Buah Dari Perselingkuhan

Buah Dari Perselingkuhan
Bab 19


__ADS_3

Nanda terbangun saat ponselnya bergetar. Dia mengulurkan tangan, mengambil benda pipih yang ada di atas nakas. Telepon masuk itu dari Rudi, suaminya.


Nanda menghela napas. Dia menerima telepon, menaruh ponsel di atas telinga kanannya. "Hallo," sapanya dengan mata yang kembali terpejam. Dia masih dilanda kantuk.


Seketika mata Nanda terbuka kasar, setelahnya dipejam lebih rapat. Wanita itu mengembuskan napas yang terdengar berat. Dia juga mengigit bibir bawahnya. Suaminya mengatakan hallo, hanya dia mendapat suara lain, suara wanita yang terdengar ceria mengatakan, 'Sayang, aku datang bawa makan siang. Makan, yuk.'


Tut!


Nanda tersenyum miring. Telepon terputus. Bolehkah dia berpikir suaminya memutus komunikasi sepihak karena malu ketahuan, tetapi yang terpikir di otaknya adalah pria itu memilih makan bersama selingkuhannya daripada berbicara via telepon dengannya.


Nanda membuka mata. Dia menyeka air mata yang tidak bisa ditahan, setelahnya menghela napas. Sepertinya dia harus membuktikan kebenaran soal suaminya yang memilihnya atau memilih selingkuhannya. Semua ini demi keteguhannya membalas dendam. Wanita itu beranjak, bersiap untuk ke kantor Rudi.


***


Sapaan resepsionis tidak Nanda hiraukan. Dia terus melangkah menuju ruangan suaminya. Sapaan pegawai kantor saat di lift pun diabaikan, dia hanya fokus ke ruangan suaminya untuk melihat apa yang terjadi di dalam sana dan menentukan tindakan.


Nanda menghela napas sebelum melangkah keluar Lift.


"Permisi, Bu," pamitan para pegawai itu tidak direspon Nanda lagi. Istri ceo perusahaan ini langsung berjalan pergi ke tempat tujuan dengan wajah datar, serius.


"Bu--"


Nanda mengangkat tangan, menyetop sekertaris Rudi yang mau menyapanya. Kalau ada obrolan, bisa saja niat kedatangannya gagal. Dia mengode dengan mata supaya pria itu kembali duduk dan jangan mengurusinya, setelahnya wanita itu berjalan mendekati pintu ruang kerja suaminya. Membuka pelan dan mengintip lewat celah sempit itu.


Jantung Nanda berdegub kencang saat melihat pemandangan sweet di depan sana. Rudi dan Sisil duduk bersisian di sofa, saling hadap. Sisil menyuap dan Rudi menerima suapan dengan wajah tenang.


"Aku janji akan memberimu anak," ucap Sisil yang langsung membuat mata Nanda terasa panas. Jani wanita itu jelas membuat Rudi berminat. Andai begini kondisinya, suaminya akan memilih bersama selingkuhannya.


Nanda mendapati Rudi yang menatap intens pada mata Sisil. Wanita pelakor itu mengangguk. "Bersamaku kamu akan punya anak, Mas."


"Aku nggak yakin."


Sisil mengelap tepi bibir Rudi yang berminyak. "Yakin sama aku. Aku akan membuktikan. Kasih aku kesempatan. Ayo menikah."


"Nanda--"


"Aku akan mendapat izinnya. Kamu kalau bisa bantu meminta izin juga. Ini demi keturunanmu. Nggak mungkin kamu hidup tanpa penerus, kan?"


Rudi diam. Kemudian mengangguk dan Sisil dengan senang hati memeluk erat pria itu.

__ADS_1


Nanda menutup pintu pelan. Membekap mulutnya supaya isak tangis sakit hatinya tidak terdengar. Air mata wanita itu mengalir deras.


"Bu."


Nanda menyeka cepat air matanya. Dia berbalik dan menatap sekertaris Rudi. "Jangan bilang bosmu kalau aku datang."


Sekertaris itu hanya bisa mengangguk patuh.


Nanda melangkah pergi dengan hati yang terasa mati. Suaminya bukan miliknya lagi.


***


Tok-tok!


Sukma yang baru keluar dari kamar mandi, langsung menghampiri pintu kamar, membuka dan segera menyuruh Rika masuk. "Ada apa?" tanyanya.


"Ayah mana, Bu?" tanya Rika yang melihat ke arah ranjang, tetapi tidak menemukan Jaelani.


