
"Hati-hati ya, Dek. Jaga diri baik-baik", ucap Arzie saat berada di Bandara Shin-Chittoshe.
"Ya, Kak. Jangan khawatir. Liburan musim semi nanti aku akan ke Indonesia", Keren mengambil tangan kakaknya lalu mencium punggung tangannya.
"Aku tunggu ya, Keren..."
Si kembar saling berpelukan. Baru saja mereka bertemu sudah akan berpisah lagi sementara waktu. Keren mengantarkan Kakak dan saudari kembarnya sampai ke keberangkatan.
Kurang lebih sebelas jam perjalanan pesawat terbang menuju Indonesia. Hampir pukul sepuluh malam mereka tiba di Jakarta. Supir sudah menunggu mereka disana. Perjalanan yang melelahkan sekaligus membahagiakan mereka.
******
"Kak ... "
"Hmmm... "
"Nanti aku pulang agak terlambat ya, selesai bimbel aku mau ke toko buku dulu. Mencari alat tulis dan buku panduan"
"Pulang nya nanti di jemput supir saja"
"Ya, Kak"
"Kak Arzie khawatir nanti kamu nyangkut lagi sama si jelek itu"
"Kak Alex. Jangan panggil orang sembarangan dong, Kak"
"Ya, kalau pacar sih pasti dibelain. Kak Arzie di nomor duakan"
"Kak Arzie, cemburu ya ... "
"What ...!!! No level ya. Jauh bedanya dengan kakakmu yang ganteng ini. Tapi bilang sama dia kalau sampe macam-macam, Kak Arzie tidak akan tinggal diam"
Kira tersenyum. Dia merangkul leher kakaknya dari belakang. Dia tahu pasti kakaknya super protective dari dulu padanya.
"Baiklah, kakakku yang ganteng. Asal tahu saja, Kira dan Kak Alex tidak ada hubungan apa-apa. Kami hanya berteman saja. Jadi Kak Arzie tak perlu khawatir"
"Yakin cuma sebatas teman"
Kira terdiam. Dia tak berani menjawab. Memang sih ada sedikit rasa dihatinya untuk Alexi.
"Kak Arzie nih laki-laki juga. Kak Arzie tahu mana pandangan laki-laki yang hanya menganggap perempuan hanya sebagai teman dan yang punya hati lebih. Dan kamu, Kak Arzie yakin punya rasa yang sama dengan si jelek itu"
Lagi-lagi Kirani hanya tersenyum. Dia tak menjawab. Dia hanya mencium pipi Kakaknya lalu mengambil tas sekolahnya. Arzie menyusulnya ke mobil. Lalu mereka berangkat menuju sekolah Kirani terlebih dahulu.
__ADS_1
******
Menjelang kenaikan kelas jadwal kegiatan Kirani sangat padat, terlebih beberapa hari ini Kirani pulang agak malam. Dia mengejar ketertinggalannya akibat banyak dispensasi di sekolahnya, waktu ke Jepang, setelahnya dia harus ikut pensi pelajar se Jabodetabek, lalu tryout menjelang akhir tahun. Hari ini pun dia baru sampai rumah pukul sembilan malam, sepulang bimbel dia dan beberapa teman mengerjakan laporan penelitian Kimia mereka dengan belajar kelompok.
Wajah lelah menyelimuti Kirani. Sesampainya dirumah dia melihat mobil kakaknya sudah terparkir di garasi. Bi Mar bilang Kak Arzie baru saja sampai, beberpa menit sebelum dia sampai.
"Kak Arzie sudah pulang, Bi?"
"Baru saja, Non. Kira-kira seperempat jam lalu. Mungkin sedang mandi".
"Oiya, Bi. Terima kasih"
"Non, Kira baik-baik saja. Wajahnya pucat sekali"
"Ya, Bi. Jangan khawatir. Kira naik dulu ya, Bi"
Sebenarnya Kira berbohong dengan Bi Mar, sejak tadi pagi, bahkan beberapa hari lalu tubuhnya memang dirasa tidak sehat. Perutnya mual dan tak nafsu makan.
