Buah Dari Perselingkuhan

Buah Dari Perselingkuhan
Bab 36


__ADS_3

Andi mengantar Nanda ke rumahnya.


"Makasih, Nda, " ucap pria itu dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya.


"Sama-sama. Kalau butuh aku, kabarin aja," ucap Nanda sembari membuka sabuk pengaman.


Andi mengangguk. "Kamu mau ke kantor suamimu?"


Nanda mengangguk. "Iya. Aku udah janji mau makan sama dia."


Andi mengangguk-angguk pelan. "Kamu pulang dulu mau ganti baju dan masak?" tanyanya. Dia memperlama waktu untuk bisa bersama wanita yang membuatnya nyaman.


Nanda mengangguk. "Ya, paling nggak, ganti baju. Bau parfummu jelas menempel di bajuku, Mas." Wanita itu menjeda. "Mas sampai rumah langsung makan siang, pokoknya harus jaga kesehatan. Ingat, Mas hidup baik, Sindi di atas sana akan senang."


Andi mengangguk. Ya, tadi sehabis mereka sarapan, dia memulai sebuah ciuman yang tidak menuntut, setelahnya dia mengajak Nanda berbaring, mereka berpelukan sampai tertidur lelap. Saat bangun, mereka langsung memutuskan pulang.


"Ya udah, bye!" Nanda membuka pintu, tetapi berhenti saat lengannya di pegang Andi. Wanita itu menoleh, menatap wajah selingkuhannya yang ... Dia tidak bisa menebak. Semacam raut wajah yang tidak ingin ditinggalkan.


"Bye," ucap Andi, setelahnya melepas pegangannya dari lengan Nanda.


Nanda menghela napas. "Kenapa? Apa ada yang mau dibicarakan?" tanya wanita itu.


"Nggak ada."


"Yakin?"


Andi mengangguk. "Masuk rumah. Masak, ganti baju, setelahnya ke kantor suamimu."


Nanda memicingkan matanya, menatap intens ke arah wajah Andi. Pria itu menyuruh, tetapi dari nada suaranya seperti melarang.


"Mas mau mampir?" tanyanya.


"Emang boleh?" tanya Andi antusias.


Nanda tersenyum, setelahnya mengangguk.


"Nanti tetanggamu curiga, gimana?"


Nanda menggeleng. Tetanggaku nggak rempong. Kamu-kamu, aku-aku."


"Rumahmu ada cctv nya?"


Nanda menggeleng. "Jadi, mau masuk? Aku buat makan siang, setelahnya kita makan bersama barulah berpisah. Mas pulang ke rumah, aku ke kantor suamiku."


Andi menggeleng. "Aku pulang saja. Jangan sampai tiba-tiba suami kamu datang. Kita kelabakan."


Nanda tertawa pelan. "Mau makan masakanku? Kalau iya, nanti aku kirim ke rumahmu, Mas."


Andi mengangguk. Dia kembali memegang lengan Nanda, menarik dan mengecup bibir wanita itu. "Aku tunggu masakanmu," ucapnya saat menarik bibirnya sedikit.

__ADS_1


Nanda mengecup bibir Andi gantian. "Oke."


***


Andi sampai rumah. Dia duduk di sofa dan menghela napas. Kemudian memijit pelipisnya yang berdenyut nyeri. Berada di rumah, seketika suasana hatinya kembali kacau. Bayangan Sindi yang tengah bermain boneka, Sindi yang lari ke sana ke mari, Sindi yang memanggilnya untuk meminta sesuatu, hadir memenuhi benaknya.


"Andi, kamu baru pulang?"


Pertanyaan itu membuat Andi menoleh. Pria itu mendapati Sumi, Ibunya berjalan menghampirinya dan duduk di sisinya.


"Iya, Bu," jawabnya.


"Kamu dari mana?"


"Semalam di makam Sindi, Bu."


"Ya ampun, Nak, jangan kayak gini, Sindi nggak akan tenang kalau kamu seperti ini." Sumi menatap sendu pada anaknya yang terlihat frustasi. "Kamu udah makan, Nak?"


"Pagi udah, Bu. Siang ini belom."


"Ya udah, mandi, habis itu makan. Ajak Sisil, dia belum makan dari pagi karena nunggu kamu."


Andi mengangguk. Dia berdiri dan berjalan ke kamarnya. Sumi menghela napas dan berdiri juga, berjalan menuju dapur.


