Buah Dari Perselingkuhan

Buah Dari Perselingkuhan
Bab 33


__ADS_3

Sumi berjalan masuk ke kamar kaca. Dia menggoyang lengan Andi, membangunkan anaknya itu untuk makan malam.


"Andi, Nak, bangun dulu. Makan malam dulu," ucap Sumi.


Andi membuka matanya perlahan. Mata sembab itu menatap sekitar. "Bu, Sindi mana? Tadi, tadi Andi mimpi Sindi meninggal, Bu. Sindi baik-baik saja, kan?" tanya Andi sembari duduk. Matanya masih melihat sekitar, mencari sosok anaknya.


Sumi yang berdiri di depan Andi itu beralih duduk di samping anaknya. Hatinya teriris kala anaknya itu menyangka kejadian tadi adalah mimpi. Air matanya menetes, setelahnya memeluk Andi.


Andi yang mendapat pelukan seketika kembali menangis. Pelukan ini jelas kode untuknya dari sang ibu untuk sadar dan tabah dengan keadaan.


"Bu, Sindi--"


"Ikhlaskan, Nak. Dia sudah bahagia di sana," ucap Sumi.


Andi menangis meraung-raung. Dia sangat kehilangan buah hatinya itu. Bagaimana bisa anaknya yang tadi pagi sehat-sehat saja, baik-baik saja tiba-tiba sorenya meninggal dunia?


"Sindi, kenapa kamu tinggalin papa, Nak," ucap Andi lirih sembari membalas pelukan Ibunya.


**


Sisil berada di kamar mandi. Wanita itu pun menangis sejadi-jadinya di bawah guyuran air dari shower. Dia merasa sangat kehilangan, terlebih merasa sangat bersalah atas kematian anaknya. Harusnya tadi dia bersama Sindi di rumah, mereka bermain dan dirinya melakukan tugasnya sebagai seorang Mama, supaya saat kejadian begini ada kenangan masih yang bisa diingat, tetapi yang terjadi adalah kebalikan. Meninggalnya Sindi membuatnya merasa jahat dan gagal menjadi orang tua.


"Hiks!"


Sisil merapatkan lututnya dan mempererat pelukan.


***


Nanda terbangun. Langsung merasakan lapar yang luar biasa menyerang perutnya. Tadi, karena kesal dengan Rudi, dia tidur dan melewatkan makan malamnya.


Nanda duduk dan mendapati di sisi kasurnya kosong. Dia menghela napas dan baru teringat kalau dia mengunci pintu. Walaupun Rudi punya kunci cadangan, pria itu selalu tidak pernah memakainya kalau dirinya sedang marah dan memutuskan mengunci diri di kamar.


Wanita itu menurunkan kakinya, tetapi seketika dia teringat Sindi. Bibirnya mengulas senyuman manis. "Semoga dia suka sama bonekanya." Nanda menghela napas. "Andai aku bisa punya anak ... Huft!" Nanda memilih segera turun dari ranjang dan pergi ke dapur. Dia tidak mau memikirkan hal yang membuatnya sedih.


Ceklek!


Nanda membuka pintu. Dia langsung berjalan menuruni tangga. Sebelum ke dapur, matanya mendapati Rudi yang tidur di sofa. Pria itu masih memakai pakaian kerja. Tidak berniat menghampiri dan menyuruh pindah tidur di kamar, Nanda memilih melanjutkan langkah ke dapur. Dia sangat kecewa dengan suaminya itu dan memilih abai.


***

__ADS_1


Sisil keluar kamar mandi hanya memakai handuk. Dia melihat Andi dan Sumi yang berjalan ke luar dari kamar kaca. Langkah wanita itu berhenti saat matanya beradu tatap dengan mata Suaminya yang tajam ke arahnya. Seketika dia merasa susah menelan saliva. Tatapan itu seperti memojokkannya, menuduhnya bersalah dalam perkara kematian anaknya.


"Mas, tadi setelah makan, kami tidur dan aku nggak tau kalau Sindi akan tidur selamanya," ucap Sisil dengan tubuh yang bergetar.


"Nggak ada yang salahin kamu, Sil. Cepat pakek baju dan kita makan malam bersama. Kita memang lagi berduka, tetapi kita butuh tenaga untuk melalui hari demi hari," ucap Sumi.


Sisil mengangguk. Segera berjalan ke arah lemari. Membuka dan mengambil pakaian.


Sumi mengajak Andi kembali berjalan, tujuan mereka adalah dapur.


