Bulan Yang Terbelah

Bulan Yang Terbelah
Pencarian Panjang - Bagian Dua


__ADS_3

Pukul tiga pagi kapal yang ditumpangi nya merapat dipelabuhan Bakauheni, ujung pulau Sumatra. Masih butuh waktu beberapa jam lagi dia untuk sampai di Palembang. Dia tidak langsung mengendari mobilnya ke kota tujuan. Dia singgah sebentar di hotel terdekat untuk beristirahat.


Setelah dia rasa cukup tidurnya, dia melanjutkan perjalanannya. Malam harinya dia baru sampai dirumah keluarga kandungnya. Rumah itu tampak usang dan tak lagi berpenghuni. Arzie mengitari sekeliling rumah. Memandang setiap sudutnya. Dia terdiam didepan pintu depan rumah.


"Maaf, adek ini siapa ya? Ada perlu apa disini?"


Seorang ibu berkain sarung menyapanya. Ibu itu mengenakan selendang untuk menutupi kepalanya. Umurnya sekitar 65 tahun.


"Maaf, Bu. Saya mencari pemilik rumah ini. Apa benar ini rumah bapak Dani Alvian?"


"Iya, betul. Ini rumah Dani Alvian. Adek ini siapa ya?'


"Saya Arzie. Saya kesini mencari kedua orang tua kandung saya. Menurut informasi yang saya dapatkan kedua orang tua kandung saya tinggal dirumah ini. Bapak Dani Alvian dan Ibu Suryani"


"Orang tua kandung? Jadi kamu anak nya Dani dan Yani?"


"Iya, Bu"


"Ya, sudah. Kita masuk dulu kedalam. Biar lebih enak ceritanya. Tunggu sebentar saya ambilkan kunci rumahnya"


Perempuan tua itu masuk kerumah nya yang terletak diseberang, tak lama dia keluar lagi dan menemui Arzie. Perempuan tua itu membukakan pintu rumah dan mempersilakan Arzie masuk.


Ruang tamu yang cukup besar, gaya rumah tua yang kental terasa sekali dari perabot dan arsitektur bangunan. Didindingnya terpasang foto-foto tua.

__ADS_1


"Apa benar kamu anak Yani dan Dani?"


Arzie menyerahkan berkas-berkas adopsi dan foto-foto pada ibu itu.


"Jadi kamu anak laki-laki mereka. Anak laki-laki satu-satunya Dani dan Yani"


"Maaf, sepertinya ibu sangat mengenal kedua orang tua kandung ku"


"Ya, saya ini tetangga sekaligus kakak angkat Yani. Sejak orang tua kami tinggal disini kami sudah berteman baik. Nama ku Yetty. Panggil saja Mak Yet"


"Baiklah, Mak Yet. Kalau boleh saya tahu dimana sekarang kedua orang tua saya berada?"


Mak Yet diam. Mau tak mau dia harus menceritakan semuanya pada Arzie.


"Mohon maaf, nak Arzie. Ibu mu sudah meninggal dunia dua tahun yang lalu. Sedangkan ayahmu ... Meninggal dunia saat kabur dari penjara tak lama setelah adik bungsumu diadopsi orang"


"Iya, dia gila judi. Makanya ibumu memutuskan untuk memberikan adik bungsumu pada orang lain agar mereka tidak menderita bersama nya. Bapakmu melarikan diri dari penjara, dan tewas tertembak peluru polisi yang mengejarnya. Dia melakukan perlawanan sehingga terpaksa polisi melumpuhkannya dengan timah panas"


"Lalu tadi Mak Yet bilang adik bungsuku juga diadopsi orang?"


"Ya, benar. Kalian lima bersaudara. Kedua kakak perempuanmu meninggal dunia, yang tertua meninggal dunia saat berumur seminnggu. Lalu anak kedua meninggal dunia saat berumur tiga tahun. Yang hidup hanya kamu dan dua orang adik kembar mu?"


"Kembar?"

__ADS_1


"Ya, kamu masih punya adik kembar perempuan. Cantik sekali. Dua hari yang lalu dia juga kesini mencari kedua orang tuanya. Tapi aku hanya bertemu sebentar dengannya. Sepertinya dia terburu-buru"


"Apa Mak Yet tahu alamat nya?"


"Dia hanya bilang dia tinggal di Jakarta. Tapi aku lupa namanya. Yang jelas dia perempuan cantik dan masih bersekolah. Mungkin sekarang kelas dua SMA. Dia tak banyak tanya saat disini. Setelah tahu kedua orang tua kalian telah tiada, dia minta ditunjukkan makamnya. Lalu sepertinya dia pergi kesana".


"Apa makam nya jauh, Mak Yet?"


"Ya, lumayan jauh. Ada dikampung sebrang. Kalau kamu mau kesana lebih baik besok pagi saja"


Perasaan Arzie malam ini luar biasa campur aduk, dia senang bisa menemukan jejak keluarga kandungnya, dilain pihak dia juga sedih karena kedua orang tuanya telah tiada. Tapi dia juga masih berharap bisa bertemu lagi dengan kedua adik kembar perempuan nya.


Arzie pamit pada Mak Yet. Dia kembali kehotel di kota untuk beristirahat. Menenangkan hati dan pikirannya terlebih dahulu. Memberikan hak pada tubuhnya yang lelah untuk beristirahat sejenak.


******


Pagi harinya dia kembali bersama Mak Yet mengunjungi makam kedua orang tuanya. Jaraknya memang cukup jauh. Setengah jam perjalanan dengan mobil.


"Bapak ... Ibu ... Ini aku Arzie. Anak kandung kalian yang diadopsi oleh orang lain. Maafkan Arzie baru bisa datang sekarang mengunjungi kalian. Arzie baru tahu kebenarannya. Seandainya Arzie tahu lebih awal, mungkin kita bisa menghabiskan waktu bersama lebih lama lagi"


Mak Yet yang berdiri dibelakang nya meneteskan airmata mendengar ucapan Arzie yang berlutut dihadapan makam kedua orang tuanya.


"Arzie janji akan mencari kedua adik Arzie. Dan Arzie berjanji akan menjaga mereka berdua dengan baik. Bapak dan Ibu tak usah khawatir Arzie janji akan menjadi kakak yang baik buat mereka, Arzie akan menggantikan kalian menjaga mereka dengan baik. Arzie janji Pak ... Bu ..."

__ADS_1


Bulat sudah tekad Arzie mencari kedua adik kandungnya. Memang dia hanya mempunyai sedikit informasi mengenai keduanya. Namun Arzie yakin bisa menemukan mereka berdua demi Bapak dan Ibu kandungnya.


******


__ADS_2