***


Nanda memasak udang asam manis dan capcai yang cukup banyak. Dia kini tengah memasukkan nasi hangat ke wadah bekal. Ada dua, satu untuk suaminya, satunya akan di kirim ke rumah Andi. Selesai dengan nasi, wanita itu menuangkan lauk itu ke wadah juga.


Ponsel yang tergeletak di atas meja, berbunyi.


Nanda mengambil, melihat. Suaminya mengirim chat.


[Jadi ke sini, Yank?]


Nanda memilih langsung menelepon dan Rudi dengan cepet menerim telepon itu.


"Aku masih mengatur bekal," ucap Nanda. Tangannya kembali beraktifitas. Telepon di speaker, jadi dia tidak harus merasa ribet.


"Masak apa, Sayang?" tanya Rudi.


"Udang Adam manis sama capcai. Mau request sesuatu?" tanya Nanda.


"Ya, mas request kamu cepat datang. Mas kangen kamu juga pengen makan masakanmu."


Nanda tanpa sadar tersenyum, setelah sadar, dia menghela napas. Andai tidak ada orang ketiga di saat dia tervonis mandul, jelas ucapan suaminya itu akan menambah poin cintanya pada pria itu. Sayangnya ....


"Yank?"


"Ya," jawab Nanda.

__ADS_1


"Cepat datang, hati-hati di jalan."


"Oke."


***


Rudi menaruh ponsel di atas meja. Dia yang mau memulai memeriksa berkas lagi, harus mengurungkan niat, mengambil ponselnya kembali karena benda pipih itu bergetar, tanda ada telepon masuk.


"Mbak Rika," ucapnya. Pria itu langsung menerima telepon.


"Ya, Mbak?"


"...."


"Aku belum mikir itu. Sepertinya hal itu nggak perlu. Kami akan melakukan dengan cara kami walaupun tetap di sini," jawab Rudi saat Rika bertanya masalah sudahkah memilih tempat liburan?


"...."


Rudi menghela napas saat Rika di seberang sana mengatakan kalau masih di kota ini, keberadaan Nanda jelas akan menganggu proses pembuatan anak, jadi mereka berdua harus benar-benar dalam kondisi baik, lokasi yang baik, dan fokus membuat anak saja.


"Nanda jelas nggak akan setuju kalau aku minta izin dia untuk melakukan hal ini?" Rudi memijit pelipisnya. Dia bingung. Anak atau menjaga perasaan istrinya? Dia tidak bisa menentukan.


"...."


Rudi mengigit bibir bawahnya. "Nanti aku kabarin, Mbak. Coba tanya Sisil. Dia maunya gimana," ucapnya.


"...."


"Ya udah."


Tut!


Komunikasi mereka berakhir. Rudi menghela napas berat. Haruskah pergi bersama Sisil tanpa memberitahu Nanda seperti ide Rika?


***


Andi keluar dari kamar mandi. Dia melihat istrinya yang tidur sangat nyenyak. Dia segera ke lemari, mengambil pakaian dan memakainya. Bukan menghampiri sang istri yang katanya belum makan dari pagi, pria itu memilih ke kamar kaca. Rebahan di kasur yang biasanya di tiduri Sindi. Bau tubuh gadis kecilnya itu masih melekat di seprai.


"Kenapa kamu cepat ninggalin papa, Nak?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.


"Padahal, paginya kamu baik-naik saja, kamu ceria, tapi sorenya kamu malah pergi untuk selamanya." Air mata pria itu menetes.


"Nggak ada kamu rasanya hidup papa sepi, Nak. Papa nggak semangat lanjutin hidup." Andi berniat mengambil guling yang biasanya Sindi peluk, tetapi diurungkan karena melihat Bonek terakhir yang Sindi peluk. Boneka itu pemberian Nanda.


"Kenapa kamu cepet pergi, Nak." Andi mengambil boneka itu dan memeluknya erat. Dia memejamkan mata dan terisak.


**


Sisil membuka mata. Dia mendengar suara isakan lirih dan seketika membuatnya merinding. Wanita itu merasa ketakutan. Menganggap tangisan tertahan itu adalah Sindi yang mengganggunya karena kesalahan yang dia buat. Sisil langsung menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya.

__ADS_1


"Sindi, kita sudah beda alam, Nak. Jangan ganggu Mama. Mama minta maaf atas semua kesalahan mama. Jangan ganggu Mama, ya. Please, jangan ganggu Mama," ucapnya dengan tubuh yang mulai bergetar. Rasa bersalah membuatnya sangat ketakutan kalau-kalau Sindi mengetayanginya.


__ADS_2