**


Mereka bertiga di meja makan, dihadapkan dengan makanan, tetapi tidak ada satu orang pun yang melahap makanan dalam piring. Air mata mereka mengalir deras sembari mengaduk makanan.


Andi menaruh sendok, dia berdiri dan berjalan kembali ke kamar. Pria itu mengambil ponsel dan kunci mobil, setelahnya berjalan cepat ke pintu, tetapi langkahnya terhenti karena melihat Sisil.


"Mau ke mana, Mas?" tanya Sisil.


Andi tidak menjawab, pria itu malah kembali berjalan. Melihat Sisil, membuatnya mengingat betapa teganya wanita itu menyia-nyiakan waktu bersama anaknya demi bersama selingkuhannya. Apa lagi mengingat saat Sindi panas dan wanita itu tetap pergi dengan alasan pelanggan, nyatanya pergi ke pesta dengan Rudi. Sekarang, setelah kepergian anaknya, wajah wanita itu terlihat sangat sedih, sungguh mengelikan.


"Mas! Kamu mau ke mana?" teriak Sisil.


Teriakan Sisil membuat Sumi menghampiri menantunya, dia melihat Andi yang berjalan cepat melewatinya. Wanita itu beralih mengejar Anaknya.


Andi yang sudah memegang knop pintu utama, menoleh. "Aku keluar bentar, Bu." Pria itu langsung membuka pintu, setelahnya berjalan keluar.


"Mas?!"


Panggilan Sisil tidak membuat Andi kembali masuk ke dalam rumah.


***


Setelah kenyang dengan hanya meminum susu dan makan satu buah apel, Nanda kembali ke kamarnya. Dia sama sekali tidak berniat membangunkan Rudi.


Sampai di kamar, wanita itu langsung naik ke ranjang. Duduk selonjoran bersandar di kepala ranjang, setelahnya mengambil ponselnya di atas nakas, mengotak-atik.


Entah kenapa dia merasa sangat rindu dengan Sindi. Nanda pun membayangkan momen-momennya bersama anak kecil mengemaskan itu. Dia bersyukur berselingkuh dengan Andi karena bisa membuatnya merasakan menjadi seorang Mama.


Nanda membuka galeri di ponselnya dan melihat beberapa fotonya bersama Sindi.

__ADS_1


"Sindi, kamu kangen Tante nggak? Malam ini kok Tante kangen kamu banget, sih?"


Nanda mengusap wajah Sindi di foto itu, senyumnya merekah indah. "Makasih udah mau jadi anak Tante. Tante sayang sama Sindi." Ucapan itu membuat air mata Nanda menetes. Wanita itu menyeka dan cukup kaget kenapa dia tiba-tiba bisa nangis.


"Hah! Serindu ini aku sama Sindi sampai nggak terasa air mata mengalir," ucapnya kembali menyeka air mata yang menetes.


***


Andi memutuskan ke makam Sindi. Walaupun gelap dan seram, pria itu tidak ada rasa ragu atau takut untuk berjongkok di sisi gundukan tanah yang terdapat banyak taburan bunga segar.


Andi memegang batu nisan, mengusap, pria itu mengigit bibir bawahnya guna menahan tangisan.


"Sayang, papa datang. Papa temani kamu, ya. Kamu pasti takut sendirian." Andi duduk. Dia menghela napas. Diam membuatnya membayangkan banyak momen kebersamaan dengan anaknya hingga pria itu kembali menangis karena merasa sangat kehilangan.


Dreet!


Andi berhenti menangis, dia menyeka air matanya, setelahnya mengambil ponsel dari saku celananya.


Nanda.


Andi langsung menerima telepon. "Ya, Nda?" tanyanya dengan suara serak.


"...."


"Aku lagi di kuburan."


"...."


"Sindi meninggal, Nda. Hiks!" Andi menutup mukanya dengan sebelah tangannya.


"...."


"Nggak. Kita ketemu besok. Ini sudah malam."


"...."


"Nda--" Andi menyeka air mata dengan punggung tangannya. Mendengar Nanda yang menangis dan memaksa dirinya menyebutkan keberadaannya sekarang, Andi pun akhirnya menyetujui Nanda datang menghampirinya. "Aku serlok."


"...."

__ADS_1


Andi menurunkan ponsel dari telinganya. Dia menghela napas dan kembali menatap gundukan tanah yang sekarang menjadi rumah anaknya.


"Tante Nanda mau ke sini untuk menemuimu, Nak," ucapnya.


__ADS_2