Bulan Yang Terbelah

Bulan Yang Terbelah
Lamaran Ditengah Pesta


__ADS_3

"Pagi, Kak ... "


"Pagi sayang, tidak ke kampus hari ini?"


"Nanti siang, Kak. Kira hanya ingin memastikan jadwal wisuda saja"


"Ya, sudah. Nanti hati-hati dijalannya. Ayo kita sarapan dulu"


Kira mengambil piring yang ada dihadapan Kakaknya dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk. Setelah sarapan, Arzie langsung berangkat kekantornya.


******


Sudah tiga tahun lebih sejak meninggalnya Keren. Kira masih belum bisa memaagkan dirinya sendiri. Dia masih selalu terbayang kata-kata terakhir Keren padanya. Hari ini pun Kira menyempatkan datang mengunjungi makam saudari kembarnya.


Disana dia mendapati seseorang yang sedang berjongkok disamping makam Keren. Kira mendekat perlahan.


"Kak Alexi ..."


Kira hendak melarikan diri, namua langkahnya terhenti saat Alexi memanggil namanya.


"Kira ... Tunggu dulu"


Kira menoleh pada Alexi.


"Kamu datang mau mendoakan Keren?"


Kira mengangukkan kepala nya. Alexi mundur beberapa langkah memberi ruang pada Kira untuk mendekati makam. Kira meletakkan bunga dipusara saudarinya. Setelah berdoa dia lalu bangkit dan hendak pergi.


Namun lagi-lagi panggilan Alex menghentikan langkahnya.


"Bagaimana kabarmu, Kira? Aku senang bisa melihatmu lagi"


"Kabarku baik, Kak"


"Maafkan aku, masalah Keren. Aku ..."


"Sudahlah, Kak. Tak perlu ada yang kita bahas lagi. Lupakan aku"

__ADS_1


Kira berjalan secepat mungkin menuju mobilnya. Alexi tak mengejarnya. Dia hanya menatap perempuan yang dicintainya itu dari jauh. Tatapan penuh kerinduan.


******


Gedung Pertemuan Kementerian


Malam ini ada acara ulang tahun Kementrian Perindustrian dan Perdagangan. Semua para pengusaha diundang untuk menghadiri nya. Arzie mengajak Kira bersama nya ke pesta malam itu. Acaranya sangat meriah karena dihadiri para pengusaha-pengusaha papan atas negeri ini bahkan dari luar negeri.


"Kak, aku ke toilet sebentar"


"Ya"


Kira menuju toilet yang ada di ujung kanan koridor depan aula pesta. Dia membasuh wajahnya dengan air, sebenarnya dia sudah merasa ngantuk ,tapi acara masih panjang, jadi terpaksa dia membasuh wajahnya untuk menghilangkan kantuknya. Lalu mengusap nya dengan sapu tangan. Dan merapikan kembali riasan wajahnya.


Kira buru-buru kembali ke ruang pesta. Dan saking buru-buru nya dia menabrak seseorang.


"Maafkan aku", ucap Kira sampil mengambil tasnya yang jatuh.


"Kirani..."


Kira menatap orang yang dia tabrak itu, alangkah terkejutnya dia mengetahui siapa orang itu.


"Kamu sedang apa disini?"


"Maaf, aku permisi dulu"


Alexi tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia menarik tubuh Kira dan memeluk pinggangnya. Dia mendesak Kira hingga merapat ke dinding. Kira mencoba melepaskan diri, namun kali ini Alex tak memberi ruang gerak pada perempuan cantik itu. Kedua tangan Alex menahannya ditembok.


"Kira, kita perlu bicara dari hati kehati"


Kira memalingkan wajahnya kesamping dia tak berani menatap mata Alexi.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan"


"Tidak, banyak hal yang perlu kita bicarakan, sayang", jemari tangan Alexi membelai lembut pipi Kira.


Perempuan itu tak menolak perlakuan Alexi padanya. Dalam hatinya dia masih sangat mencintai laki-laki yang ada dihadapannya itu.

__ADS_1


"Sudah kubilang jauhkan tanganmu dari adikku", Arzie yang muncul tiba-tiba menarik kerak baju Alex.


"Pukullah aku jika itu membuat mu puas, Pak Arzie"


Arzie tak perduli lagi apa yang dikatakan Alex, dia melancarkan pukulannya ke wajah Alex. Kira yang melihat itu menahan kakaknya. Arzie hendak membawa Kira pergi.


"Tunggu Kira, kita belum selesai bicara"


Arzie bersiap hendak melancarkan pukulan selanjutnya, namun lagi-lagi Kira menahannya.


"Kak... Kira harus bicara dengan Kak Alex. Kira mohon sebentar saja, Kak"


"Bicaralah. Kak Arzie akan tetap disini untuk memastikan keselamatan mu, Dek"


Kira maju selangkah. Alex bangkit dan berdiri berhadapan dengan Kira.


"Aku tak banyak basa-basi. Seperti yang aku katakan dulu padamu. Aku tak pernah main-main dengan perasaanku terhadap mu. Aku bersungguh-sungguh mengatakan bahwa aku mencintaimu Kira. Sampai saat ini aku masih menunggumu untuk mengizinkan aku masuk kedalam hatimu"


"Pak Arzie..."


Arzie menoleh pada alexi.


"Aku meminta izinmu untuk menikahi Kira. Aku tak akan pernah main-main dengan apa yang aku ucapkan"


Alex memegang tangan Kira. Perempuan itu hanya diam. Airmatanya mengalir dikedua pipinya.


"Terserah apapun pandanganmu kepadaku, tapi yang jelas sejak dulu perasaan ku pada Kira tak pernah berubah. Aku mencintainya dengan segenap jiwa dan ragaku. Jadi izinkan kami menikah"


Arzie menatap pada Kira. Kira tak bicara apapun. Airmatanya sudah merupakan jawaban baginya. Dia tak tahu harus senang atau bahagia dengan lamaran Alex. Kira melepas genggaman tangan Alex lalu pergi.


"Kira ..."


Lagi-lagi langkahnya terhenti, dia menoleh pada laki-laki yang memanggilnya tadi.


"Aku tunggu jawabanmu"


Kira membalikkan badannya dan berjalan menjauhi tempat itu. Arzie mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


******


__ADS_2