Kepalanya sering sakit dan berputar-putar.
Baru saja dia menaiki tangga pertama, lagi-lagi dia merasakan ada sesuatu yang hendak keluar dari ulu hatinya. Kepalanya kembali berputar-putar. Dan ....
Bruuuuk....
Kira terjatuh dan tak sadarkan diri. Bi Mar berlari mengejarnya. Mbk Rumi yang mendengar teriakkan Bi Mar pun bergegas ke ruang tengah melihat apa yang terjadi.
"Baik, Bi"
Mbak Rumi bergegas ke kamar Arzie. Menaiki tangga cepat-cepat.
Tok....tok...
"Tuaaan... "
Mbak Rumi, berkali-kali memanggil Arzie. Namun tidak da jawaban. Selang beberapa menit kemudian Arzie keluar dari kamarnya, dia baru selesai mandi dan berganti pakaian.
Cekreeeeekkk ...
"Non Kira tuan ... ", mbak Rumi panik.
"Ada apa dengan Kira??"
"Dia baru sampai rumah, lalu tak sadarkan diri dibawah, Tuan"
__ADS_1
Arzie tak lagi menunggu sampai Mbak Rumi menyelesaikan kalimatnya. Dia langsung berlari menuruni anak tangga, melihat keadaan Kira. Dia langsung memanggil supir dan membopong Kira kemobil. Mereka bergegas menuju rumah sakit.
"Panas sekali", gumam Arzie saat memegang kening adiknya.
Perawat IGD segera membantu membawa Kira kedalam untuk pemeriksaan lebih lanjut. Malam itu juga dokter memerintahkan melakukan tes darah. Beberapa mili darah Kira di ambil dan di bawa ke laboratorium. Setelah pemasangan infus dan selang oksigen, Kira dibawa ke ruang perawatan.
******
Drrr....drrr....
Handphone Arzie berbunyi. Keren menghubungi nya. Arzie menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.
"Kak..."
"Ya, Dek?"
"Kira baik-baik saja?"
"Kenapa, Dek?"
"Entah kenapa dari tadi kok, Keren kepikiran Kira terus. Apa terjadi sesuatu padanya, Kak"
Arzie menghela nafas panjang. Rupanya kedua adiknya punya kontak batin yang kuat. Padahal dia belum memberi tahu Keren keadaan Kira.
"Dokter sedang melakukan pengecekan darah, Dek. Ada kemungkinan Kira kena Thypus. Namun kita baru tahu setelah kepastian hasil cek darahnya besok"
"Lalu bagaimana keadaan, Kira sekarang?"
"Dia baru pulang sekolah pukul sembilan malam tadi, tiba-tiba saja dia jatuh saat mau naiki kekamarnya. Kepalanya terluka sedikit. Tadi perawat sudah memasang infus dan oksigen. Sekarang Kira sudah dikamar perawatan"
"Selang oksigen?"
"Nafasnya agak sedikit sesak dan suhu badannya tinggi sekali"
"Ya, sudah. Besok pagi Keren terbang ke Indonesia"
"Lebih baik jangan dulu, Dek. Bukankah kamu sedang ujian?! Selesaikan dulu ujianmu, masalah Kira biar Kak Arzie yang menjaganya disini. Kamu fokus saja dengan ujian kamu dulu, Dek"
"Kak Arzie tidak apa-apa sendirian menjaganya?"
"Ya, percaya sama Kak Arzie. Semua akan baik-baik saja"
"Baiklah, Kak. Kabari Keren perkembanganya ya"
__ADS_1
Keren menutup teleponnya. Ternyata benar apa yang dia rasakan sedari sore tadi. Hatinya tak tenang. Dia terbayang-bayang Kirani yang jauh di Indonesia. Firasat saudara kembar memang selalu begitu barangkali, pikir Keren.
******