
"Pagi, Kak... "
"Pagi, Sayang ... Yakin mau kesekolah hari ini?"
"Iya, Kak. Kira sudah lebih baik"
"Nanti malam kita kontrol lagi ya?!"
"Iya, Kak"
Kirani duduk di kursi disebelah kakaknya. Mereka makan pagi bersama seperti biasanya. Arzie mengantarkan Kira kesekolah, tapi kali ini dia tidak hanya mengantarkannya sampai di depan gerbang. Tetapi kali ini Arzie mengantarkannya sampai ke dalam kelasnya.
"Waaahhh... Tampan sekali..."
"Ganteeng...."
Seketika itu juga teman-teman nya heboh melihat ada laki-laki tampan dan macho ada disekolahnya. Khususnya teman sekelas Kira yang melihat dia diantarkan seorang laki-laki. Kak Arzie jadi trending topic hari ini disekolah, pikirnya.
Arzie juga menemui wali kelas adiknya, dia menitipkan Kira yang baru saja sembuh dari sakitnya pada wali kelasnya. Kirani merasa benar-benar dimanjakan oleh kakaknya itu.
"Nanti pulang biar supir yang menjemput ya, Dek. Langsung pulang saja. Tak usah bimbel dulu. Biar kamu cukup istirahat nya"
"Ya, Kak .."
*****
Kirani sudah berada di dalam mobil saat handphone nya berbunyi. Sebuah panggilan dari Alexi. Dia mengajak Kirani makan siang dikafe langganan nya. Kira meminta supir mengantarkannya ke kafe itu, letaknya tak begitu jauh dari sekolahnya. Hanya sekitar dua puluh menit.
"Hi, Kira. Apa kabar? Lama tidak ketemu"
"Hi, Kak Alex. Kabarku baik. Maaf ya, Kak Alex lama menunggu ya ... "
"Ah... Kak Alex juga baru sampai ko. Silakan duduk"
"Terima kasih"
"Kamu mau pesan apa?"
Kira mengambil buku menu yang ada didepannya. Alexi mamanggil pelayan kafe untuk memesan makanan mereka. Tak lama pelayan datang membawakan pesanan mereka.
"Gimana sekolahmu?"
"Alhamdulillah ... Lancar"
"Sebentar lagi ujian akhir semester bukan?"
'Ya, Kak"
"Setelah tamat SMA apa rencanamu?"
"Belum tahu, Kak. Tapi aku mau meneruskan kuliah di Jakarta"
"Semoga cita-cita mu tercapai, Ya"
__ADS_1
"Aamiin... Terima kasih doanya ..."
Kira tersenyum, Alexi tak dapat memalingkan wajahnya dari senyuman manis perempuan yang ada dihadapannya. Dia benar-benar terlihat sangat cantik dimata Alexi. Walaupun beda usia mereka cukup jauh. Enam tahun. Tapi bagi Alexi, Kirani sosok perempuan sempurna.
******
Sudah pukul empat sore, Kirani tak menyadari bahwa waktu berlalu begitu cepat saat bersama Alexi. Mereka berbagi banyak cerita berdua.
"Sudah sore, aku pulang dulu Kak"
"Kenapa terburu-buru, masih sore sekali"
"Maaf, tapi aku harus pulang"
Drrr... Drrr...
Handphone Kirani berbunyi. Dan benar saja. Sebuah panggilan dari kakaknya. Gawat, Kak Arzie bisa marah aku belum pulang jam segini, pikirnya. Kira menjauh dari Alexi agar Alexi tidak mendengar pembicaraan dia dan kakaknya.
"Ya, Kak .. "
"Kamu dimana, Dek. Kenapa belum sampai rumah?"
"Maaf, Kak. Tadi Kira bertemu teman. Jadi Kira mampir dulu mengobrol dengannya"
"Teman?"
"Ya, Kak"
"Alexi..!!!"
Arzie menarik nafas panjang. Sudah dia duga, bahwa Alexi lah orang yang ditemui Kira.
"Sudah Kak Arzie duga, pasti si Jelek itu ..."
"Kaakkk...???!"
"Pulang sekarang, Dek. Kami baru keluar dari rumah sakit. Jangan sampai kamu kenapa-napa lagi"
"Iya, Kak. Kira pulang sekarang"
"Bagus!!"
