
"Pagi, Bi..."
"Pagi, Non. Sudah mau sarapan?"
"Nanti saja, Bi"
"Didepan ada mobil Kak Arzie. Dia pulang jam berapa, Bi?"
"Kalau kata security sih jam dua dini hari non. Mungkin Tuan sedang tidur"
"Oiya... Kalau begitu biarkan saja, Bi. Kasian Kak Arzie dia pasti lelah"
"Baik, Non"
Kirani menuju halaman belakang. Disana ada kolam renang outdoor dengan gazebo bambu yang besar di sebrang paviliun. Kirani duduk disana. Memandang kosong kearah kolam renang. Telinganya tersumpal earphone dengan lagu slow rock yang berasal dari ponselnya.
"Bunda, Kira kangen sama bunda. Sama ayah. Dan juga nenek. Kira sendirian sekarang",batinnya.
Dulu waktu bunda masih ada, hari minggu seperti ini pasti bunda sudah buat masakan yang enak serta siangnya selalu tersedia camilan.
Dia suka sekali berlari-lari di halaman belakang rumah kontrakan mereka. Bermain dan menjahili sang nenek. Namun semua itu hanya tinggal kenangan.
"Dek ... "
Kira terkejut, seseorang menepuk pundaknya dari samping. Dia melepas eraphone ditelinga nya.
__ADS_1
"Kenapa melamun pagi-pagi?"
"Kak Arzie sudah bangun?!"
"Hmm..."
"Tadi Bi Mar bilang Kak Arzie pulang pagi. Kira pikir Kak Arzie masih tidur"
Arzie merebahkan tubuh nya disamping Kirani.
"Kak Arzie pegal juga tidur terus. Pengen cepet-cepet ketemu kamu"
Kira tertawa mendengarnya. Mimpi apa dia Arzie pagi-pagi sudah menggombalinya. Arzie bangun dari tidurnya. Dia merapatkan duduknya pada Kira. Perempuan cantik itu menoleh. Arzie mengusap kepala nya.
Kira mengangukkan kepalanya. Arzie memegang tangannya.
"Apapun yang terjadi nanti, tetaplah berada disisi Kak Arzie ya, Dek. Kak Arzie sayang sama kamu. Entah kenapa hanya kamu yang ada dalam pikiran Kak Arzie. Terserah apa pendapatmu, tapi itulah yang Kak Arzie rasakan"
Kira diam. Dia tak menjawab. Dihatinya memang menyimpan rasa kagum pada sosok laki-laki yang ada disampingnya. Tapu hanya sekedar mengagumi. Tidak lebih. Dia tak berani mengharap berlebihan. Baginya Arzie adalah dewa penolong yang sangat baik. Dia tak menyangka kalau Arzie akan mengatakan isi hatinya padanya.
"Kak ... "
"Hmmm..."
"Jangan terburu-buru menilai perasaan kita. Butuh waktu untuk kita benar-benar mengerti perasaan kita yang sebenarnya. Kita sendiri tak tahu apa yang akan terjadi pada masa depan. Jadi Kira fikir, lebih baik kita belajar mengenal perasaan kita yang sebenarnya dulu. Biarlah waktu yang akan menentukan nantinya"
__ADS_1
Arzie tersenyum. Alangkah bijaksananya perempuan yang ada disampingnya ini. Bicaranya santun, lembut dan senyuman nya sangat manis. Itulah yang saat ini ada dalam pikiran Arzie.
******
Pukul sepuluh pagi, Kirani pamit hendak pergi kerumah temannya untuk belajar kelompok. Arzie meminta sopir untuk mengantarkan Kira, semula Kira menolaknya dia ingin naik kendaraan umum saja. Namun Arzie bersikeras menyuruhnya diantar jemput supir. Kirani pun mengalah, dia menuruti kemauan Arzie.
"Pak, kita ke arah selatan sebentar?"
"Ke arah selatan, Non?"
"Iya, Pak. Aku ingin mengunjungi suatu tempat dulu"
"Baik, Non"
Pak supir menghentikan mobilnya disebuah area pemakaman. Kirani berjalan kaki menuju makam yang saling berdampingan. Dia berjongkok di sisi makam.
"Ayah ... Bunda ... Nenek ... Maafkan Kira baru bisa mengunjui kalian sekarang. Banyak yang terjadi dalam hidup Kira akhir-akhir ini. Kira rindu dengan kalian"
Airmata Kira menetes dikedua belah pipinya. Rasa rindu teramat sangat pada ayah, bunda dan neneknya. Hanya merekalah keluarga yang dia punyai. Namun Tuhan berkata lain. Tuhan menjemput ketiga orang terkasih Kira lebih cepat. Terkadang ada rasa sepi yang menyeruak dari dalam hatinya. Namun sejak dia bertemu Arzie, dia merasakan damai dan nyaman bersama laki-laki itu. Dia seperti mendapat perlindungan dari seorang ayah sekaligus kakak laki-laki dari Arzie.
"Ayah... Bunda... Nenek... Kira pamit dulu"
Kira melangkahkan kaki nya keluar makam. Lalu dia menuju sekolah, beberapa teman sekolahnya sudah menunggunya didepan gerbang. Kira meminta supirnya untuk pulang. Lalu mereka jalan kaki menuju rumah teman yang berada dekat sekolah.
******
__ADS_1