
Sisil hari ini tidak ke manapun, dia memutuskan untuk bersama anaknya, merawat buah hatinya yang sedang sakit. Saat ini dia, Andi dan Sindi tengah sarapan bubur ayam. Andi membelinya dari pedangan yang lewat depan rumah.
"Mas mau kerja?"
Andi mengangguk. "Kemarin udah nggak ke kafe, hari ini ngecek aja, mas usahakan pulang cepat."
Sisil mengangguk.
"Papa, ikut."
Andi mengusap puncak kepala Sindi yang duduk di samping kirinya. "Kalau udah sehat, papa ajak. Sekarang di rumah sama Mama, ya. Jangan bandel. Dengar kata-kata Mama."
Sindi mengangguk.
"Ya udah, lanjut makan bubur. Mau papa suap?"
Sindi mengangguk. Andi pun menyuap dengan penuh kasih sayang anak gadisnya itu.
Tring!
Ponsel Sisil yang ada di samping mangkuk bubur, berbunyi. Andi berhenti menyuap Sindi, setelahnya menatap istrinya yang tengah melihat ponselnya.
"Dari pelanggan?" tanya Andi basa-basi.
Sisil mengangguk.
"Kamu mau pergi?"
Sisil menatap suaminya. Dia tersenyum dan menggeleng. "Aku di rumah bersama Sindi. Aku udah janji mau jagain dia yang lagi sakit, Mas."
Andi mengangguk. Hatinya sedikit lega. Dia tahu itu bukan pelanggan melainkan selingkuhan istrinya, tetapi Sisil yang tidak pergi, menepati janji pada anaknya, membuat pria itu merasa senang. Dia kembali melanjutkan menyuap Sindi.
***
Rudi memijit pelipisnya. Dia merasa sedikit tertekan sekarang. Tadi, disaat dia hampir saja bisa mendapatkan jatah dari Nanda lagi, Ibunya menganggu. Dia dipanggil, tetapi sampai di rumah sana, karena Sisil tidak bisa datang, dia disuruh pulang dan kembali sore hari.
Rudi tidak fokus kerja. Dia masih terus mengingat jelas wajah kecewa Nanda saat dirinya meninggalkan istrinya yang sedang berhasrat itu. Pria itu mengambil ponsel, setelahnya mengirim chat pada Nanda. Meminta maaf dan menawarkan waktu istirahatnya untuk melanjutkan kejadian tadi pagi, tetapi centang dua abu-abu membuat Andi mendengkus. Istrinya jelas tidak berminat membaca chatnya.
***
Nanda keluar dari kamar mandi hanya mengunakan handuk mini. Wanita itu baru selesai berendam air dingin untuk menetralnya rasa ingin bercinta yang sangat mengebu-gebu.
Nanda duduk di tepi kasur, setelahnya mengambil ponsel di atas nakas dan melihat chat masuk dari Rudi, membaca tanpa membuka room chat dan dia tidak berminat membalas. Pria itu sungguh mengecewakannya tadi. Membuatnya bergairah dan meninggalkan begitu saja.
Nanda memilih menghubungi Andi melalui video Call. Dia ingin menanyakan keadaan Sindi. Wanita itu sudah memesan boneka beruang yang besar dan kecil untuk anak mengemaskan itu.
Video Call terhubung, tetapi Andi tidak menerima.
Nanda pun menaruh benda pipih itu kembali ke atas nakas dan memutuskan ke lemari untuk mencari baju. Dia berpikir mungkin saja Andi tengah sibuk mengurus Sindi jadi dia tidak ingin menganggu konsentrasi pria itu.
Namun, baru saja dia akan berdiri, ponselnya bergetar. Saat di lihat, itu panggilan video masuk dari Andi. Nanda langsung menerima dan mengarahkan layar ponsel ke wajahnya yang cantik.
"Sindi gimana?" tanya Nanda langsung.
Andi tersenyum. "Dia di rumah bersama mamanya. Badannya masih agak panas. Aku lagi di cafe."
Nanda mengangguk. "Sisil nggak keluar?"
__ADS_1
Andi mengangguk.
"Dari pagi?"
Pria di seberang sana mengangguk lagi.
Nanda diam. Dia berpikir tadi mertuanya menelepon sang suami karena mau diajak sarapan bersama dan ada Sisil juga di sana, nyatanya wanita itu tidak kemanapun. Jadi, panggilan itu untuk apa? Membahas apa?
"Nda."
Nanda mengerjap. Dia kembali fokus menatap Andi dalam layar ponsel.
"Kamu kenapa?"
Nanda menggeleng. "Nggak papa."
"Kamu lagi apa?" tanya Andi.
Nanda tersenyum saat melihat pria di seberang sana duduk di kursi kebanggan, melepas dua kancing atas kemejanya dan bersandar di punggung kursi, terlihat rileks yang membuatnya semakin tampan dan posisi itu terlihat menggoda di mata Nanda.
"Aku habis mandi," ucapnya. Gairah yang belum hilang tadi, kini terasa lebih menuntut saat melihat posisi Andi, juga ditambah ingatan permainan panas mereka terbesit diingatan. Bagaimana bibir pria itu mengecup tiap inci tubuhnya dan menyerukan namanya saat sampai puncak kenikmatan. Bagaimana mata tajam itu menatapnya memuja dan nyamannya tubuh pria itu yang sangat pas untuk didekap saat klimaksnya sedang melanda.