Kira buru-buru berpamitan pada Alexi. Dia segera meninggalkan laki-laki itu, namun Alex menahan tanggannya. Kira terkejut dan menoleh.
"Kira tunggu ..."
"Ada apa, Kak"
"Kenapa kamu terburu-buru pulang setelah menerima telepon tadi. Boleh tahu siapa yang menelepon mu barusan?"
Kira diam. Dia tak menjawab pertanyaan Alexi.
"Maaf ,Kak. Tapi aku harus segera pulang?!"
__ADS_1
"Kalau aku tak salah terka, tadi itu telepon dari Arzie bukan. Arzie Yudhana Kusuma. Bos minyak mentah itu?"
Kira mengangukkan kepalanya.
"Sudah kuduga. Mau apa dia? Apa hubunganmu dengan Arzie?"
"Maaf, Kak. Ceritanya kapan-kapan saja. Aku sedang terburu-buru"
Lagi, Alexi menahan Kira. Dia memegang tangan Kira, kali ini lebih erat. Dia tak ingin perempuan itu pergi tanpa menjelaskan apapun padanya.
Namun tiba-tiba, seseorang melepaskan pegangan tangannya dari Kirani. Dan menarik tangan perempuan itu dalam pelukannya. Kirani terkejut melihat kakaknya sudah ada disana.
"Kak Arzie?!"
"Kenapa tak langsung pulang, sayang ... Bukan kah tadi kak Arzie menyuruh mu langsung pulang?",kata Arzie lembut namun begitu mengena ke hati Kirani.
Dia merasa bersalah pada kakaknya. Dia tak mengindahkan apa yang diperintahkan kakaknya tadi. Arzie tahu apa yang dipikirkan Kirani. Dia mengusap lembut kepala adiknya, lalu mencium ubun-ubun perempuan manis itu. Dia menenagkan hati adiknya yang tersayang.
Alexi yang melihat itu menjadi panas hati dibuatnya. Tapi dia berusaha mengendalikan dirinya, mengendalikan emosinya.
"Kenapa kamu bisa ada disini? Apa hubunganmu dengan Kirani"
"Apa sepenting itu aku harus memberitahu mu?"
"Ooo... Jadi apa mau mu sekarang?", tantang Alex.
"Kamu masuk kemobil duluan, Dek. Tunggu Kak Arzie disana"
Kira memegang tangan kakaknya. Dia takut kakaknya akan berkelahi dengan Alex. Matanya memohon pada kakaknya dengan sangat.
"Kak ....!!??"
Arzie tak tega melihat adiknya memohon seperti itu.
"Baiklah, kali ini kau selamat dariku. Kita selesaikan urusan kita lain kali. Ayo, pulang Dek"
Kali ini Kirani tak dapat lagi membantah perintah kakaknya. Arzie menyuruh supir yang menjemput Kira pulang lebih dulu. Dia mengajak Kirani naik kemobilnya, dia membukakan pintu untuk adiknya itu. Lalu mereka pergi ketaman kota.
Arzie ingin bicara empat mata dengan adiknya. Mereka tidak turun dari mobil. Adik kakak itu terdiam beberapa saat.
"Kak ... "
"Hmmm... "
"Maafkan, Kira ya Kak. Kira tidak menuruti kata-kata Kak Arzie. Kira tahu kak Arzie mengkhawatirkan Kira"
"Tidak apa-apa, sayang. Maaf tadi Kak Arzie sedikit emosi. Kak Arzie hanya ingin kamu fokus dulu dengan sekolah mu. Perkara kalian nanti nya berjodoh pun Kak Arzie tak masalah. Hanya saja masih terlalu muda untuk mu mengenalnya. Dia jauh lebih tua darimu. Kak Arzie takut dia mempermainkan mu nantinya"
"Kak Arzie tahu dia punya perasaan khusus padamu. Jika dia benar-benar serius denganmu, dia harus bersabar sampai selesai pendidikanmu. Jika saat itu tiba, Kak Arzie tak akan menghalangi apapun keputusanmu. Selama Kak Arzie nilai itu baik untuk mu. Untuk masa depanmu"
"Iya, Kak. Kira paham maksud Kak Arzie"
Arzie tersenyum pada adiknya. Lalu dia memeluk Kira dengan penuh kehangatan. Kira pun tak membantab perintah kakaknya itu. Dia tahu apa yang dikatakan kakaknya adalah untuk kebaikkannya.
__ADS_1
******