Buah Dari Perselingkuhan

Buah Dari Perselingkuhan
Bab 11


__ADS_3

Makan malam yang Rudi harapkan tidak terjadi. Nanda mengatakan mengantuk dan memilih tidur. Pria itu menghela napas saat melihat istrinya terlelap damai di sampingnya.


"Mas sayang kamu. Maafin semua kesalahan mas, ya. Sampai kapanpun, cuma kamu yang mas cintai." Ucapan itu diimbangi dengan elusan lembut jemari Rudi di pipi chuby Nanda. Pria itu memajukan wajah, ingin mengecup, tetapi Nanda merubah posisi jadi miring ke sisi lain. Memunggunginya. Rudi menghela napas. Dia berbaring dan memeluk istrinya itu dari belakang.


Nanda yang kenyataannya belum tidur, sengaja menghindari kecupan itu. Dia tidak ingin bibir yang selalu berbicara kebohongan itu menyentuh tubuhnya.


Nanda mengigit bibir bawahnya. Air matanya mengalir. Suaminya egois. Mencintainya, tetapi menyakitinya.


***


Di kediaman Andi, biasanya Sisil akan abai dengan suaminya, kini kesannya lengket dan ramah. Sisil yang biasanya memilih kembali makanan jadi ketimbang memasak, tadi memasak dan makan bersama anak dan suaminya. Yang biasanya habis makan langsung rebahan tadi duduk di sisi Suaminya, ikut menonton. Yang biasanya tidur dia yang dipeluk, kini dia yang memeluk.


"Mas, Mas pengen nggak?" tanya Sisil sembari menempelkan lebih bagian depan tubuhnya. Menggoda.


Andi menatap Sisil. Diam sesaat, setelahnya menghela napas. "Nggak. Kamu tidur saja. Besok kerja. Mas juga besok kerja, jadi mau tidur."


Sisil diam. Biasanya dia yang menolak suaminya, kini dia yang ditolak. Hatinya terasa tercubit dan merasa harga dirinya hancur.


Andi melepas pelukan Sisil dan berbaring miring memunggungi istrinya itu. Sisil yang baru mendapat perlakuan cuek seperti itu dari suaminya merasa sedih.


**


Pagi sekali Sisil bangun. Entah mengapa perubahan sikap suaminya membuatnya tidak tenang. Bahkan semalam dia tidak bisa tidur. Pagi ini langsung mengenakan pekerjaan rumah yang tidak pernah dia lakukan dari dua bulan lalu. Terlalu bersemangat menjalin kasih dengan cinta pertama membuatnya melupakan tugas sebagai istri dan ibu.


Ucapan Andi tentang dirinya disuruh jujur, itu juga sangat menganggu pikirannya. Apakah perselingkuhannya terendus? Wanita itu menggeleng. Tidak! Andi pasti hanya kesal karena dua malam dia tidak pulang. Ya! Sisil meyakinkan dirinya. Perselingkuhannya tidak boleh diketahui suaminya karena semua harus berjalan sesuai rencananya. Tidak akan melepas Andi, suaminya yang baik dan penyayang itu dan tidak akan melepaskan Rudi yang menjadi cinta pertamanya.


"Mama."


Panggilan Sindi langsung membuat lamunan Sisil buyar. Wanita itu langsung menghampiri Sindi yang baru bangun tidur. Mengendongnya.


"Papa belum bangun?" tanyanya.


Sindi sekamar sama mereka, hanya beda tempat tidur.


"Beyum."


Sisil mengangguk. "Mau ke kamar mandi?"


Sindi mengangguk. "Mau mandi."

__ADS_1


Sisil tersenyum dan langsung membawa anaknya itu ke kamar mandi.


Andi yang sebenarnya sudah bangun itu, keluar dari kamar. Tadi dia sempat mengintip dan hatinya merasa hangat istrinya sudah kembali seperti Sisil yang dulu. Penyayang dan perhatian. Namun, mengingat wanita itu nyatanya berselingkuh, membuat Andi tersenyum miring. Anggapannya, istrinya melakukan kebaikan ini untuk menutupi keburukannya.


Andi melihat di meja makan sudah terhidang menu sarapan pagi, tetapi dia tidak berselera untuk makan. Pria itu memutuskan kembali ke kamar.


***


Nanda makan nasi goreng buatannya sendirian di meja makan. Rudi datang menghampiri dan bingung karena sarapan untuknya tidak disiapkan.


"Sayang, sarapan mas mana?" tanya Rudi.


Nanda menatap Rudi. "Mas nggak makan di rumah jadi aku nggak bikinkan."


Rudi menautkan alis matanya.


Nanda mengerti tatapan itu. Dia menghela napas. "Tadi ponsel mas bunyi, aku liat sekilas, itu chat dari ibu. Nyuruh Mas sarapan si sana, ada Sisil juga katanya."


Rudi segera mengambil ponselnya dan mengecek. Benar, ibunya mengirim chat seperti yang Nanda katakan.


"Ayo kita sarapan di rumah ibu."


"Aku sudah selesai sarapan. Mas aja." Wanita itu mendorong piring yang isinya masih tersisa setengah. Dia minum, setelahnya berdiri. "Berangkat, Mas. Nanti terlambat."


