
Minggu pagi Kira dan Kakak nya berada dirumah saja. Mereka menghabiskan waktu berdua di halaman belakang. Kira membawakan sepiring bakwan hangat yang baru di gorengnya, serta secangkir coklat panas buat menemani mereka.
"Ini minum nya, Kak"
"Terima kasih, sayang ..."
Kira duduk bersisian dengan kakaknya. Dia menyandarkan kepalanya pada lengan kakaknya. Mengobrol dan menghabiskan waktu santainya berdua.
"Keren tak bisa dihubungi, Kak?"
"Iya, ponselnya dari tadi pagi tidak aktif"
"Kamana dia ini? Apa dia jadi pulang ke Indonesia? Sekolahnya libur kan, Kak? Apa kemarin dia tidak mengatakan sesuatu pada Kak Arzie?"
Hahahhahaa.... Arzie tertawa mendengar rentetan pertanyaan adiknya.
"Iiih... Kenapa malah tertawa sih, Kak?"
"Habisnya pertanyaanmu berentet sekali? Panjang dan banyak seperti gerbong kereta api"
"Malah meledek ... "
Kira ngambek lalu menggeser duduknya dari kakaknya. Dia kesal sekali diledek seperti itu, padahal dia benar-benar mengkhawatirkan Keren. Arzie mendekat dan memeluk adiknya yang sedang merajuk.
"Maaf, sayang... Jangan merajuk begitu dong. Jelek tahu"
"Biar saja!!"
"Kak Arzie tahu kamu khawatir sama ,Keren. Sabar saja mungkin dia sedang men-charge handphone nya"
"Hmm ..."
"Senyum dong, sayang. Jelek tahu kalau merenggut begitu!"
Kira tersenyum lalu memeluk kakaknya. Baginya kakaknya adalah laki-laki paling hebat didunia ini.
******
Drrr... Drr...
__ADS_1
Posel Kirani berbunyi. Dia baru saja selesai membersihkan diri dan ganti pakaian saat itu. Dia melihat layar ponselnya.
"Keren??!"
"Hei, aku sudah di bandara. Jemput aku ya"
"Haah... Kenapa kamu tidak bilang dari tadi padi, Keren. Ya, sudah aku bilang Kak Arzie dulu. Tunggu saja disitu"
"Jangan lama-lama"
"Sabar. Salahmu sendiri memberi tahu mendadak"
Kirani menuju kamar kakaknya. Dia memberitahu Arzie tentang kedatangan Keren.
Tok... Tok...
"Kak ..."
Cekreeeeekkk ...
"Ada apa, Dek?"
"Dibandara?"
"Ya, benar, Kak"
"Ya, sudah ayo kita jemput dia. Tunggu dibawah ya, Kak Arzie ganti pakaian sebentar"
Kira menuju lantai bawah, menunggu kakaknya berganti pakaian. Tak lama Arzie turun dan mereka langsung berangkat menuju bandara.
Sore ini jalanan agak macet, berbarengan dengan orang-orang yang pulang kerumah menghabiskan akhir pekannya. Satu jam setangah jam kemudia baru mereka sampai di halaman parkir bandara.
"Aku di ruang tunggu"
Begitu pesan yang masuk pada ponsel Kira saat mereka di perjalananan tadi. Mereka menuju ruang tunggu, Kira mempercepat langkahnya menuju ruang tunggu. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti. Dia terdiam.
"Ada apa, Dek", tanya Arzie yang berada dibelakangnya.
Kira tak menjawab dia hanya diam dan menundukkan kepalanya. Dari arah ruang tunggu, Arzie melihat Keren sedang bersenda gurau dengan Alexi. Mereka terlihat akrab sekali. Mereka duduk berdekatan. Sangat dekat. Melihat itu Arzie paham apa yang terjadi. Kira pergi menjauh dari sana. Arzie mengejarnya. Dia memeluk adiknya, mentransfer kekuatan pada hati adiknya yang rapuh ini.
__ADS_1
Kira menangis dalam pelukan kakaknya. Arzie hanya bisa menenagkan nya saja, memeluk adiknya lebih erat. Dia tahu Kira merasa sakit hati melihat kedekatan Keren dan Alexi. Setelah tenang, Arzie menghapus bekas airmata pada kedua pipi adiknya. Dia mengantarkan Kira ke depan pintu toilet untuk membersihkan wajahnya.
"Cuci wajahmu, jangan sampai Keren melihat bekas airmata mu", kata Arzie.
Setelah mencuci mukanya dan memoles sedikit bedak tipis dan liptint, Kira keluar dari toilet. Mereka menemui Keren yang saat ini sudah sendirian menunggunya.
"Keren..."
"Kak Arzie, Kira ... Hampir karatan pantatku menunggu disini"
"Maaf ya, Dek. Sore ini jalanan mecet sekali. Kamu juga mendadak memberi kabarnya"
"Niatnya buat suprice, Kak"
"Ya sudah, yuk ... Kita pulang"
Arzie berada dibelakang kemudi. Kirani duduk di bangku sebelahnya, sedangkan Keren duduk dibangku tengah mobil. Sepanjang perjalanan Kira hanya diam. Dia tak banyak bicara.
"Kamu sudah sembuh, Ra?. Ko tumben diam saja. Apa masih kurang sehat?"
Arzie melirik pada Kira. Kira menoleh kebelakang, dia tersenyum.
"Alhamdulillah ... Sudah baikan ko. Cuma agak capek saja hari ini, sedang banyak tugas dari sekolah"
"Lupakan dulu tugasmu itu. Yang penting jaga kesehatanmu, jangan sampai sakit lagi. Bukan kah sebentar lagi sekolahmu akan ujian?"
"Iya..."
"Kita makan malam diluar saja, ya Dek ... Mumpung sekalian kita sedang di perjalananan"
"Boleh juga", jawab Keren. Kira menganguk.
Mereka makan malam disebuah restoran mewah. Untuk seukuran pengusaha muda yang sukses seperti Arzie, ini bukan perkara sulit. Yang sulit baginya adalah menyatukan hati kedua adik kembarnya yang ternyata menyukai orang yang sama.
"Dek, bersikaplah sebiasa mungkin di hadapan, Keren. Kak Arzie tahu perasaanmu, tapi Keren tak bersalah dalam hal ini. Dia pun mungkin tak tahu perasaan mu itu. Jadi Kak Arzie minta kamu bersikap bijaksana, ya... Dek"
"Iya, Kak"
Arzie membujuk Kirani saat Keren pergi ke toilet restoran. Arzie berharap keduanya bisa saling mengerti dan memahami satu sama lainnya.
__ADS_1
******