Bulan Yang Terbelah

Bulan Yang Terbelah
Kesedihan Kirani


__ADS_3

Entah apa yang membuat Arzie malam ini tidak dapat tidur. Hari ini dia pulang lebih cepat dari biasanya. Sejak sore dia bersantai dirumahnya. Namun malam ini hatinya gelisah, tidak tenang. Seperti ada sesuatu yang menggangu hatinya.


Di tiba-tiba teringat pada Kira. Anak perempuan kelas satu SMA yang disayanginya dalam diam. Entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang terjadi pada gadis manis itu. Dia mengambil kunci mobilnya dan tanpa basa-basi ditengah derasnya hujan dia menuju rumah kontrakan Kira.


Benar saja firasat dia. Kira sedang menangis dipinggir jalan depan kontrakannya, dari dalam rumah dua orang laki-laki berbadan besar sedang mengeluarkan barang-barang nya. Sepertinya mereka berdua adalah centeng utusan seseorang.


"Ada apa, Dek?!",tanya Arzie sambil memeluk Kira yang kedinginan dalam guyuran hujan.


Kira tak menjawab dia menangis dalam pelukan Arzie. Arzie memberikan payung yang dbawa nya pada Kira. Dia mengenakan jas hujan warna abu-abu. Arzie membatu Kira untuk bangun. Lalu dia menghampiri para centeng itu.


"Ada apa ini!?",tanya Arzie tegas pada para centeng.


"Kamu siapa?"


"Tidak penting siapa aku. Apa yang kalian lakukan malam-malam begini?!"


"Kami hanya menjalankan perintah. Perempuan ini sudah sepuluh bulan belum membayar sewa rumah. Jadi pemilik memerintahkan kami untuk memaksanya keluar dari rumah"


"Tapi tidak begini caranya. Kalian kan bisa bicara baik-baik?!"


"Bagi kami yang penting kami pulang pada Bos dengan membawa uang"


"Berapa uang yang harus dibayar?"


"Tiga juta rupiah"


Arzie mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang sebesar tiga juta rupiah lalu memberikan pada para centeng itu. Mereka tertawa lalu pergi meninggalkan Arzie dan Kira.


"Kamu tidak apa-apa, Dek?"


Kirani tidak menjawab. Kepalanya pusing sekali. Tubuhnya sudah dingin seperti es. Tak lama Kirani tumbang tak sadarkan diri. Arzie panik melihat Kira tergeletak. Dia segera membopongnya dan membawa nya kedalam rumah. Memberikan selimut tebal agar tubuh perempuan manis yang sudah basah kuyup itu merasa sedikit hangat.

__ADS_1


"Kira ... Dek .. ", Arzie memegang tangan Kira, dingin bagai es.


Dia mencari sesuatu yang bisa menghangatkan tubuh gadis itu. Di atas meja kecil di pojok kamar dia melihat sebotol minyak kayu putih. Arzie mengambil dan membalurkannya pada tangan dan kaki Kira.


Menggosok-gosok kedua tangannya pada telapak tangan Kira, agar tangan gadis itu tak lagi kedinginan.


******


Kirani perlahan membuka matanya. Dia mengerjapkannya matanya, lalu dilihatnya Arzie berwajah panik duduk dihadapannya. Dia mencoba untuk bangun. Arzie membantunya perlahan.


"Tak usah dipaksakan, Dek. Istirahat saja"


"Kak Arzie. .."


"Ya, Dek...."


"Kenapa Kak Arzie bisa tiba-tiba datang?"


"Terima kasih ya, Kak"


"Ganti dulu pakaianmu yang basah. Nanti kamu masuk angin, ini oleskan minyak kayu putih pada tubuhmu biar hangat Kak Arzie tunggu diluar ya"


Kira menganguk. Dia bangkit dan menuju lemari pakaian. Mengambil selembar pakaian gantinya. Lalu keluar menemui Arzie.


"Kamu lebih baik tinggalkan tempat berbahaya ini, Dek"


"Tapi, Kak. Aku tidak punya tujuan lagi selain disini"


"Kalau begitu kamu ikut, Kak Arzie saja. Kak Arzie tidak mau terjadi apa-apa padamu jika kamu sendirian disini"


"Tapi, Kak..."

__ADS_1


Arzie memegang pipi Kira. Perempuan itu sedikit terkejut.


"Kami percaya sama Kak Arzie kan, Dek?"


Kira mengangukkan kepalanya.


"Ambil saja beberapa pakaian dan pakaian sekolahmu. Kita tinggalkan tempat ini"


Lagi-lagi Kirani menuruti apa perkataan laki-laki yang ada dihadapannya. Hati kecilnya mengetakan bahwa dia harus mengikuti ucapan Arzie. Dia sangat percaya pada Arzie. Dia yakin Arzie tak akan melakukan hal yang tidak baik pada dirinya.


Hujan sudah mereda. Mereka berdua menuju mobil yang terparkir jauh di ujung gang. Arzie membukakan pintu mobil, Kira naik di sebelah Arzie yang duduk dibelakang kemudi.


******


"Ayo masuk, Dek"


Arzie mengajak Kirani kerumahnya. Membawanya ke kamar tamu di lantai atas.


"Ini kamarmu. Anggap saja rumah sendiri. Mulai sekarang kamu tinggal disini. Kamu tak perlu lagi kembali kekontrakan buruk itu. Pulang dan pergi sekolah dari sini saja"


"Tapi Kak, nanti malah merepotkan keluarga Kak Arzie. Aku tak enak jadi nya, Kak"


Arzie tersenyum mendengarnya. Dia duduk bersisian dengan Kirani di atas tempat tidur. Arzie mengusap kepala perempuan cantik itu.


"Kak Arzie, tinggal sendiri disini. Kedua orang tua Kak Arzie sudah lama meninggal dunia. Papi dua bersaudara dan adiknya sudah meninggal dunia saat kuliah di luar negeri. Sedangkan Mami anak tunggal. Jadi tak ada saudara lain yang Kak Arzie punya didunia ini"


Kira menatap pada Arzie. Rupanya laki-laki yang selama ini dikenalnya itu juga bernasib sama dengannya. Sebatang kara. Namun Arzie jauh lebih beruntung dengan segala kemewahan hidupnya.


"Ya, sudah. Kamu istirahat saja. Selamat tidur, Dek"


Arzie mengecup kening Kira. Perempuan manis itu tak menolak perlakuan Arzie. Dia membalasnya dengan senyuman manis dibibirnya.

__ADS_1


******


__ADS_2