Buah Dari Perselingkuhan

Buah Dari Perselingkuhan
Bab 20


__ADS_3

Walaupun hatinya sakit, rasa amarah sudah sampai di ubun-ubun, Nanda menekan rasa itu dan menggantinya dengan senyuman manis saat menyambut kedatangan suaminya dari kantor. Seperti biasa, Nanda langsung mengambil tas dan membawanya ke kamar. Dia tidak banyak bicara, hanya tersenyum saat melakukan tugasnya.


"Sayang," panggil Rudi yang mengikuti Nanda dari belakang. Mereka berdua kini sudah ada di kamar.


"Mandi, Mas, aku akan membuat makan malam."


Rudi mencekal tangan Nanda, menahan istrinya yang mau keluar itu. Dia merasa bersalah dan perlu mengklarifikasi. Dia ingin menjelaskan masalah Sisil juga. Ingin terbuka dengan istrinya supaya hubungan mereka tetap terjaga.


"Mas, aku mau masak," ucap Nanda sembari menatap tenang wajah Suaminya.


"Masalah ditelpon tadi--"


"Kalau masalah itu ... Sepertinya speaker ponselku rusak, nggak ada suaranya jadi aku bersyukur kamu matiin telponnya. Setelahnya aku langsung ke konter buat perbaiki. Sekarang udah bagus."


Berbohong adalah pilihan terbaik buat Nanda. Dia tidak ingin berdebat apalagi bertengkar, karena bisa saja menghancurkan rencana balas dendamnya. Karena kalau dia marah, dia jelas akan meminta cerai.


Alis mata Rudi bertaut. Benarkah begitu? Seketika hatinya merasa lega karena istrinya tidak tahu kalau Sisil datang membawa bekal makan siang.


"Mas mau aku masakin apa?" tanya Nanda.


Rudi menggeleng. "Ibu ajak kita makan bersama di rumah sana. Kamu mau datang?"


Nanda mengangguk tanpa pikir panjang. "Tentu."


"Sepertinya nanti akan ada pembicaraan tentang--"


"Biar aku mendengarnya di sana, Mas. Jangan membuatku merasa khawatir dan enggan datang, mereka akan berpikiran buruk tentang sikapku nanti. Kamu nggak mau makan, kan?kalau gitu aku mau ambil cemilan dulu." Nanda berjalan dan kali ini Rudi melepaskan tangannya, membiarkan istrinya itu pergi meninggalkannya.


**


Nanda membuka kulkas. Dia mengambil sosis siap makan. Memakannya sembari berjalan menuju teras. Wanita itu melihat pemandangan langit, setelahnya menghela napas berat. Dia merasakan beratnya hidup berpura-pura ini.


Nanda duduk di sofa. Bersandar dan memakan sosis sambil merenung. Jelas nanti malam akan ada hal besar terjadi, entah apa. Dia harus menyiapkan mentalnya.


Nanda mengeluarkan ponsel dari saku celana belakangnya. Dia mengirim chat pada Andi, mempertanyakan apakah nanti malam istrinya akan pergi atau tidak.


***


Tring!


Andi yang tengah menemani main Sindi di kamar kacanya, mengambil ponsel yang berada di sampingnya. Chat Nanda langsung dibaca dan dibalas.


[Aku belum tau. Nanti aku pastikan dan kabarin kamu.]

__ADS_1


Andi menatap ke pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Sisil ada di dalam sana, sedang membersihkan diri setelah pulang dari bepergian.


"Papa, ain agi ayo."


Andi menatap Sindi. Dia mengangguk dan kembali bermain membuat sesuatu dari balok-balokan, bersama sang anak.


Tidak lama Sisil keluar dengan hanya memakai handuk mini. Dia beradu tatap dengan Andi, memberi suaminya itu senyuman manis dan segera berjalan ke lemari.


"Sil, nanti malam mau ke luar?" tanya Andi.


Sisil menoleh. "Emang kenapa, Mas?"


"Kalau nggak, kita bisa jalan-jalan. Sindi sepertinya bosan di rumah terus, dia perlu jalan-jalan dan sudah lama juga kan kita nggak jalan bertiga," ucap Andi. Pria itu mengendong anaknya dan berjalan keluar kamar kaca, berjalan ke ranjang dan duduk di tepi.


"Aku sih mau. Aku juga kangen jalan bertiga, tapi aku sudah ada janji." Sisil memakai dalaman, setelahnya mengenakan gaun selutut, bertali spaghetti, berwarna pink. "Aku ada janji sama teman lama. Kami membuat janji reuni di salah satu restoran. Aku udah janji mau datang, gimana dong?" tanyanya sembari berbalik, menatap Andi.


"Jadi lebih penting reuni daripada jalan-jalan dengan anak kita?"


Sisil menggeleng. "Mas kok sensi gitu, sih? Biasanya juga bolehin aku hadirin reuni. Jarang-jarang kita bisa kumpul, Mas, kalau jalan-jalan sama kalian besok juga bisa."


