berawal dari kesalahanku," ucap Rudi sadar diri.
**
Nanda merebahkan diri di kasur. Wanita itu menghela napas. Dia sebenarnya kasihan mengabaikan perhatian dan kasih sayang suaminya, tetapi hatinya tidak bisa menerima penghianatan pria itu hingga seluruh tubuhnya merespon tidak baik.
Tring!
Nanda menoleh. Dia tersenyum saat melihat ponsel Rudi berada di samping ponselnya. Hal ini selalu mereka lakukan dulu supaya tidak curiga satu sama lain. Wanita itu mengulurkan tangan, mengambil dua benda pipih itu dan mengecek notif chat masuk itu ke ponsel siapa.
"Partner." Nanda langsung menaruh ponsel Rudi setelah mendapati kalau ponselnya yang terdapat chat masuk dan itu dari Andi, selingkuhannya.
[Udah makan, Nda?]
Nanda membalas cepat.
[Belum. Nunggu kamu bawain aku bakso. Pengen makan yang anget-anget.] Candanya.
[Alamat rumahmu.]
Nanda mengirimkan alamat rumahnya.
[Aku kirimkan.]
Nanda tersenyum.
[Aku hanya bercanda, Mas. Aku udah makan. Mas udah makan belom?] tanyanya balik. Namun, sudah lima menit berlalu chat itu belum dibalas padahal sudah dibaca. Nanda menghela napas. Dia memukul keningnya pelan memakai ujung ponselnya. Bagaimana bisa dia merasa kesal karena Andi lama membalas chatnya? Andi hanya patner, bukan miliknya. Jelas pria itu punya kesibukan atau mungkin istrinya tengah berada di samping pria itu, makanya tidak membalas.
Tring!
Saat ponsel itu mau Nanda taruh kembali di atas nakas setelah menghapus chat Andi, pria itu mengirimnya chat.
[Bakso sedang meluncur. Dimakan, semoga sakit perutnya cepat sembuh.]
Nanda tersenyum.
[Aku tadi hanya bercanda loh.] balasnya.
__ADS_1
[Aku nggak bercanda itu. Aku beli bakso online dan kasih alamat kamu. Tungguin.]
[Makasih. Kalau kayak gini aku kan jadi enak.]
[Dihabisin baksonya.]
[Siap, Bos.]
Tring!
Nanda menoleh ke arah ponsel Rudi. Benda pipih itu bunyi.
Tangannya terulur untuk mengambil dan langsung melihat siapa yang mengirim chat dan ternyata itu Sisil. Nama kontaknya, 'Calon Istri.'
Nanda menghela napas. Nama itu membuat hatinya tercubit. Nama itu menyadarkan kalau suaminya benar-benar menginginkan anak dan dirinya tidak boleh egois. Wanita itu membuka chat.
[Mas lagi apa? Bolehkah aku memikirkan gedung, wedding organizer dan tempat catering buat acara pernikahan kita walaupun dipakeknya masih dua bulan lagi? Aku udah nggak sabar masalahnya.]
Mata Nanda berkaca-kaca. Dia merasa salah membaca chat dari Sisil. Hatinya sangat sakit. Namun, dia jadi mengetahui kalau pernikahan suaminya akan terjadi dua bulan lagi. Kenapa sangat lama? Pikirnya. Bukannya lebih cepat lebih baik supaya cepat juga Sisil hamil?
Ceklek!
"Sayang," panggil Rudi di ambang pintu.
"Ya," jawab Nanda.
"Bakso kamu udah sampe."
Rudi melihat ponselnya, setelahnya membaca chat Sisil. Dia menghela napas. Tingkah Sisil selalu saja mengejutkan dan selalu membuat kacau hubungannya dan Nanda diwaktu yang tepat, saat mereka sedang baik-baik saja.
[Terserah kamu, Sil.]
Rudi membalas, setelahnya berjalan pergi menghampiri istrinya.
***
Sisil menarik tangan suaminya. Biasanya kalau mereka tengah menonton begini akan ada pelukan bersambung. Andi memeluk Sisil dari belakang dan Sisil memeluk Sindi. Namun, kali ini Andi tidak melakukan hal itu. Pria itu serius nonton, habis itu fokus ke ponsel, setelahnya kembali menonton lagi.
"Mas, kok tumben?" tanya Sisil yang sudah berhasil membuat tangan suaminya melingkari pinggangnya dan bertaut di depan perutnya, dia juga sudah bersandar di dada bidang suaminya.
"Kenapa?" tanya Andi.
"Biasanya kamu berprilaku romantis sama aku." Sisil berucap sembari terus menatap depan. Suaranya dibuat seperti merajuk dengan bibir yang mempout diakhir kalimatnya. Andai tidak ada masalah serius dihubungan mereka, bibir mengemaskan itu akan langsung Andi serang dan mereka akan berakhir dengan adegan panas, tetapi mengingat istrinya yang egois karena meminta keromantisan darinya padahal memiliki simpanan, itu membuatnya tidak bisa berhasrat.
