
Bara masih dalam pemikiran nya yang menyesal karena sudah meninggal kan Zizi, hari-hari nya menjadi hampa saat ini padahal dulu dia sangat bersemangat berselingkuh dari Zizi ntah kenapa sekarang justru dia tak bisa menerima Arum, apakah selama ini hanya nafsu.
"Pak satu jam lagi ada jadwal operasi" ucap salah satu perawat pada Bara dan diangguki Bara pelan lalu perawat itu keluar kembali.
"Apa kabar Zizi ya,kenapa akhir-akhir ini aku sangat merindukan nya,apa karena rasa bersalah ku pada nya" batin Bara
Bara membuka ponsel nya dan melihat foto kedekatan mereka dulu,mulai dari pertama kali bertemu,wajah Zizi masih sedikit cubby dan foto Zizi yang lain nya membuat Bara semakin Rindu.
Andai saja Zizi mau memberikan nya kesempatan pasti Bara akan meninggalkan Arum tapi Zizi tak mau kembali pada nya.
"Zi....kau membuat ku gila kalau terus begini,aku harus menemui mu Zi seperti nya cara ku selama ini terlalu lemah hingga kau bisa pergi,maaf jika aku akan sedikit memaksa mu Zi! ini semua untuk hubungan kita agar kau tidak bisa pergi lagi" gumam Bara tersenyum licik
****
"Mas ini bukan jalan pulang?" tanya Zizi
"Kita belanja sebentar sayang, sudah banyak keperluan dapur yang habis"jawab Pras
__ADS_1
"Oh ya,kamu sudah kabari ibu tentang rencana kita untuk resepsi pernikahan"
"Belum"
"Kenapa? apa kamu mau berubah pikiran?" tanya Pras cemas
"Berubah pikiran bagaimana, mahkota ku saja sudah kamu ambil enak saja mau berubah pikiran" jawab Zizi sedikit cemberut membuat Pras tertawa
"Weekend kita kerumah mama sayang mengatakan rencana resepsi kita,aku yakin mama pasti senang bertemu menantu cantik nya ini"puji Pras membuat Zizi tersenyum kecil
Zizi terdiam sejenak bagaimana jika dia bertemu Bara dan Arum, meskipun tak ada lagi rasa Zizi masih sakit hati dengan perselingkuhan mereka.
"Zi.... Sayang" panggil Pras yang melihat Zizi hanya terdiam
"Iya ma-s"
"Apanya?" tanya Zizi balik,Pras menghela nafas berat dia yakin Zizi tidak fokus dengan ucapan nya tadi
Pras segera meminggirkan mobil nya ke tepi dan menatap wajah Zizi
"Mas kata nya mau belanja,kok malah berhenti di sini?"
"Kamu nggak fokus sayang,mas tanya weekend kamu mau ke rumah mama untuk bicara pernikahan kita?" ulang Pras lembut sambil menarik Zizi kedalam pelukannya
__ADS_1
"Terserah mas saja,aku menurut"
"Nah itu kan jawaban nya enak,mas jadi semangat" ucap Pras mencium kening Zizi lalu beralih ke pipi dan lalu turun ke bibir mungil perempuan ini.
"Mas,ini jalan bagaimana jika ada yang lihat" ucap Zizi sedikit ketakutan
"Kalau begitu kita kembali ke Apartemen" ajak Pras segera menginjak pedal mobil nya
"Katanya mau belanja"
"Besok saja sayang, besok kan hari libur "jawab Pras tersenyum genit membuat Zizi menggeleng kan kepala nya
****
Sesampainya di apartemen Pras tidak bisa menahan diri lagi,dia langsung mencium bibir Zizi rakus.Pras mendorong tubuh Zizi kearah tembok satu persatu Pras membuka kancing baju nya dan melemparkannya sembarang arah.
Ternyata suaminya lebih liar dari yang Zizi bayangkan tapi tidak masalah karena Pras memang suami sah nya toh wajar saja jika dia dan Pras sama-sama meluapkan nafsu mereka.
Pras sudah berhasil menanggal kan seluruh pakaian Zizi dan membopong istri nya ini ke arah sofa,Zizi masih malu jika tubuh polosnya di tatap penuh nafsu oleh Suami nya.
Pras melepaskan ciuman nya dari bibir Zizi dan beralih ke bukit kembar yang begitu menantang,Zizi menggelinjang kegelian karena Pras sangat lihai,dia dengan cepat mengetahui titik sensitif dari Zizi, nta berapa banyak tanda yang di berikan Pras membuat Zizi tak bisa menguasai dirinya apalagi saat tangan Pras sudah mulai bermain di daerah sensitifnya.lenguhan panjang keluar dari bibir mungil Zizi.
Pras sudah tak bisa menahan lagi, ******* istri nya ini membuat nya semakin bersemangat, tubuh Zizi yang mulus tanpa cacat setitik pun membuat Pras merasa beruntung bisa memiliki gadis cantik ini.
__ADS_1
Pras tidak akan mau melepaskan Zizi karena Zizi perempuan pertama yang dia rasakan k*p*rawanan nya, meskipun Pras dan Airin sama-sama lajang saat menikah Airin tak lagi perawan,Airin bisa di bilang perempuan yang sedikit liar tapi Pras mencintai nya saat itu hingga membuat nya tuli dengan semua perkataan orang lain.
Pompaan yang lama-lama pelan menjadi lebih kencang saat Pras akan mencapai puncak nya dan berakhir dengan terkulai lemas di atas sofa.