Buah Dari Perselingkuhan

Buah Dari Perselingkuhan
Bab 4


__ADS_3

Pagi ini Rudi lebih hangat ke Nanda dan wanita itu begitu menikmati, merasa suaminya yang dulu telah kembali. Dia bahagia. Semalam, setelah mereka sedikit mengalami pertengkaran, Rudi meminta maaf dan berjanji akan meninggalkan selingkuhannya itu, memulai ulang hubungan mereka dan Nanda dengan senang hati menerimanya.


"Mau jalan-jalan?" tanya Rudi sembari menyerahkan roti yang sudah dia olesi alai cokelat, kesukaan istrinya.


"Mas temenin?"


Rudi mengangguk.


"Mau kalau gitu. Nanti aku kabarin kalau aku udah mau jalan."


Rudi mengangguk dan memakan roti, menu sarapan pagi ini, dengan suasana hati yang hangat.


**


Nanda menatap dirinya di cermin. Gaun biru navi pas body, sebatas paha, lengan pendek, diimbangi dengan make up natural, rambut panjang yang diurai dan pelengkap tas selempang dan high heels warna senada membuatnya terlihat sangat cantik, seksi dan mempesona.


Dia mengambil ponsel di atas meja, setelah memasukkan ke dalam tas selempangnya. Saat akan berbalik, benda pipih itu berbunyi pertanda chat masuk.


Nanda mengambil, melihat chat yang ternyata dari Sisil. Selingkuhan suaminya.


[Mas, aku kosong.]


Jantung Nanda berdegub kencang. Dia mengigit bibir menunggu balasan chat yang sedang suaminya tulis.


[Aku mau pergi dengan istriku.]


Nanda menghela napas lega. Dia tersenyum manis. Dia yang akan melangkah, kembali diurungkan saat chat dari Sisil kembali masuk.


[Kalian nggak akan punya anak. Bukannya kamu setiap liat dia itu merasa kesal. Kamu butuh aku, kamu lebih nyaman dengan aku, kan? Kita ketemuan sekarang, ayo.]


Mata Nanda membulat. Sisil merayu Rudi dengan kalimat yang menyudutkannya dan itu sangat menyakitkan. "Kurang aja," ucapnya sembari mencengkeram kuat ponselnya.


[Aku mau memperbaiki hubunganku dengan istriku. Dia nggak salah.]


Nanda meneteskan air mata. Suaminya memilihnya. Dia sangat terharu. Wanita itu pun menaruh benda pipih di dalam tas selempang dan melangkah pergi.


***


Dua Minggu berlalu dengan hubungan Rudi dan Nanda yang semakin harmonis. Nanda masih sering mendapati Sisil mengirim chat merayu suaminya, tetapi dengan tegas suaminya menolak. Di acara keluarga juga Rudi memilih selalu di sisi Nanda supaya istrinya itu tidak disudutkan. Namun, mereka berdua masih belum kembali melakukan hubungan badan. Nanda selalu menolak saat Rudi meminta karena wanita itu saat akan melakukan, selalu membayangkan permainan panas suami nya dengan selingkuhannya itu.

__ADS_1


Tring!


Ponsel Rudi di atas nakas berbunyi. Nanda yang sudah mau memejamkan mata, membuka matanya lagi dan melihat ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. Suaminya ada di dalam sana. Hal itu membuatnya langsung mengambil benda pipih itu.


"Dari, masa lalu? Siapa?" tanya Nanda saat membaca nama kontak 'Masa lalu.' Penasaran, wanita itu mengklik dan membaca isi chat.


[Mas, apa kita benar-benar berakhir? Dengan cara seperti ini? Kamu keterlaluan, Mas. Aku sudah mempertaruhkan semuanya demi hubungan kita kembali, tapi kamu malah kayak gini. Besok kita ketemuan. Kita harus bicara. Di tempat biasa."


Nanda mengigit bibir bawahnya. Dia mempunyai ide untuk membuat selingkuhan suaminya ini jera.


[Di cafe saja. Dekat kantorku. Jam sepuluh.] Nanda mengirim itu ke pada Sisil dan balasan emot love pun dia dapatkan. Nanda memilih menghapus pesan dan menaruh ponsel lagi di tempatnya, setelahnya pura-pura tidur karena pintu kamar mandi terbuka.


**


Nanda bersiap akan bertemu dengan Sisil. Wanita itu sudah menyiapkan mental baja karena mendapat dukungan secara tidak langsung dari suaminya. Memakai pakaian sederhana, Nanda yang masih muda itu tetap terlihat mempesona. Dia mengambil kaca mata, memakainya dan berjalan ke luar kamar.


