Buah Dari Perselingkuhan

Buah Dari Perselingkuhan
Bab 10


__ADS_3

Sisil mendorong dada Rudi dan beranjak ke kamar mandi. Dia kesal sekali. Rasa puas atas permainan panas mereka seketika hilang saat Rudi malah menyebut nama sang istri saat pria itu sampai pada puncaknya. Wanita itu menyalahkan shower dan berdiam di bawahnya.


Rudi yang mengatur napas itu memejamkan mata perlahan. Dia lelah. Permainan yang hanya membutuhkan waktu 15 menit itu membuatnya cukup lega.


Brak!


Pintu di buka kasar dan itu membuat Rudi membuka matanya. Dia melihat ke arah kamar mandi dan mendapati Sisil berjalan ke arahnya dalam kondisi bugil dengan air yang menetes-netes.


"Mas, ayo ulangi. Aku nggak ikhlas kamu pakek aku tapi menyebut nama wanita lain saat kamu puas," ucap Sisil tidak terima.


Rudi duduk. "Aku nggak bisa lagi. Kamu taukan aku kalau sudah keluar, butuh waktu untuk kembali bangkit, dan sekarang aku sedang tidak ingin lagi, jadi akan sangat lama untuk bisa bangkit lagi."


Sisil menggeleng. "Aku akan membangkitkan dengan cepat." Wanita itu maju, tetapi gelengan Rudi membuatnya mengurungkan niat.


"Aku harus kembali ke kantor. Untuk ini, makasih. Aku akan kirim uang ke kamu. Anggap saja aku beli waktu kamu."


Mata Sisil membulat sempurna. "Mas! Kamu kira aku ... Mas! Jahat kamu kalau anggap aku wanita seperti itu!" marahnya.


"Aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk nggak kembali sama  kamu jadi kita nggak bisa punya hubungan lebih." Rudi beranjak, mengambil pakaiannya di pinggir kasur dan berjalan menuju kamar mandi.


Sisil berbalik dan melihat pintu kamar mandi yang tertutup. Dia tidak terima dibeginikan oleh orang yang dia cintai. Pengorbanannya ini harus mendapat balasan yang setimpal. 


*


Ceklek!


Pintu kamar mandi terbuka dan Rudi keluar dengan keadaan yang segar dan rapi.


"Mas, kamu ingin kembali pada istrimu dan meninggalkan aku yang sudah memberikan semua untukmu? Kami jangan mimpi."


Rudi menatap Sisil yang duduk di tepi ranjang. Dia belum memakai baju. Kaki yang bertumpang, kini direnggan kan, membuat area sensitif di selakangan nya terlihat, terbuka, dia tengah berpose menggoda.


"Aku akan memberitahu hal ini pada istrimu," ancamnya.


Mata Rudi seketika membulat. Dia tidak kepikiran ke hal itu. Sisil yang nekat, jelas tidak main-main dengan ucapannya. Pria itu seketika gusar. Dia menyesal hari ini bertemu dengan Sisil. Andai mereka tidak bertemu dan tidak melakukan adegan hot ....


"Kembali ke sini, kita lakukan lagi atau aku akan menelepon Nanda sekarang, biar dia menciduk kita di sini."


Rudi menggeleng. "Jangan lakukan apapun." Pria itu tidak ingin hubungannya dengan Nanda rusak.


"Kalau gitu, kemari." Sisil merebahkan tubuhnya. Dia tersenyum manis menatap langit-langit kamar. Ancamannya berhasil. Dengan cara begini dia bisa mendapatkan Rudi dan menyakiti Nanda.


**


Setengah jam kemudian dua orang itu selesai, dan memutuskan keluar hotel bersama. Sisil meminta di antar ke salon dan Rudi menyetujui dengan raut wajah yang datar. Kelicikan Sisil membuatnya geram, tetapi tidak bisa melakukan pembelaan diri.

__ADS_1


"Bukain pintu," ucap Sisil manja.


Rudi membuka pintu mobilnya dan Sisil masuk. Pria itu memutari mobil dan masuk dari pintu lainnya.


Mobil pun keluar dari parkiran.


Nanda menatap Andi. Mereka tengah berada di taksi yang parkir tidak jauh dari mobil Rudi. "Percayakan?" tanyanya.


Andi menghela napas. Dia memejamkan mata. Tangannya mengepal kuat.


"Papa, au bobo."


Ucapan Sindi yang ada dipangkuan, membuat Andi membuka matanya. Pria itu menatap sendu pada anaknya. "Ayo pulang, kita bobo."


Sindi mengangguk.


"Jalan, Pak" ucap Andi pada Pak Sopir.


