Bulan Yang Terbelah

Bulan Yang Terbelah
Kebahagiaan Semu Keren


__ADS_3

Malam hari di hari kedua Keren menginap di rumah Imel, Keren duduk di pojok ruangan. Menelungkup pada kedua kakinya.


Cekreeeeekkk ...


"Keren ... "


Imel yang masuk kedalam kamar mendapati sahabatnya pucat dan tubuhnya bergetar hebat. Keringat dingin mengucur dari tubuhnya. Imel menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan melihatnya saja dia sudah tahu apa yang terjadi pada Keren. Sakau.


Gejala sakau narkoba meliputi gejala emosional dan fisik. Pecandu sabu secara emosional akan menunjukkan depresi, mood yang mudah berubah, sulit berkonsentrasi hingga paranoid. Gampang gelisah dan serba salah melakukan apa saja, jarang mau menatap mata jika diajak bicara, mata sering jelalatan, karakternya dominan curiga, apalagi pada orang yang baru dikenal, badan berkeringat meski berada di dalam ruangan ber-AC, suka marah dan sensitive.


"Keren, kamu masih memakainya, bukan?!"


"Ambilkan "itu" untukku Imel, aku mohon"


"Ya, Tuhan... Keren ... Berhentilah!!! Ini demi masa depanmu!"


"Aku tak bisa, Imel. Ambilkan "itu". Cepatlah !!!"


Imel terpaksa menurutinya. Mengambil sesuatu di dalam tas Keren. Beberapa pil sabu yang biasa d konsumsi nya. Tanpa banyak basa-basi, Keren meminum pil setan itu.

__ADS_1


Sabu-sabu memberikan efek menyenangkan pada penggunanya. Ini bisa terjadi karena saat mengonsumsi sabu-sabu, tubuh akan melepaskan neurotransmiter dopamin dalam jumlah yang besar. Dopamin merupakan zat kimia yang dapat meningkatkan motivasi, kebahagiaan, dan kemampuan motorik.


"Keren ... Jangan kau hancurkan dirimu sendiri", Imel sangat sedih melihat keadaan Keren.


Sebenarnya dia tak tega membiarkan Keren seperti itu, tapi dia tak dapat berbuat banyak. Dia menutup pintu kamarnya, membiarkan Keren dengan segala halusinasinya. Dengan segala kekeras kepalanya.


******


"Kamu sudah sadar toh", tanya Imel dingin.


"Judes sekali kamu"


"Kami anak yang cerdas, lincah, dan cantik, tapi kamu malah merusak dirimu dengan alkohol dan narkotika. Demi Tuhan, Keren. Berhentilah. Mulailah hidup yang baru"


"Aku ingin seperti itu Imel. Aku ingin. Aku juga ingin kembali hidup normal seperti yang lainnya. Punya keluarga yang utuh dan juga pacar yang tulus mencintaiku. Aku ingin seperti itu, Mel. Tapi aku tidak bisa"


"Pacar?"


"Ya"

__ADS_1


"Maksudmu ... Ya Tuhan ... Jangan bilang kalau kamu dan laki-laki itu ... "


"Iya, Mel. Aku mencintai Kak Alexi. Aku sayang sama dia, Mel. Dia laki-laki yang baik. Tapi aku takut, Mel. Takut kalau dia tak akan bisa menerima keadaanku seperti ini"


"Apa kakakmu dan kembaranmu tahu kalau kamu seperti ini, Keren?"


"Tidak. Merek tidak tahu"


"Pergilah ke panti rehabilitasi, psikolog atau apapun yang dapat membebaskan dirimu dari candu barang-barang setan itu, Keren".


"Lupakan masa lalumu dengan orang tua angkatmu itu. Mulailah hidup yang baru dengan kakak dan saudara kembar mu itu"


"Keren... Aku mohon..."


Imel memegang tangan Keren, memohon dengan sangat pada sahabatnya itu. Dia dan Keren bersahabat sejak masih bersekolah di SD SRI (Sekolah Republik Indonesia) di Jepang. Dia kenal benar siapa Keren. Dia berubah setelah mendapat perlakuan buruk dari Papa adopsinya serta kurangnya kasih sayang dari Mama adopsinya. Jiwanya mulai memberontak, mencari kebebasan dan kebahagiaan semu dari alkohol dan narkotik.


Keren terdiam. Dia tak menjawab sepatah katapun dari Imel. Dia tak membantah atau pun membenarkan ucapan sahabatnya. Dia hanya hanyut dalam kebisuannya sendiri.


******

__ADS_1


__ADS_2