Sesampainya di cafe, dia menatap sekitar dan tidak mendapati seorang wanita duduk sendirian, jadinya dia memilih meja pojok untuk menunggu kedatangan selingkuhan suaminya.


Tring!


Nanda mengambil ponsel di dalam saku sweaternya. Melihat chat masuk yang ternyata dari suaminya.


[Lagi di cafe, bertemu seseorang.]


[Siapa? Sayang, kamu jangan nakal. Mas ke sana, kirim alamat kamu berada.]


Nanda tersenyum saat mendapatkan sikap posesif suaminya. Saat akan membalas, samar-samar dia mendengar suara yang familiar di telinganya.


"Sisil? Kamu di sini?"


Nanda mendongak. Menatap ke sumber suara yang ternyata di depan pintu cafe. Itu Rika, kakak iparnya.


"Iya, Mbak. Mau ketemuan sama mas Rudi."


Deg!


Mas Rudi, Nanda cukup kaget mendengar wanita yang berbicara dengan iparnya itu menyebut nama suaminya. Pikirannya langsung konek. Apa itu selingkuhan suaminya? Kakak iparnya tahu mereka menjalin kasih? Ini info yang sangat mengejutkan. Seketika wanita tersakiti itu merasa lebih sakit lagi.


Apa semua keluarga Rudi tahu kalau suaminya itu berselingkuh? Semua mendukung makanya diam saja? Jadi memojokkannya saat acara kumpul-kumpul disengaja? Apa semua hal buruk ini terjadi dalam hidupkan karena dia mandul? Nanda meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Kalian mesra sekali. Cepat-cepatlah nikah biar cepat punya anak, kasian loh Rudi. Tinggal dia di keluarga kita yang belum punya anak. Istrinya kan mandu, jadi--"


"Terus, karena aku mandul, kalian bisa ngelakuin ini sama aku, gitu?" tanya Nanda dengan suara yang lantang. Hal itu bukan hanya menarik perhatian Sisil dan Rika, tetapi seluruh penghuni Cafe.


"Nanda," ucap Rika cukup kaget. Dia tidak menyangka adik iparnya di sini dan mendengar ucapan buruknya.


"Ya, ini aku, Nanda, orang yang sedang kalian bicarakan." Nanda membuka kaca matanya. Memperlihatkan mata merah dan berairnya pada kakak iparnya itu.


"Ka--kamu ngapain di sini?" tanya Rika gagap.


Sisil menatap Nanda. Dia baru pertama kali melihat istri selingkuhannya dan seketika dia merasa minder. Nanda begitu sempurna sedangkan dirinya ... Ada hal-hal yang membuatnya iri.


"Mau ketemu sama selingkuhan suamiku. Perempuan gatal yang sudah ditolak tapi terus saja mengeluarkan jurus merayu."


Mata Sisil membulat. Dia merasa tersindir. "Mulut kamu. Biarpun aku selingkuhan mas Rudi, jelas dia lebih nyaman sama aku, daripada sama kamu. Selain itu, aku mendapat dukungan penuh dari keluarganya, tidak seperti kamu."


Nanda tersenyum miring. Tanpa disebutkan namanya, Sisil tersindir dan mempermalukan dirinya sendiri. Kalimat terakhir Sisil juga membenarkan pemikirannya tentang keluarga suaminya. Sangat keterlaluan.


Nanda berdiri. "Tolong ya pelakor, jangan ganggu suamiku lagi." Wanita itu berjalan menghampiri Sisil dan Rika. "Cari pria lain, jangan suami orang, segitu nggak lakunya--"


Plak!


Sisil menampar Nanda dan hal itu membuat Rika membulatkan matanya. Orang sekitar mulai kasak kusuk membicarakan insiden yang mereka lihat.


Nanda memegang pipinya yang sakit. Dia menatap Sisil dengan tatapan tajam.


"Kamu mandul, kamu nggak pantas bersama mas Rud--"


Plak!


Nanda menampar Sisil. Tamparan itu sekuat tenaganya hingga membuat selingkuhan suaminya itu jatuh terduduk di lantai.


"Nanda! Kamu ini! Kasar sekali." Rika membantu Sisil berdiri. "Aku akan adukan kamu sama Rudi," ucap Amel dengan nada mengancam.


Nanda tersenyum miring. Dia ingin tertawa rasanya. Rika bener-benar berada di pihak yang bersalah. "Adukan, aku nggak takut. Aku hanya melakukan peranku sebagai seorang istri yang tengah memperjuangkan suami dan rumah tangganya, tapi jika ini di mata Mbak, salah, aku harap Mbak akan merasakan berada di posisiku suatu hari nanti."


"Nanda!"


Nanda memakai kaca matanya, tersenyum miring dan berjalan pergi dari Cafe.

__ADS_1


__ADS_2