Rudi menghela napas. "Mas nggak akan ke sana. Tolong bikinkan mas sarapan."


Nanda menggeleng. "Aku lagi nggak enak badan. Mau rebahan dulu ya, Mas." Nanda berjalan, tetapi Rudi mencekal tangannya, membuat dua orang itu saling tatap.


"Ikut bersama mas."


"Nggak mau."


"Karena ada Sisil?"


Nanda mengangguk.


"Dengan kamu ikut mas, itu sudah bukti kalau mas memilih bersamamu daripada dia."


Nanda tersenyum manis. Andai dia tidak melihat kemarin suaminya keluar dari hotel bersama Sisil, dia akan terjadi dengan ucapan itu dan setuju ikut ke rumah mertuanya. Sayangnya, suaminya ini pintar bersilat lidah. Saat bersamanya, dirinya diratukan. Bersama Sisil, wanita itu yang diratukan. Tidak konsisten.

__ADS_1


"Sayang, mas nggak ada hubungan apa-apa lagi dengan dia."


Nanda menarik tangannya. "Omongan nggak bisa dipegang, Mas, aku hanya butuh bukti yang terlihat." Wanita itu menghela napas. "Terserahlah! Lakukan semaumu." Dia segera melangkah pergi.


**


Rudi melihat Sisil di depan pagar rumah ibunya, memarkirkan mobil di luar rumah, turun dan langsung menghampiri wanita itu.


"Sil," panggilnya.


Sisil menoleh. Matanya langsung berbinar. Wanita itu segera memeluk Rudi. Namun, Rudi cepat melepaskan pelukan itu.


"Kamu ngapain di sin--'


Cup!


Ucapan Rudi berhenti saat Sisil mencium bibirnya sekilas. Setelahnya wanita itu nyengir tanpa dosa. Merangkul lengan dan mengajaknya berjalan masuk.


Andi yang melihat pemandangan dari dalam taksi, mengepalkan tangan kuat. Mata pria itu merah. Jantungnya berdegub kencang. Istri ya itu sudah keterlaluan.


Tadi, saat sarapan, Sisil mendapat telepon. Wanita itu langsung berdiri dan mengatakan ada pelanggan yang harus ditangani sekarang karena pelanggan itu harus menghadiri acara penting. Walaupun curiga, Andi mengangguk, dia membiarkan istrinya pergi, tetapi tidak hilang akal dia dan anaknya mengikuti dari belakang dan pemandangan yang dia dapati membuat hatinya semakin terluka.


"Jalan, Pak," ucapnya pada sopir.


**


Sampai di rumah, Andi langsung ke kamar. Dia menaruh Sindi di tengah ranjang dan dia duduk di tepi. Pria itu menatap tajam ke dinding. Matanya merah, dia emosi, dia marah, kesal dan kecewa. Rasanya ingin meledak, tetapi dia memikirkan Sisil. Anaknya itu pasti akan ketakutan dan bisa saja trauma karena melihatnya mengamuk.


Tidak terasa air matanya menetes. Istri yang dia cintai, dia sayang, dia banggakan menusuknya dari belakang.


'Aku punya ide. Bagaimana kalau kita selingkuh juga.'


'Ayo kita balas dendam dengan selingkuh juga. Kita lakukan apa yang mereka lakukan biar kita nggak merasa rugi dengan pernikahan kita. Di saat mereka bisa tersenyum setelah bercanda, kita juga akan melakukan itu. Bercanda setelahnya tersenyum. Kita ikutin permainan mereka.'


'Aku ingin balas dendam. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya diselingkuhi. Ayo kita membuat masalah ini semakin seru. Jangan memendam rasa sedih, mereka lagi bahagia, kita juga harus bahagia.'


'Perlakuan mereka harus dibalas sama persis, kalau kita mengalah, kita diinjak-injak. Kita sedih sendiri, frustasi sendiri, sedang mereka happy terus. Pertengkaran akan membuat Rudi kembali meminta belas kasih padaku dan aku pasti akan kasian padanya, aku akan kembali sakit hati terus-terusan, tanpa bisa melakukan pembelaan, tetapi pertengkaranmu dan Sisil ... Kalian akan berpisah. Sisil pasti senang karena dia bisa menikah dengan suami aku, dan di antara kalian, kamu yang menderita. Ayolah. Posisi kita sama-sama pihak yang menderita ayo kerjasama. Pikirkan pengorbanan kamu untuk membahagiakan dia dan dia malah nggak anggap kamu. Kamu rela melepaskan wanita yang nggak tau berterima kasih itu begitu saja tanpa membalas dendam padanya?'


Ucapan-ucapan Nanda seketika terngiang di telinganya. Kalimat yang keluar dari bibir mungil wanita itu semuanya benar. Sisil yang keterlaluan itu harus diberi pelajaran dan cara yang setimpal adalah melakukan apa yang wanita itu lakukan padanya.

__ADS_1


Andi mengambil ponselnya dalam saku celana. Mengotak-atik, mengirim chat pada Nanda untuk datang kerumahnya, mendengarkan jawaban atas pertanyaan wanita itu kemarin.


__ADS_2