Buah Dari Perselingkuhan

Buah Dari Perselingkuhan
Bab 7


__ADS_3

[Mas, aku belum jadi pulang, temanku parah lagi kondisinya, tadi pingsan lagi dan kejang-kejang.]


Andi menautkan alis matanya saat membaca chat dari Sisil. Dirinya sudah duduk di teras rumah bersama Sindi untuk menyambut, malah dikecewakan karena wanita itu tidak bisa pulang.


Andi menelepon, tetapi ponsel Sisil tidak aktif. Pria itu tidak mengerti dengan kondisi ini.


Di sisi lain, Sisil tengah berjalan masuk ke rumah megah keluarga besar Jaelani. Dia bersama Sani dan Rika yang berjalan di sisi-sisinya dan di sambut Salma dengan suka cita.


"Selamat datang di rumah kami. Percobaan tinggal, semoga kamu betah. Nanti, setelah menikah sama Rudi, jangan minta pindah dari sini, ya," ucap Sukma sembari menuntun Sisil ke sofa beludru yang terlihat sangat berkelas.


"Aku suka di sini, Bu. Kalian sangat baik dan di sini ramai." Sisil melihat anak-anak yang tengah berlarian. "Aku suka anak-anak," sambungnya.


"Nanti anak kamu dan Rudi akan ada diantara mereka," ucap Rika yang duduk di sisi suaminya, sedang memangku anak ketiga mereka yang masih berumur 6 bulan.


Sisil mengigit bibir bawahnya. Dia menikah dengan Rudi bukan ingin punya anak karena pria itu tidak bisa, dia hanya terlalu mencintai pria itu dan ingin terus bersamanya.


"Rudi belom ke sini? Padahal aku dah bilang ada Sisil, loh," ucap Rika sembari mengotak-atik ponselnya.


"Kalau sampai malam nggak datang, ibu yang akan telpon," ucap Sukma.


Rika mengangguk. Kalau gitu ibu dan Sisil berpose. Aku fotoin."


Sisil dan Sukma melakukan suruhan Rika. Dua orang itu tersenyum sangat manis di depan kamera.


"Calon mertua vs calon menantu," ucapnya sembari menulis caption foto itu yang akan di unggah di story' wa.


***


Nanda duduk di tepi kasur. Dia habis mandi dan sekarang gantian Rudi yang mandi. Suaminya tadi pulang, langsung mengajaknya bicara, tetapi dirinya yang malas memilih masuk kamar mandi. Tadinya sudah mandi, jadi mandi dua kali. Pas keluar, suaminya masih ingin mengobrol, akhirnya dia mengatakan mandi dulu baru kita ngobrol, membuat Rudi langsung cepat-cepat masuk kamar mandi.


Nanda melihat-lihat fotonya dengan Mimi tadi. Dadanya seketika sesak. Andai tidak mandul, pasti dia bisa mendapatkan bayi selucu ini, sayangnya ....


Tring!


Chat masuk itu dari Megan.


[Mau makan malam bareng? Suami aku beli ayam keranjang lima keranjang.] Emot ketawa ditaruh di akhir kalimat.


Nanda tersenyum. [Nggak, makasih. Aku mau di rumah aja.] Tolaknya halus.


[Kalau ada apa-apa, kabarin aku.]


Nanda mengirim stiker jempol yang besar, setelahnya wanita itu melihat ke bagian story'.


Dia mengigit bibir bawahnya saat meng-klik kontak Rika dan yang muncul adalah foto Sisil dengan mertuanya. Dua orang yang terlihat sangat bahagia.


"Oh, dia ada di rumah sana," ucapnya dengan suara yang tercekat. Panas dadanya, matanya berkaca-kaca dan ....


Ceklek!

__ADS_1


Nanda menyeka cepat air matanya karena pintu kamar mandi terbuka. Dia menaruh ponsel di atas nakas dan memilih berbaring dengan selimut yang menutupi sebatas leher.


"Sayang, kamu mau tidur?"


"Iya."


Rudi yang masih memakai handuk, menghampiri istrinya. "Katanya setelah mas mandi, kita mau bicara."


"Mas bicara aja, aku tidur."


Rudi tersenyum simpul. Istrinya ini sangat lucu. "Sayang, nggak bisa gitu." Pria itu berjongkok dan mengusap lembut pipi istrinya.


Nanda membuka mata, beradu tatap dengan suaminya. Dia merasa terpesona dengan ketampanan suaminya, begitu juga dengan Rudi, tatapan teduh istrinya itu membangkitkan gairahnya apalagi dia belum menyentuh Nanda setelah mereka baikan.


