
Rudi tergesa-gesa masuk ke dalam rumah. Pria itu langsung menuju ke kamar, tetapi tidak mendapati istrinya. "Nanda, sayang," teriaknya sembari berlari keluar. Menuruni tangga dengan cepat, setelahnya menuju dapur. Pria itu bernapas lega melihat istrinya tengah makan sendirian di meja makan.
"Sayang," panggilnya sembari segera menghampiri. Rudi berdiri di sisi istrinya yang masih menunduk dan menyuap makanan dalam mulutnya. "Maaf, semalam--" ucapan pria itu berhenti saat Nanda mendongak, menatapnya,memperlihatkan senyumannya yang lebar. "Sayang, kamu--"
"Nggak papa, Mas. Mas nggak pulang juga nggak papa. Di sana lebih nyaman. Ada orang-orang yang Mas sayangi." Setelah berucap, Nanda kembali menunduk dan kembali melahap nasi goreng buatannya. Hanya sepiring, hanya untuknya.
Rudi menggeleng. "Sayang--"
"Aku lagi makan, Mas. Tolong jangan ganggu dulu," ucap Nanda.
"Kita harus bicara. Kita luruskan masalah kita."
"Kita nggak ada masalah."
"Sa--"
"Baiklah-baiklah." Nanda memotong ucapan Rudi. Wanita itu mendongak dan menatap wajah tegang suaminya. "Duduk di depan sana dan ceritakan apa yang mau Mas ceritakan. Aku ada acara jadi waktuku nggak banyak."
Rudi segera duduk di kursi depan. "Acara apa? Di mana?"
"Di apartemen Megan. Dia datang kemarin dan mengundangku makan."
"Mas ikut."
"Nggak, perlu. Mas harus kerja, kalau nggak, mending ke rumah sakit lagi, jagain selingkuhanmu."
"Nanda, maafin, mas. Kamu salah paham dengan teguran mas kemarin."
Nanda menggeleng. Dia yang sudah memutuskan menjadi Nanda dengan kepribadian baru, membuat dirinya tenang menghadapi suaminya ini.
"Kapan kalian menikah? Aku merestui asal Mas senang, keluarga Mas juga senang. Terlebih supaya Mas jadi seorang ayah, status yang sangat kamu inginkan."
Rudi membulatkan matanya. Dia kaget dengan ucapan Nanda. Istrinya itu tahu tentang pernikahan dan keluarga? Apa ....
"Nggak perlu kaget, Mas. Aku tau semuanya. Lanjutkan saja kalau memang menurutmu itu benar." Nanda tersenyum. "Aku harus pergi," ucapnya sembari berdiri.
"Sayang, tung--"
"Oya. Sampaikan salamku padanya. Bilang sama dia kalau jangan mengharap aku meminta maaf, karena apa yang aku lakukan itu nggak salah." Nanda pun berjalan pergi.
Rudi memijit pelipisnya. Melihat sikap baru istrinya, hatinya merasa nyeri. Dia merasa sangat bersalah. Istrinya berubah pasti karena terlalu kecewa padanya, tetapi dia tidak bisa menolak permintaan mamanya saat memintanya untuk menginap dan menjaga Sisil.
***
"Siapa namanya?" tanya Megan. Wanita itu tengah berhadapan dengan laptop, sedangkan Nanda tengah memangku anak sahabatnya itu.
"Sisil," jawab Nanda. Wanita itu mencium pipi gembul anak Megan, Mimi.
__ADS_1
Megan menekan keyboard laptopnya, setelahnya membalik. "Yang mana dia?" tanyanya pada Nanda. Wanita beranak satu itu tengah mencari akun media sosial Sisil.
"Nggak ada. Akun-akun itu fotonya nggak ada yang mirip Sisil," ucap Nanda.
Megan menghela napas. "Pasti dia pakai nama samaran. Hadeh. Gagal kita nyari informasi dia dari akun media sosial." Wanita itu diam. "Gimana kalau kita ikutin dia. Nanti pas dia udah keluar dari rumah sakit, kita ikutin dia ke rumahnya."
"Aku setuju, tapi dia kapan keluarnya? Kita nggak ada info masalah itu."
"Iya juga."
Nanda menghela napas. "Biar aja udah. Aku akan bertahan aja, kalau nggak kuat aku minta cerai. Masalahnya aku masih cinta banget sama mas Rudi."
Megan menggeleng. "Elo bertahan demi balas dendam. Cinta, buang, Nan, elo udah dikecewakan oleh rasa itu."
Nanda menghela napas. Dia memegang jemari Mimi dan memainkan dengan menaik turunkan, menganyun. "Dia begitu, keluarganya begitu, karena aku mandul. Kalau aku punya anak, pasti nggak akan mereka kayak gitu. Mereka hanya sedang menunjukkan kekecewaannya saja ke aku."
Megan menghela napas. "Walaupun kamu mandul, nggak ada manusia yang bisa menghukum kamu dengan rasa sakit kayak gini. Bertahan memang berat, tetapi kamu harus menghukum orang-orang yang menjahatimu. Pertama, gagalkan pernikahan Rudi dan si gatal itu, apapun caranya."
