
Arzie baru saja pulang pukul sepuluh malam. Dia naik kelantai atas menuju, kamar nya. Dia melihat kamar Kira masih terang-benderang.
Tok...tok..
Cekreeeeekkk ...
"Kak Arzie, baru pulang?"
Kira menyalami kakaknya. Arzie melihat pada adiknya penuh selidik. Lalu dia masuk kedalam kamar. Menutup rapat pintu.
"Kamu kenapa, sayang?"
Arzie memegang wajah adiknya dengan kedua belah tangannya. Terlihat jelas mata Kira bekas menangis. Kira tak berani menatap mata kakaknya. Dia tahu pasti kakaknya bisa menerka apa yang terjadi.
"Ada apa? Katakan dengan jujur pada Kak Arzie, Dek?"
Kira menggeleng. Dia hanya menunduk diam. Arzie memeluknya. Berada dalam pelukan sang kakak dia makin meneteskan airmata. Dia tak tahan melihat adiknya menangis seperti itu.
__ADS_1
"Masalah Alexi?"
Kira menganguk. Dia tak bisa membohongi kakaknya itu. Arzie menghela nafas panjang. Dia menenangkan adiknya. Memeluknya lebih erat. Membelai rambut indahnya lalu mencium kepalanya. Dia membawa Kira duduk ditempat tidur.
"Ada apa, sayang. Katakan pada, Kak Arzie"
"Keren ..."
"Keren kenapa?"
"Dia juga menyukai Kak Alexi"
Arzie mendengarkan cerita adiknya dengan seksama. Mencerna kata demi kata yang dia dengar. Mengambil benang merah dari masalah ini.
"Dek ..."
Arzie membelai rambut Kira dengan lembut. Memegang dagu adik kesayangannya itu, menghapus airmata Kira.
__ADS_1
"Kak Arzie tak bisa membela kamu atau Keren. Kalian berdua adalah adik kandung Kak Arzie yang sangat Kak Arzie sayang. Kalian berdua sama-sama ada dalam hati Kak Arzie. Kamu dan juga Keren. Masalah ini tergantung pada Alex, dia yang harus memutuskam salah satu diantara kalian. Walaupun itu artinya akan melukai salah satunya juga"
"Kak Arzie percaya bahwa kalian berdua bisa bersikap dewasa dalam menghadapi masalah ini. Ingat sayang, hubungan darah tidak dapat memutuskan segalanya. Darah lebih kental dari pada air. Jadi Kak Arzie berharap kamu lebih bersabar menghadapi Keren. Biarlah waktu yang akan menjawabnya"
"Kak Arzie percaya pada kalian berdua. Percaya kalau kamu anak yang kuat. Anak yang tegar. Bisa bersikap bijaksana dalam mengambil keputusan".
"Sabar ya, sayang ... "
Kira terdiam. Dia menatap kakaknya. Lalu memeluk kakaknya erat-erat. Baginya Arzie lah yang selalu menguatkan hatinya saat dia nyaris jatuh dan rapuh. Dia merasa begitu bahagia memiliki kakak yang hebat seperti Arzie.
******
"Tidurlah, Kak Arzie akan temani disini sampai kamu tertidur"
Arzie menarik selimut Kira. Menemani adiknya sampai dia tertidur lelap. Setelah yakin Kira sudah tertidur Arzie bangun dari duduknya perlahan. Dia mencium kening Kira lalu keluar kamar. Menutup pintu perlahan-lahan. Dia kembali kekamarnya. Merebahkan tubuhnya sebentar di atas tempat tidur.
"Si Jelek itu mau main-main denganku rupanya. Sudah menyakiti Kira sekarang dia mau mempermainkan Keren. Lihat saja. Akan kubuat perhitungan sama laki-laki berengsek itu. Berani-beraninya dia menyakiti kedua adikku"
__ADS_1
Arzie bangun dari tidurnya, menuju kamar mandi. Membersihkan diri lalu berganti pakaian. Dia harus cari cara bagaimana menyatukan Keren dan Kira yang terpecah gara-gara seorang laki-laki. Dia berharap saat bangun dia bisa menemukan caranya. Dia mencoba untuk tidur, mengistirahatkan badan nya dan juga pikirannya sejenak.
******