Bulan Yang Terbelah

Bulan Yang Terbelah
Perempuan Solehah


__ADS_3

"Kak, Arzie ... Apa kabar, Kak?"


Arzie memandang perempuan berhijab itu lekat-lekat. Dia mengamati dan berfikir siapa perempuan yang menyapanya itu. Wajahnya cantik, hijab dan gamisnya membuat teduh hati yang melihatnya. Dari cara bicaranya dia seperti kenal dengan perempuan itu.


"Kenapa Kak Arzie, bengong?!"


"Maaf, Aku lupa siapa kamu ini?!"


Hahahahah....


Perempuan berhijab itu tertawa. Dia tersenyum menatap Arzie.


"Aku Kirani, Kak. Lupa?"


"Kira???!!!"


"Iya!"


"Beneran Kirani Fauzia Chandani?"


"Iya"


"Ya, ampun. Kak Arzie sampai pangling melihat mu. Kamu cantik sekali berhijab. Alhamdulillah ..."


"Terima kasih, Kak"

__ADS_1


"Kita ngobrol dulu yuk, Ayolah ... Lama kita tidak bertemu. Kita cari tempat yang nyaman"


Kira mengikuti langkah Arzie menuju parkiran mobil. Arzie dengan sopan membukakan pintu mobilnya, lalu dia duduk di kursi belakang kemudi. Mereka menuju sebuah restoran di tengah kota yang terletak dipusat perbelanjaan.


"Kamu kemana sajq selama ini, Dek. No ponsel kamu tidak aktif lagi"


Kira tersenyum menanggapi pertanyaan Arzie. Memang sudah dua tahun dia tidak bertemu Arzie. Terkahir saat dia kenaikan kelas dua SMP. Saat ini dia sudah duduk dikelas sepuluh.


"Aku dan nenek pindah kekontrakan yang lebih murah dan lebih dekat dengan SMA ku. Sekarang nenek sakit-sakitan sehingga dia tak bisa lagi berjualan dipasar. Semua barang yang ada termasuk ponselku dijual untuk membayar sewa dan kebutuhan hidup. Aku juga sedikit-sedikit membantu nenek jualan kue disekolah. Lumayan buat bantu bayaran sekolah, Kak".


Arzie terdiam. Ada sedikit rasa sakit dan nyeri di ujung hatinya mendengar kisah perjuanagn perempuan yang ada dihadapannya. Selama dua tahun dia tak bertemu, rupanya begitu banyak penderitaan yang dialami gadis itu.


"Maafkan, Kak Arzie. Kak Arzie tidak tahu keadaanmu sepertin ini sekarang. Kak Arzie lama mencari-cari kamu. Tapi syukurlah hari ini kita bisa bertemu lagi"


"Habis ini ikut, Kak Arzie yuk"


"Kemana, Kak?"


Arzie membawanya ke sebuah Mall terbesar dikota, dia membelikan sebuah handphone baru keluaran kerbaru untuk Kira.


"Ini handphone baru buat kamu, jangan ditolak kalau kamu menolak, Kak Arzie bisa marah"


"Tapi kak, ini barang mahal. Aku tak bisa menerima barang semahal ini"


"Kak Arzie, sudah bilang bukan. Jangan menolak. Ini agar jika ada apa-apa kamu bisa hubungi Kak Arzie secepatnya. Ya... Ambillah ..."

__ADS_1


"Tapi, Kak ..."


Arzie tak memperdulikan penolakan Kirani. Dia membayar handphone beserta kartu perdananya cash. Kirani merasa tak enak menerima kebaikan yang bertubi-tubi dari lelaki tampan itu. Dia tak mempunyai hubungan kekerabatan dengan laki-laki itu, namun Arzie begitu baik dengan nya.


Arzie mengantar Kirani kekontrakan barunya. pajero sport Arzie terparkir di lapangan diujung gang. Rumah kontrakan kirani terletak diperkampungan kecil padat penduduk di pinggir kota. Tempat yang tak layak disebut rumah, pikir Arzie.


Sampai disana, nenek sedang tertidur dikamarnya. Nafasnya yang sesak terdengar jelas ditelinga. Wajahnya pucat.


"Nenek sakit apa, Dek?"


"Darah tinggi dan asma, Kak"


"Sudah dibawa ke dokter?"


"Sudah ke puskesmas. Nenek tak mau dibawa ke dokter. Nenek bilang biaya dokter dan rumah sakit mahal"


"Jangan begitu, Dek. Kesehatan dan kesembuhan nenek mu harus diutamakan. Soal biaya biar Kak Arzie yang menanggung nya"


"Tak usah, Kak. Aku tak ingin merepotkan Kak Arzie lagi. Terima kasih"


Terdengar nenek memanggil dari dalam. Kirani buru-buru kedalam. Dia mengambilkan airminum dan makan buat nenek. Nenek memintanya menuatukan bubur telur untuknya. Kirani membuatkakan dengan segera.


Perih hati Arzie melihat perempuan itu berjuang seorang diri. Dia benar-benar perempuan solehah yang dengan ikhlas mengurus neneknya yang sedang sakit seorang diri. Makin besar rasa kagum dia pada sosok Kirani Fauzia Chandani.


******

__ADS_1


__ADS_2