***


Nanda sampai di rumah, langsung ke kamar dan merebahkan diri ke ranjang. Dia memikirkan kebodohan Sisil yang meninggalkan suami tampan, anak yang imut, hanya demi menjadi selingkuhan pria beristri. Otak wanita itu sepertinya sudah rusak. Andai dirinya ada di posisi Sisil, dia akan menjadi istri paling bahagia di dunia ini.


Tring!


Notif chat membuat lamunan Nanda buyar. Wanita itu mengambil ponselnya dalam tas selempang, setelahnya membaca chat yang dikirim suaminya.


Nanda membuang asal ponsel itu ke kasur. Dia merubah posisi jadi miring, meringkuk dan menangis. Suami yang dia cintai, dia banggakan, dia beri kesempatan untuk memperbaiki diri, terus-terusan membuatnya sakit hati. Setelah melakukan kesalahan, pria itu ingin mengambil hatinya dengan baik-baik padanya? Oh'ho! Sekarang dia tidak akan menjadi Nanda yang bodoh. Dia tahu kebusukan pria itu dan tidak akan tinggal diam. Dia bertahan ini untuk balas dendam, mengenalkan rasa sakit yang dia rasakan pada Suaminya.


Nanda mengambil ponselnya, segera membalas.


[Aku ada janji dengan Megan.]


[Mas ingin makan dengan kamu.] Rudi membalas cepat.


[Aku udah terlanjur janji dan Megan sudah masak banyak.]


[Mas ikut makan dengan kalian.]


Nanda menghela napas. Andai suaminya ini tidak berselingkuh, hubungan pernikahan merek akan selalu harmonis. Andai pria itu tidak kembali dengan Sisil, bisa saja dirinya mengiyakan permintaan suaminya itu, sayangnya ....


[Nggak ada suaminya. Akan canggung kalau makan ada mas.]


[Sayang, makan sama mas, ya.]


[Nggak bisa, Mas. Mas ajak yang lain aja. Siapapun itu.]

__ADS_1


[Mas maunya makan sama kamu. Mas udah pesen tempat di restoran dekat kantor.]


Nanda menghela napas. Suaminya kekeh ingin memperbaiki hubungan setelah melakukan kesalahan. Pria itu ingin menutupi perselingkuhannya dengan baik-baik padanya biar tidak curiga. Hah! Cara itu konyol. Sisil sudah memberitahunya lebih dulu.


[Aku tetap menolak. Megan lebih dulu mengajakku. Mas sama yang lain saja.]


[Ya udah, sebagai gantinya, nanti malam kita makan malam, ya.]


Nanda tidak berminat membalas.


***


Sisil pulang sudah hampir sore. Dia masuk rumah seperti orang yang tidak bersalah. Langsung menghampiri Andi dan Sindi yang duduk di sofa ruang tamu.


"Sayang, mama pulang," ucap Sisil penuh semangat. Dia duduk di sisi Andi dan merentangkan tangan pada Sindi. Anaknya itu langsung turun dari sofa dan memeluknya.


"Mama keana aja?" tanya Sindi.


"Mama dari jaga teman. Sindi kangen mama, ya?"


Sindi mengangguk.


Andi menatap Sisil. Andai dia tidak melihat dengan mata kepalanya, tidak melihat foto dari ponsel Nanda, dia tidak akan pernah tau kalau wajah polos istrinya itu menutupi kelakuan yang bejat.


"Teman kamu cewek apa cowok?" tanya Andi.


Sisil menatap Andi. "Cewek, Mas. Yang kerja di salonku. Maaf, aku saking khawatirnya jadi abaikan kalian dua malam. Aku tebus. Sindi mau ke mana?" tanya Sisil.


"Alan-alan."


Sisil mengangguk. Nanti malam kita jalan-jalan. Wanita itu menatap Andi. "Mas mau aku gimana buat nebus kesalahan?"


"Jujur."


Alis mata Sisil bertaut.


"Jujur apa yang kamu lakukan di belakang aku selama dua bulan ini."


Sisil terdiam sesaat. Jantungnya berdegub kencang. Mata wanita itu bergerak gelisah. "Maksud Mas apa? Aku harus jujur apa? Aku--"


"Kalau kamu jujur sekarang, mas akan maafin kamu."


Sisil menelan salivanya susah payah. "Mas ngomong apa, sih? Jangan gegara mentang-mentang aku nggak pulang dua malam, jadi dituduh nggak-nggak kayak gini, ya. Aku ada alasannya, Mas. Aku jaga temanku. Aku nggak aneh-aneh. Aku setia sama kamu. Jangan tuduh aku keterlaluan dong, Mas."


Andi menghela napas. "Baiklah."

__ADS_1


Sisil tersenyum. Dia mengecup pipi suaminya. "Jangan tuduh aku sembarangan. Aku mencintai kamu, Mas."


Andi hanya diam saja.


__ADS_2