Andi mendengkus. Dia berdiri dengan Sindi yang berada di gendongnya. "Kamu itu makin aneh, Sil. Waktu itu kamu nolak memberi jatahku, sekarang kamu sering pergi mendadak. Apa sih yang kamu sembunyikan?" tanyanya menahan kenal. Andi inginnya meledak, tetapi dia menahan diri karena punya kesepakatan dengan Nanda.


"Mas kenapa bilang gitu, sih?"


***


Nanda menghela napas. Setelah mendapat chat dari Andi, Nanda tersenyum miris. Sisil jelas akan ada di makan malam, berarti kemungkinan besar hal yang akana dibahas adalah masalah pernikahan Sisil dan suaminya.


"Sayang," panggil Rudi. Pria itu berjalan menghampiri Nanda. Duduk di samping wanita itu. "Kenapa sendirian? Mas di kamar loh."


"Pengen di sini aja."


Rudi mengangguk. "Kamu pakek baju yang kerah lehernya tinggi, nggak biasanya, apa kamu sakit?" tanyanya.


Nanda menggeleng. "Pengen ganti gaya berpakaian aja." Wanita itu menghela napas. Nyatanya dia harus menutup tanda merah yang Andi buat. Mengingat tanda merah, seketika Nanda mengingat kejadian hot mereka. Di mana mereka bisa bermain sangat lama, benar-benar bergairah dan merasa gila karena melakukan beberapa kali.


Nanda mengigit bibir bawahnya saat mengingat milik Andi yang besar itu memasukinya. Sensasi nikmatnya membuatnya merasa ketagihan waktu itu. Hingga tanpa malu mendesah nikmat, mencapai puncak berulang, melupakan kalau dirinya adalah istri orang.


"Sayang," panggil Rudi.


Nanda mengerjap. Dia langsung menoleh pada Rudi dan tersenyum semanis mungkin. Wanita itu merasa gila karena memikirkan permainan dengan pria lain sementara ada suaminya di sisinya.


"Kenapa?" tanya Rudi.

__ADS_1


Nanda menggeleng. "Aku baik-baik saja. Aku mau masuk. Mandi. Aku merasa gerah." Wanita itu berdiri dan berjalan masuk.


Rudi menghela napas. Dia merasa sikap istrinya sangat berbeda dan dia juga tahu alasannya. "Maafkan aku, Sayang, aku hanya ingin memiliki keturunan."


***


Nanda dan Rudi sampai di rumah Sukma. Dua orang itu berjalan bergandengan tangan berjalan mesum ke bangunan megah dengan furniture yang mahal.


"Mas Rudi."


Baru sampai di teras, Sisil berdiri dari duduknya di sofa, tersenyum manis dan melambai, membuat mood Nanda buruk. Wanita itu sungguh tidak tahu malu, menyapa seorang suami yang ada istrinya di samping.


Rudi menoleh, menatap Nanda. "Ibu yang mengundangnya," ucapnya memberitahu.


Nanda mengangguk.


"Aku disuruh nunggu kamu sama ibu, Mas, jadinya aku di sini." Sisil menghampiri Rudi dan bergelendotan manja di lengan pria itu, mengabaikan tatapan datar Nanda.


"Sisil--"


"Aku masuk duluan." Nanda melepas tautan tangannya dengan Rudi dan melangkah masuk. Dia lebih baik meninggalkan insiden yang membuatnya kesal.


Rudi menghela napas. "Sil, jangan begini kalau ada Nanda. Tolong jaga perasaannya."


"Mas, kita harus biasain dia lihat kita begini biar dia nggak kaget pas kita bersama."


Rudi menghela napas. Tabiat Sisil keluar. Jika dilarang, selalu punya alasan untuk membuat larangan itu seperti suruhan.


"Ayo masuk." Sisil menarik lengan Rudi dan mereka berdua pun berjalan masuk.


***


Andi mencengkeram ponsel dengan kuat. Nanda baru saja mengabari kalau Sisil ada di rumah mertuanya, sedang makan malam bersama mereka. Reuni dengan teman, itu bohong. Istrinya benar-benar sudah keterlaluan.


[Kamu nggak ke sini?] tanya Andi membalas chat Nanda. Entah mengapa dia ingin Nanda menghiburnya.


[Malam ini nggak bisa. Sepertinya ada hal yang mau dibahas bersamaku. Udah dulu. Kami mau makan. Salam buat Sindi.]


Andi tersenyum. Hatinya merasa hangat saat Nanda memberi perhatian pada Sindi. Pria itu menatap sang anak yang tengah menonton kartun di televisi sembari memeluk bonekanya.


"Sindi dapat salam dari tante Nanda."


Sindi menoleh, melihat Papanya. Gadis kecil itu mengangguk, tanda menerima salam dari Nanda.

__ADS_1


[Nanda menerima salam darimu.] Andi mengirim balasan pada Nanda.


__ADS_2