Buah Dari Perselingkuhan

Buah Dari Perselingkuhan
Bab 21


__ADS_3

Makan malam telah usai. Semua duduk di ruang tamu. Nanda duduk bersisian dengan Rudi, sedang Sisil diapit Sukma dan Rina. Jaelani, Radit, Danu dan Sani duduk bersisian di sofa panjang.


"Ada yang mau Ibu bahas malam ini dengan kalian semua," ucap Sukma.


Nanda mengangguk pelan. Dia mencoba tetap tersenyum walaupun jantungnya berdegub sangat kencang.


"Rudi akan menikah dengan Sisil demi hadirnya seorang anak."


Deg!


Radit dan Danu memijit pelipisnya yang langsung terasa nyeri, sedang Nanda masih mempertahankan senyumannya walaupun matanya berkaca-kaca. Demi anak, kata itu tidak bisa dia protes.


"Nanda, tolong restui pernikahan mereka. Rudi harus dapat penerusnya," ucap Sukma menohok hati Nanda.


"Bu," panggil Radit.


Sukma menatap anaknya itu. "Ini nggak adil buat Nanda."


"Nggak adil gimana, Dit. Ibu hanya minta dia setuju Rudi menikah lagi supaya punya keturunan, bukan minta dia mengajukan gugatan cerai. Sama dia, mau sampai kapanpun bakalan nggak punya anak adekmu itu."


Nanda menyeka air matanya yang menetes. Wanita itu menunduk, tangannya bertaut dan saling meremas.


Radit diam. Ucapan Ibunya benar, tetapi dia merasa kasian dengan nasib Nanda. "Rudi, kamu mau menikahi Sisil?" tanyanya.


Rudi menelan salivanya susah payah. Dia menatap Nanda, setelahnya menatap Sisil yang mengangguk padanya. Pria itu memejamkan mata. Janji Sisil masalah akan memberinya anak membuatnya membuka mata, setelahnya mengangguk. "Aku mau, Kak."


Nanda menoleh, melihat wajah suaminya yang tegas itu dengan air mata yang mengalir deras. Dia membekap mulut dan kembali menunduk. Hatinya sangat sakit. Suami yang katanya akan meninggalkan selingkuhannya, kini malah setuju menikahinya.


"Aku ikut rencana kalian saja, tapi aku harap kalian nggak menyesal dengan ini semua, terlebih kamu, Rud. Jangan menyesal dikemudian hari dengan keputusan ini," ucap Danu. Pria itu berdiri dan berjalan pergi.


Radit juga berdiri. "Nanda, setujui kemauan mereka dan kamu mulailah pikirin keputusan untuk kebahagiaanmu. Mandul bukan halangan kamu bahagia. Cari kebahagiaanmu." Setelah berucap, Radit berjalan pergi.


Nanda membekap mulutnya dengan kuat. Air matanya mengalir sangat deras. Hatinya hancur berkeping-keping. Dia memang tidak bisa memberikan anak untuk Rudi, tetapi tidak ingin diduakan. Dia benar-benar kecewa dengan ini semua. Tidak bisakah Rudi berbaik hati hanya mencintainya tanpa perlu anak? Dulu awal menikah mereka berjanji akan terus bersama apapun yang terjadi, tetapi sekarang karena tidak memiliki anak dia ditinggalkan.


"Sayang," panggil Rudi. Dia tahu Nanda sangat terpuruk sekarang, tetapi dia benar-benar ingin punya anak, menjadi seorang ayah. "Aku nggak akan tinggalin kamu. Kelak anak aku dan Sisil akan jadi anakmu juga," ucapnya lembut sembari memegang tangan Nanda yang mengepal di atas paha. Dia tidak akan meninggalkan Nanda.


"Bener, San. Kasihanilah Rudi. Dia sangat ingin jadi ayah, tolong jangan egois," ucap Sani.


Nanda berdiri. Dia tarik napas dan embusan dengan perlahan. Membuka bekapan mulutnya, menyeka air matanya. Dia menatap Sisil dengan tajam. "Menikahlah dan berikan anak yang banyak buat Mas Rudi." Setelahnya Nanda berjalan pergi. Dia yang sudah kecewa dan sakit hati harus mendengar kata jangan egois dan itu membuat pertahanan kesabarannya hancur.


Dia egois karena ingin mempertahankan miliknya, tetapi orang-orang itu egois dengan ingin mengambil miliknya.


"Nanda," panggil Rudi. Pria itu mengejar istrinya. Mencekal tangan wanita itu. "Tunggu, Sayang."


Nanda menyeka air matanya. Dia berbalik, melihat tangan mereka yang bertaut, wanita itu menyentak, melepas tangan pria yang sudah tidak bisa dibanggakan lagi.


"Aku sudah setuju, kenapa ngejar lagi?" tanyanya dengan suara tercekat.

__ADS_1


"Kamu mau ke mana?" tanya Rudi lembut.


"Apa pentingnya kamu tau, Mas."


"Jangan kayak gini, Sayang. Mas tau kamu marah mas mau nikah lagi, tapi ini demi--"


"Demi anak? Baiklah, demi anak aku harus mengalah. Aku harus melupakan janji suci kita yang nggak akan berpisah apapun yang terjadi, aku harus melupakan ucapanmu yang katanya akan meninggalkan Sisil, aku ... Aku juga harus--" Nanda menyeka air matanya. "Aku harus melupakan janjimu yang mengatakan hanya aku seorang yang akan menjadi pendamping hidupmu."


