
Musim berganti bulan pun berganti. Keren kembali ke Jepang. Sepeti biasa setiap libur sekolah dia datang ke Indonesia. Dan selalu saja bertemu dengan Alexi. Kirani bukannya tidak tahu hal itu, cuma dia ingin menghargai perasaan saudari kembarnya.
Setiap Keren di Indonesia merupakan hari-hari yang menyiksa batinnya. Dia harus mendengar cerita-cerita kebersamaan Keren dan Alexi yang membuat batinnya seperti teriris-iris.
Akhir bulan ini Keren akan datang ke Indonesia lagi. Dia baru saja menyelesaikan ujian akhir nya di SMA. Setelah upacara kelulusannya dia langsung terbang ke Indonesia. Dia tak sabar ingin kembali ke Indonesia dan bertemu dengan Alexi.
Kirani berusaha melupakan hal itu. Dia ingin fokus pada Ujian Nasionalnya yang hanya tinggal hitungan hari lagi.
"Tenanglah Kira, fokus pada masa depanmu. Lupakan semua masalah cinta. Selesaikan dulu ujianmu ini", begitu ucapnya dalam hati.
******
Empat hari ini Kira berjuang mati-matian untuk ujian nasionalnya. Hari ini ujian terakhir, dia mendapat jadwal sesi pertama. Pukul sepuluh dia sudah keluar dari ruang ujiannya. Lega rasanya sudah memperjuangkan sesuatu yang penting dalam hidupnya.
Drrr... Drr...
Sebuah pesan WhatsApp dari Keren.
"Bagaimana ujianmu?"
"Alhamdulillah, baru saja selesai. Merdeka jiwa raga"
"Hahahha... Baguslah. Temani aku mencari sesuatu ya..??!"
"Baiklah. Tunggu saja dirumah. Aku sebentar lagi pulang"
"Oke"
__ADS_1
Mobil jemputan Kirani datang. Dia langsung pulang kerumah untuk berganti pakaian. Dirumah Keren sudah menunggunya.
"Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu"
"Yap, santai saja lah"
Kira menuju kamarnya dan berganti pakaian. Kemeja berwarna biru lembut bergaris-garis vertikal dengan rok hitam berbahan lembut nan indah. Dipadu dengan hijab berwarna biru motif bunga-bunga serta sandal wedges yang cantik menghiasi kakinya. Anggun sekali.
Sementara Keren kaos putih tangan pendek di padu dengan wearpack sedengkulnya berwarna biru dongker. Serta sepatu kets abu-abunya. Kalung rantai panjang berleontin daun di lehernya. Rambutnya diikat keatas. Anting berbentuk lingkaran besar di kedua telinga nya. Gayanya memang nyentrik. Kesan feminimnya minim sekali.
Mereka berdua menuju sebuah toko arloji, Keren berniat membelikan sebuah arloji sebagai hadiah ulang tahun buat Alexi. Dia membungkusnya dengan rapi.
"Kamu mau memberikan hadiah itu pada Kak Alex?", tanya Kira.
"Ya, Minggu lalu dia ulang tahun. Aku hanya mengucapkan selamat ulang tahun padanya via VC WhatsApp. Sekarang mumpung aku sedang di Indonesia aku ingin memberikannya sesuatu"
Kira hanya tersenyum. Senyuman yang menyembunyikan luka hatinya.
Mereka melanjutkan perjalanan menyusuri tepian jalan berdua. Langkah mereka terhenti saat seseorang keluar dari pintu sebuah kafe.
"Kak, Alexi ... ", sapa Keren.
Alexi melihat pada suara yang memanggilnya. Kirani terkejut bertemu dengan Alexi disaat dia sedang bersama Keren dan disaat dia tak siap bertemu dengan Alex.
"Keren ... Kira? Kalian...??!"
Keren menoleh pada Kirani. Lalu menatap Alex yang berjalan mendekati mereka.
__ADS_1
"Kamu mengenal, Kak Alex?"
Kirani diam. Dia tak sanggup menjawabnya.
"Keren, kamu kapan datang dari Jepang? Kok bisa bersama Kirani?"
"Kak Alex, kenal Kira?"
"Tentu saja kami pernah beberapa kali bertemu. Pertama kali bertemu aku mengira dia adalah kamu. Habisnya wajah kalian mirip"
"Tentu saja mirip, kami kembar", ucap Keren.
"Kembar???!", Alexi tak percaya pada apa yang didengarnya.
Dia melihat pada Keren lalu menatap Kirani. Lalu pada Kereb lagi. Kemudia Kira lagi. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kalian tidak bercanda, bukan?"
"Tentu saja, tidak. Bukankah sudah terlihat buktinya?",ucap Keren lagi.
"Kamu benar. Wah, pantas saja waktu itu aku keliru. Rupanya kalian kembar identik. Wajah kalian mirip sekali. Hanya pakaiannya saja yang berbeda. Luar biasa. Aku jadi terkejut melihatnya"
"Oiya, Kak. Seperti janji ku waktu itu. Ini hadiah ulang tahun untuk mu. Maaf terlambat memberikannya"
"Hadiah ulang tahun? Ya, ampun Keren. Tidak perlu repot seperti ini. Terima kasih ya ... "
"Tidak repot, kok. Aku kan sudah janji padamu, Kak"
__ADS_1
Kira merasa seperti orang bodoh menyaksikan percakapan mereka yang begiti akrab dan mesra. Dia merasa tak nyaman berada disitu berlama-lama.
******