Nanda diam. menunduk, menatap Mimi yang sangat mengemaskan.
***
Sisil ke kamar mandi membawa ponselnya. Dia mengaktifkan benda pipih itu dan melihat banyak sekali panggilan suara dan chat dari suaminya. Sisil menghapus panggilan itu beserta chat tanpa membacanya. Dia langsung mengetik dan mengirim pada suaminya.
[Aku lagi jagain teman yang sakit, Mas.]
Tidak lama ponselnya bergetar. Beruntung sudah di mode silent jadi tidak mencurigakan orang di luar.
"Kamu di mana, Sil? Ya ampun! Semalaman nggak pulang, nggak ada kabar, kamu mau bikin aku gila?" tanya Andi dari seberang sana.
Sisil yang dapat perlakuan begitu memutar bola matanya. "Aku nemenin teman. Ponsel habis batre dan lupa kabarin kamu." Wanita itu berkilah.
"Siapa temanmu yang bisa bikin kamu lupa sama anak dan suamimu?" tanya Andi.
"Teman kerja. Karyawan di salon. Aku kan harus jadi bos yang baik. Kemarin dia tiba-tiba pingsan dan aku bawa ke rumah sakit, lupa ngabarin kamu."
Terdengar helaan napas dari seberang sana. "Kamu sudah makan?"
"Udah."
"Kapan pulang? Sindi nyariin kamu."
"Nanti sore aku pulang."
"Ya udah. Mas tunggu di rumah."
"Hm."
__ADS_1
Tut!
Sisil mematikan ponselnya. Dia kembali menonaktifkan ponselnya dan keluar kamar mandi.
"Gimana perasaan kamu, Dil?" tanya Rika. Wanita itu bertanya dari tempat duduknya, sofa. Dia bersama dengan bersama Sani, sedang anaknya bersama Sukma, sang mertua di rumah.
"Udah baikan, Mbak. Sore bisa pulang, kan?" jawab Sisil lemah lembut.
"Kalau memang merasa belum baikan, nginap aja semalam lagi," ucap Sani.
Sisil duduk di tepi ranjang pesakitan. "Nggak usah, Mbak. Ngerepotin kalian nanti. Kan, kalian yang jaga."
Rika tersenyum. "Kami nggak repot. Kan, jaga calon anggota keluarga kami."
Ucapan itu membuat pipi Sisil merona.
***
Rudi memijit pelipisnya. Dia tidak bisa konsen dengan pekerjaan. Pikirannya tertuju pada Nanda. Istrinya itu menonaktifkan ponselnya.
"Arrrgh! Salah paham ini akan semakin menjadi-jadi," ucapnya kesal.
Dia tidak ada niatan untuk menikah dengan Sisil. Wanita itu hanya dijadikan tempat curhat dan singgah sesaat saja. Dia hanya mencintai istrinya, tetapi bersama istrinya, dia selalu merasa rendah karena masalah tidak bisa memberikan ****** yang sehat.
"Kenapa ini harus terjadi padaku!" teriaknya, setelahnya menghambur berkas di atas meja.
***
Andi ke rumah ibunya untuk mengambil Sindi. Pria itu membawa gorengan untuk di makan bersama sebelum pulang ke rumahnya.
"Papa datang," ucap Sumi yang mengendong Sindi di teras rumah sederhananya.
"Hay," Andi menyapa anaknya. Mengecup kening gadis kecilnya, setelahnya mengambil alih mengendong. "Ini, Bu."
Sumi mengambil. Dia selalu senang jika mendapat oleh-oleh dari sang anak, itu menurutnya bentuk perhatian. "Ibu buatkan teh untuk kamu, ya."
Andi mengangguk. Dia duduk di kursi teras, sementara Sumi masuk ke dalam rumah.
"Hay, Sayang. Kangen papa nggak, nih?" tanyanya pada anaknya. "Kangen mama, kan? Nanti sore mama pulang. Kita bisa berkumpul lagi." Pria itu mengecup pipi gembul anaknya. Ibunya sangat pintar mengasuh cucunya. Badan Sindi sangat montok. Pipinya gembil, mengemaskan.
"Sisil udah kasih kabar, Ndi?" tanya Sumi yang duduk di kursi sisi Andi setelah menaruh dua nampan berisi dua gelas teh hangat dan sepiring gorengan.
"Udah, nanti sore pulang. Katanya jagain karyawannya yang sakit, ponselnya habis batre dan dia lupa ngabarin."
Sumi menautkan alis mata. "Aneh sekali istrimu itu. Jagain teman kok sampe lupa anak suami. Kamu harus curiga, Ndi. Istrimu beberapa bulan ini mencurigakan."
Andi diam. Istrinya mencurigakan? Itu benar. Malam sering bergadang hanya untuk bermain ponsel. Ponsel nggak pernah lepas dari tangannya walaupun lagi mandi. Wanita itu yang selalu sibuk sampai tidak bisa antar jemput Sindi. Tidak pulang semalaman dan yang paling mencolok adalah menolak memberikan jatah malam padanya.
__ADS_1
"Kamu boleh merasa istrimu setia, tetapi mencari kebenaran karena ulah dia yang mencurigakan, kamu harus," ucap Susi.
"Ya, Bu."