Rudi diam.


"Aku tau ini akan terjadi. Aku mandul dan aku sadar diri. Kamu selingkuh karena aku mandul, keluargamu meminta izin kamu menikah lagi karena aku mandul, tapi bisakah kalian berpikir berada di posisiku? Bisakah kasih waktu aku sebentar lagi untuk tenang, aku pastikan aku yang akan mengatakan supaya kamu menikah lagi supaya dapat anak, bukan membuat skenario begini. Aku sudah tau akan terjadi seperti ini, aku udah nyiapin mental, tapi nyatanya mentalku kalah sama perbuatan kalian yang keterlaluan."


"Sayang, mas--"


"Sisil memang wanita sehat, tapi bisakah kalian mencari tahu dulu tentang wanita itu. Dia nggak seperti apa yang kalian pikirkan."


Rudi menautkan alis matanya. "Maksudmu?"


"Sisil itu sudah bersuami dan mempunyai anak."


"Nggak mungkin," sergah Rudi cepat.


Nanda tersenyum.


"Dia mantan mas saat SMA dulu. Kami berpisah dan bertemu beberapa bulan lalu. Dia mengatakan masih mencintai mas dan menunggu mas, itu tandanya dia masih single, jadinya kami menjalin kasih."


Rudi menggeleng. "Saat SMA kami pernah melakukan sekali sebelum mas pergi."


Air mata Nanda mengalir. Jadi Sisil adalah mantan suaminya. Ini seperti cinta lama bersemu kembali. Sangat manis.


"Oh, begitu. Dia yang pertama untukmu dan kamu yang pertama untukku, Mas."


"Maaf, Sayang." Rudi maju, tetapi Nanda mundur. Dia merasa jijik dengan suaminya.


"Mas menikahinya karena ingin anak."


"Nggak. Aku yakin lebih dari itu. Kalian mantan yang bertemu lagi. Hubungan kalian memberitahu aku kalau cinta lama kalian bersemi lagi."


Rudi menggeleng. "Mas nggak cinta sama dia. Hanya kamu. Mas mau hubungan sama dia hanya manfaatin dia karena mas nggak bisa nyentuh kamu."


Nanda tersenyum miring. "Nggak bisa nyentuh karena merasa percuma, kan? Karena nyentuh puluhan ataupun ratusan kali aku nggak akan hamil, kan? Kamu jahat, Mas! Sejijik itu kamu sama aku yang mandul, hah?"


"Bukan begit--"


"Terus gimana? Hah? Gimana? Aku nggak menjijikan, Mas. Walaupun aku mandul, aku nggak menjijikkan! Masih ada yang mau menyentuhku. Masih ada pria yang mau sama tubuhku!" Nanda berjalan mundur setelahnya berbalik dan berlari.


Rudi yang mau mengejar, langsung ditahan tangannya oleh Sisil.

__ADS_1


"Ibu mau bicara masalah tanggal pernikahan kita," ucapnya.


***


Nanda yang merasa tersinggung dengan ucapan suaminya dan semakin kecewa karena pria itu tidak mengejarnya, memutuskan malam ini menginap di hotel. Dia baru keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk mini, berjalan ke ranjang, mengambil ponsel dan duduk di tepi kasur.


Nanda menghela napas karena tidak ada chat atau panggilan dari Rudi. Dia mengigit bibir bawahnya, suaminya itu benar-benar jijik padanya.


Saat ponsel itu mau ditaruh ke tempat semula, terdengar notif chat masuk.


Nanda tersenyum. Itu dari Andi.


[Ada info apa?]


Nanda yang ingin membalas, mengurungkan niat. Dia berpikir malam ini harus dihabiskan dengan hal yang membuatnya merasa diinginkan pria, untuk menekan rasa sakit atas perkataan suaminya yang jijik padanya.


[Sindi sudah tidur?] balasnya.


[Belum, tapi sudah mau tidur.]


[Bawa ke sini, Mas. Aku di hotel. Aku kirim alamatnya, ya.]


Nanda langsung mengirim alamat hotel tempatnya menginap.


[Kamu lagi apa di sana?]


Nanda tersenyum. Dia berfoto dan mengirimkan pada Andi dengan caption, 'Numpang mandi.'


Andi langsung melakukan panggilan suara dan Nanda dengan senang hati menerima.


"Kamu ngapain di sana?"


Nanda mengaktifkan mode speaker, menaruh benda pipih itu di nakas. Dia mengambil tas selempang, mengeluarkan hand body dan segera mengaplikasikan ke tubuhnya.


"Ke sini, Mas. Aku mau main sama Sindi, sama kamu juga."


"Kamu jangan gila. Apa maksud ucapanmu itu?"


Dikatai gila, Nanda tersenyum. "Aku emang lagi gila, makanya sini dan liat kegilaanku seperti apa. Kamu nggak mau ke sini, aku akan membuka pintu hotel untuk pria mana aja. Aku tunggu kamu setengah jam dari sekarang."


"Nanda, kamu jangan gila. Aku, aku ke sana, tanpa Sindi. Tunggu aku."


Tut!


Andi memutus sepihak telepon. Nanda tersenyum dia merasa sangat diinginkan oleh seorang pria walaupun dengan sedikit ancaman.


"Kamu salah kalau jijik denganku, Mas," ucapnya dengan senyuman miring.

__ADS_1


__ADS_2