"Ayah ada di kolam ikan. Kenapa menemui ibu?"


Rika menghela napas. "Seperti kita harus membantu Sisil mendapat restu Nanda. Bagaimana kalau nanti malam kita mengundang Nanda datang makan malam dan memintanya memberi izin Rudi menikahi Sisil?"


Rika mengangguk dan tersenyum manis. "Kalau gitu aku telpon Rudi dan suruh membawa istrinya ke sini. Aku keluar dulu, Bu."


Sukma mengangguk. Dia melihat punggung Rika yang menjauh. Senyumnya mengembang, dia benar-benar tidak sabar untuk mengendong cucu dari Anak bontotnya.


***


Andi berdiri di depan Cafe. Tadi Nanda menelepon dan katanya wanita itu mau datang untuk makan siang bersama, jadi dia menunggunya.


Taksi berhenti di depan cafe. Nanda memakai kaca mata hitam dan keluar setelah membayar. Wanita itu tersenyum. Kemudian melambai pada Andi sembari berjalan menghampiri pria itu.


"Udah lama nunggu?" tanya Nanda. Dia merasa spesial karena ditunggu seperti ini.


"Belum. Kamu beneran ngajak aku makan siang bersama?"


Nanda mengangguk. "Sisil sedang makan bersama suamiku di kantor jadi aku harus makan siang bersama suaminya. Beginilah cara kita balas dendam."


Andi mengangguk. "Ayo masuk."

__ADS_1


Nanda mengangguk. "Kita makan di ruang kerjamu, ya."


Andi mengangguk lagi dan berjalan lebih dulu.


**


Andi dan Nanda duduk bersisian di sofa ruang kerja, samping jendela kaca. Nanda beberapa kali menghela napas saat menyuap Andi. Pria itu menerima suapan karena ini yang Rudi dapatkan dari Sisil dan dia juga harus merasakan, biar adil.


"Cukup, Nda. Jangan dipaksa kalau nggak kuat," ucap Andi yang melihat mata Nanda berkaca-kaca.


Wanita itu menggeleng. "Jangan menyuruhku berhenti, harusnya Mas menyemangatiku untuk melakukan ini supaya kita terbiasa dan bisa saling nyaman, seperti mereka berdua."


"Sampai kapan kita balas dendam begini?" tanya Andi, setelahnya pria itu menerima suapan Nanda.


"Sampai mereka sadar kalau kita berselingkuh. Kalau nggak, saat mereka menikah, kita juga akan menikah."


Andi diam. Dia tidak menerima suapan Nanda dan memilih menatap wanita itu dengan intens.


"Aku akan melayanimu dengan baik seperti apa yang Sisil lakukan pada suamiku sekalipun kita tidak saling mencintai."


"Nggak sejauh itu, Nda. Pernikahan bukan hal mainan."


Nanda memakan suapannya. Dia mengunyah perlahan. Menyendok nasi dan sayur lagi dan menyuap ke Andi. Kali ini pria itu menerima.


"Baiklah. Kita harus membuat mereka tau kalau kita selingkuh sebelum pernikahan mereka terjadi." Nanda sudah menceritakan apa yang dia dengar di kantor Rudi tadi saat mereka menunggu makanan datang. Bahkan dia sempat menangis dipelukan pria itu saking tidak kuatnya menahan sesak di dada karena ulah suaminya itu.


Andi mengangguk setuju.


"Jangan sungkan telpon aku kalau Mas menemukan kebersamaan mereka atau apapun itu yang menyangkut mereka berdua. Kita harus melakukan apa yang mereka lakukan."


Andi mengangguk. "Nda," panggilnya.


"Hm." Nanda menyuap mulutnya, setelahnya menguyah pelan sembari menatap Andi.


"Kamu makan dengan sendok bekasku."


Nanda tersenyum. "Ini hanya bekas mulut, kita bahkan sudah bertukar saliva, sudah melakukan hal yang lebih dari ini. Harusnya masalah sekecil itu nggak perlu di-- eh!" Mata Nanda membulat setelah menyadari ucapan vulgarnya. Pipinya langsung merona dan dia menatap ke arah lain, mengerjap beberapa kali. Kemudian mengigit bibir bawahnya. Dia bergeser sedikit menjauh, menatap Andi dan tersenyum canggung, setelahnya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Keceplosan, Mas." Wanita itu menatap ke arah lain lagi.


Andi yang melihat Nanda salah tinggal dan muka yang berekspresi malu, tersenyum simpul.

__ADS_1


__ADS_2