"Aku hanya lelah."
"Lelah ngapain? Kamu di cafe hanya duduk."
"Ya, memang hanya duduk, tetapi pikiran aku jalan. Aku harus mikir bagaimana biar pelanggan nggak bosan datang ke cafe. Harus mikirin menu baru, suasana baru ... Semua itu pakek otak walaupun aku hanya duduk saja," jelas Andi.
__ADS_1
Sisil menghela napas. "Sindi udah tidur, bawa ke kamar, gih."
Andi melepas pelukan dan melakukan apa yang Sisil suruh. Namun, pria itu tidak kembali ke ruangan lagi yang membuat Sisil menautkan alis matanya. Dia mematikan televisi dan berjalan ke kamar.
"Ya ampun," ucapnya saat melihat Andi tidur bersama Sindi di kamar kaca. "Dia benar-benar kelelahan, kah?" tanyanya pada kesunyian.
***
Seminggu berlalu ....
Nanda merasa perlakuan Rudi padanya semakin hangat. Pria itu kembali seperti dulu. Mengecup keningnya sebelum berangkat kerja, makan siang bersama di rumah dan saat tidur malam akan terus memeluknya erat.
Sedang, Sisil merasa perubahan pada suaminya. Seminggu ini pria itu seperti jauh. Tidak membangunkannya di pagi hari, berangkat kerja tidak pamit dan lebih sering tidur dengan Sindi daripada dengannya.
Hubungan Nanda dan Andi semakin dekat. Mereka sering berbalas chat perhatian. Tidak sungkan untuk meminta sesuatu, seperti mengirim makanan atau meminta makan siang bersama, dan hubungan mereka semakin dekat karena Nanda yang menarik Sindi dalam hubungan mereka. Beberapa kali dalam seminggu ini wanita itu meminta Sindi bermain dengannya. Jadi, Nanda yang sudah tahu rumah orang tua Andi dengan bebas menjemput dan mengembalikan Nanda setelah mengajak gadis kecil yang mengemaskan itu jalan-jalan. Nanda, Andi kenalnya sebagai sahabat Sisil pada Sumi, supaya bisa bermain dengan Sindi.
"Kamu mau ke mana hari ini?" tanya Rudi saat dia dan Nanda tengah sarapan bersama.
"Di rumah aja."
Pria itu mengangguk.
"Kenapa?"
Rudi menggeleng. "Kamu hati-hati di rumah. Kalau jenuh, chat mas, kita saling balas chat biar jenuh kamu ilang."
Nanda mengangguk.
Rudi melahap suapan terakhirnya. Dia minum, setelahnya mengelap mulut dengan tisu. "Mas berangkat. Ada meeting."
Nanda mengangguk. Suaminya pagi ini sangat terburu-buru. Namun, dia tidak berpikiran apapun karena satu minggu ini perilaku pria itu sangat baik dan hubungannya dengan Sisil terlihat renggang, karena chat pelakor itu ditanggapi cuek oleh suaminya.
Rudi mengecup kening istrinya, setelahnya mengecup bibirnya. "Bye," ucapnya.
Nanda yang mulai merasa kembali berminat sama suaminya, mengangguk. "Bye! Hati-hati, Mas."
Rudi mengangguk. Mengecup lagi bibir Nanda, setelahnya pergi.
Nanda merasa mukanya panas. Adegan manis itu selalu bisa membuatnya merasa terbakar. Rudinya kembali dan sepertinya dia harus membuka lembaran baru dengan suaminya itu. Mungkin saja benar ucapan kalau Rudi hanya mencintainya dan Sisil hanya dijadikan alat pencetak anak. Dia bisa membanggakan hal itu kalau begitu kenyataannya. Istri sah nggak akan kalah sama pelakor.
Nanda berdiri, dia memutuskan untuk mengejar Rudi dan mengatakan kalau ada yang mau dia bicarakan setelah pria itu pulang dari kantor. Langkahnya cepat menyusuri ruang tamu. Namun, langkah itu berhenti tepat di depan pintu utama. Dia mematung di belakang suaminya yang tengah bertelepon.
"Iya, Bu. Ini aku sudah mau berangkat. Sisil udah sampai?"
"...."
"Iya, Nanda aja nggak tau masalah kita sekeluarga pergi ke pesta tanpa dia, apalagi perginya sama Sisil?"
"...."
__ADS_1
"Ya udah, aku mau berangkat. Ibu sama yang lainnya siap-siap saja. Aku sampai, kita langsung berangkat." Rudi memutus komunikasi dan berjalan pergi tanpa menoleh.
Air mata Nanda menetes.