Merasa ada harapan, Rudi memajukan badannya. Bibirnya mendekat ke bibir ranum istrinya.


Cup!


Ciuman itu bukan di bibir, melainkan di pipi istrinya karena wanita itu menoleh, menghindar.


Rudi menarik diri dan menatap penuh kekecewaan. "Mau sampai kapan kamu anggurin mas kayak gini, Sayang?" tanyanya lirih.


Nanda diam. Dia ingin, merasa iba juga, tetapi tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau dia merasa jijik karena suaminya pernah melakukannya dengan wanita lain.


Rudi duduk di tepi kasur. "Mas minta maaf. Mas khilaf. Mas sudah nggak mengulanginya lagi dengan dia. Mas butuh kamu, Sayang." Pria itu menoleh dan melihat istrinya malah memejamkan mata. "Sa--"


Dreet!


"Hallo, Bu."


"...."


"Aku nggak bisa. Nanda sudah tidur."


"...."


Rudi menatap Nanda yang kini menatapnya dengan tatapan sendu.


"Baik, aku ke sana. Habis makan malam aku pulang, ya."


"...."


Tut!


"Mama ngundang aku makan ma--"


"Aku ikut."


Rudi tersenyum. Dia mengangguk.

__ADS_1


**


Jantung Nanda berdegub kencang. Dia ikut ke rumah mertuanya hanya ingin memastikan perlakuan keluarga itu padanya setelah ada calon menantu baru.


"Sayang, kamu terlihat gugup," ucap Rudi. Pria itu mengemudi dengan laju yang pelan. Sejujurnya dia merasa gugup juga karena harus berada diantara istri sah dan selingkuhan.


"Aku biasa aja. Mas yang terlihat gugup."


Rudi menggeleng.


Mobil mereka berhenti di garasi. Nanda turun dan berjalan duluan,meninggalkan Rudi. Pria itu segera menyusul dan menggenggam tangan istrinya. Kemudian berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.


Senyuman lebar Sukma, Sani, Rika dan Sisil luntur saat melihat Nanda berada di sisi Rudi. Kedatangan wanita itu membuat momen makan malam yang terencana menjadi berantakan.


"Selamat malam semuanya," ucap Nanda menyapa keluarga suaminya.


Tidak ada yang menjawab, hanya anggukan dari Danu, Radit dan Jaelani. Sedang tiga wanita dewasa itu melengos.


"Ayo kita mulai makan malamnya," ucap Jaelani. Semua pun menuju ke ruang makan.


"Mas, mau aku ambilkan?" Sisil dengan tidak tahu malu menawarkan diri.


Rudi menoleh ke sisinya, pada Nanda yang terlihat acuh. Wanita itu malah mengangguk, membolehkan dan dengan bingung Rudi menyerahkan piring pada Sisil.


Nanda mengepalkan tangan di bawah meja. Pemandangan ini sungguh tidak baik untuk hatinya. Namun, dia berusaha kuat agar tahu sebatas mana pengertian orang-orang ini.


"Ini, Mas." Sisil menyerahkan piring berisi nasi beserta lauk pauk dan Rudi menerima dengan senyuman manis.


"Kalian cocok sekali," ucap Rika memuji.


"Lebih bagus istrinya yang mengambilkan," ucap Radit. Dia sebenarnya tipikal yang jarang bicara, tetapi malam ini perdana dia bicara dan seperti membela Nanda.


"Mas--"


"Kalian itu kalau mau ngelakuin sesuatu, coba mikir kalau hal itu terjadi pada kalian. Jangan mentang-mentang Nanda mandul, kalian seenaknya mencari pengganti, kalau itu ada di posisi kalian, gimana perasaan kalian?"


Ucapan itu menohok Rika, Sani dan Sukma. Serta membuat Rudi merasa malu dan bersalah.


"Mas--"


"Andai Rudi yang mandul dan Nanda selingkuh, apa Rudi akan terima?"


Deg!


Tubuh Rudi seketika bergetar.


"Radit, kamu bilang apa, sih. Kami melakukan ini supaya Rudi ada generasi penerusnya," ucap Sukma.


"Andai begitu, kalian bisa bicarakan dengan Nanda dan aku yakin dia akan menerima. Jadi nggak perlu status selingkuhan dan memojokkan seperti ini." Radit berdiri. Aku selesai." Pria itu pergi.

__ADS_1


Nanda mengigit bibir bawahnya. Dia merasa bahagia ada yang mengerti posisinya. Walaupun satu orang.


__ADS_2