Andi mengangguk. "Rencana mau ke mana?"
"Pengennya ketemu Sindi, tapi ada mamanya. Kalau ketemu papanya aja bisa nggak?" tanya Nanda menggoda.
Andi tersenyum. "Sini kalau mau."
"Nanti dikasih apa?"
"Makan gratis."
Nanda menggeleng.
Nanda kembali menggeleng.
"Mau apa?"
Nanda tersenyum. Tadi dia nantang, tetapi saat ditawarin, dia merasa malu. Wanita itu menggeleng. Dia inginnya ke sana, mereka main, tetapi tidak dia utarakan.
"Mau ketemuan?" tanya Andi.
Nanda mengangguk. "Di hotel yang kemarin, kamar kemarin juga."
Andi tersenyum dan mengangguk.
"Bye!" Nanda melambai sembari mengigit bibir bawahnya. Lambaian balasan dari Andi membuat jantungnya berdegub kencang. Dia pun memutus video call.
Nanda mengerjap, dia langsung memukul keningnya cukup keras. Bagaimana bisa dia janjian dengan selingkuhannya di hotel padahal suaminya sendiri bisa dia ajak? Apa ini gunanya selingkuhan? Bisa diajak main kapan saja? Apa dia ini sedang melakukan peran selingkuh demi membalas dendam apa memanfaatkan peran itu?
Tring!
Nanda melihat layar ponselnya yang terlihat chat masuk dari Andi.
[Aku berangkat.]
***
__ADS_1
Sisil membiarkan Sindi bermain sendiri di kamar kaca, sedang dia berada di ranjang, berbaring miring sembari berbalasan chat dengan Rika. Calon kakak iparnya itu merayu untuk nanti sore bisa datang ke rumah mereka.
Sisil menghela napas. Dia menjadi bingung. Selalu keluar dengan alasan pelanggan, jelas suaminya akan curiga dan kalau sampai pria itu mencaritahu, habislah dia. Kalau tidak datang nanti sore, keluarga Rudi bahkan Rudi yang akan curiga padanya. Bisa saja mereka berpikiran kalau dirinya berubah pikiran, tidak mau menikah, sehingga menghindar. Takutnya dia akan dicari dan malah menemukan fakta lain tentangnya. Wanita itu dilema.
Semenjak mendapati parfum di jaket suaminya, Sisil merasa gelisah. Dia takut diduakan. Dia takut ditinggalkan karena belum waktunya mereka berpisah. Dia mencintai Andi, tetapi lebih cinta sama Rudi. Benih Andi sangat dibutuhkannya untuk mendapatkan Rudi, setelahnya barulah walaupun berat dia tetap mengambil keputusan meninggalkan suaminya demi hidup bersama cinta pertamanya.
Tring!
Sisil melihat ponsel.
[Harus datang, ya. Ini pembahasan yang penting.]
"Mama."
Sisil mengalihkan perhatian dari ponsel ke Sindi yang sudah berdiri di sisinya.
"Apa, Sin?"
"Lapal."
"Ambil buah di kulkas."
"Aem aci, Ma."
"Bentar lagi, ya. Mama lagi males gerak."
Sindi mengangguk.
"Ya udah, main lagi sana."
"Au tidul aja."
"Ya udah, tidur di kasur sana."
Sindi diam menatap Mamanya, berharap wanita yang melahirkannya itu mau menemaninya tidur.
"Apa lagi?" tanya Sisil.
Sindi masih diam.
"Sindi ke kamar. Main atau tidur, terserah Sindi."
Gadis kecil itu berbalik dan berjalan lesu ke kamarnya.
***
Rika, Sani dan Sukma duduk di teras. Tiga orang itu sedang membahas tentang pembahasan yang akan mereka bicarakan dengan Rudi dan Sisil.
Rika yang tersentil dengan ucapan suaminya tentang apa Sisil nantinya akan memberi anak buat Rudi, membuatnya sangat kepikiran. Ucapan suaminya itu ada benarnya. Bagaimana kalau Sisil nanti juga sama nasibnya seperti Nanda? Memikirkan itu dia mengajak Sani dan ibu mertuanya untuk berdiskusi kemarin sore setelah pulang dari pesta dan mereka akhirnya menentukan keputusan, Sisil harus hamil dulu barulah bisa menikah dengan Rudi.
"Bu, kayaknya bahas itu nggak bisa di rumah apalagi di depan mas Radit. Dia pasti bakalan nggak setuju," ucap Rika yang tiba-tiba ingat suaminya menentang hubungan Rudi dan Sisil.
Sani mengangguk. "Bener. Nanti malah kita yang dimarahin."
Rika mengangguk. "Jadi gimana kalau kita bicara di luar. Salah satu dari kita aja,biar nggak mencurigakan. Itu ... kalau bisa masalah ini kita bertiga dan Rudi juga Sisil aja yang tau."
Sania mengangguk.
__ADS_1
Sukma juga mengangguk. "Kalian atur saja," ucapnya.