
"Bagaimana keadaanmu, Kira?"
"Alhamdulillah ... Aku sudah lebih baik sekarang. Ujianmu bagaimana Keren"
"Tak usah mengkhawatirkan ujianku, khawatir kan saja dirimu sendiri. Kamu ceroboh sekali. Sampai-sampai jatuh sakit. Kurangi kegiatan yang tidak penting mu itu. Jangan sok kuat. Pikirkan tubuhmu sendiri"
Kira tersenyum mendengar ucapan Keren. Sedikit judes namun penuh perhatian padanya. Keren memang galak dan suka asal kalau bicara. Maklum mereka hanya serupa wajah namun sifat keduanya bagaikan bumi dan langit.
"Telepon dari siapa, Dek?"
"Keren, Kak"
"Ada apa?"
"Tidak apa-apa, hanya menanyakaan keadaan Kira dan sedikit mengomel ... Hahaha..."
"Kak, Arzie senang melihatnya. Kalian bisa seakrab ini dalam waktu singkat. Kak Arzie harap selamanya kalian seperti ini"
"Ya, Kak ... "
"Dokter bilang, jika keadaanmu stabil, besok atau lusa kamu sudah bisa pulang"
"Benarkah?"
"Ya, tapi tetap harus kontrol. Dan jaga kesehatanmu"
"Kira senang, Kak. Bosan disini. Sudah lima hari di tempat tidur saja. Pengen cepat-cepat pulang kerumah"
******
Seperti kata dokter, dua hari kemudian Kirani diperbolehkan pulang.
"Bi, tolong bawakan barang-barang yang ada di mobil ya", pinta Arzie pada Bi Mar.
"Baik, tuan"
__ADS_1
"Aaahhh.... Senang nya bisa berada dirumah lagi"
"Kamu jangan kemana-mana dulu, istirahat saja satu dua hari ini. Kak Arzie sudah menemui walikelas kamu meminta izin"
"Iya, Kak. Baiklah"
Arzie mengantarkan Kirani ke kamar.
"Ya, sudah. Istirahatlah. Nanti Kak Arzie minta Bi Mar buatkan kamu bubur nasi"
"Ya, Kak"
Kirani mencoba memejamkan matanya. Akhirnya dia pun tertidur pulas. Rasa nyaman telah kembali kerumahnya membuat dia begitu senang dan bisa tidur dengan nyenyak. Beda sekali dengan dirumah sakit, sama sekali tidak nyaman.
******
Drrr.... Drrr....
Kirani terbangun mendengar suara ponselnya. Perlahan dia mengambil ponselnya di atas meja dekat tempat tidurnya.
"Hei, kamu sudah sembuh?"
"Ya, tadi pagi sudah pulang kerumah. Kamu apa kabar Keren?"
"Kalau aku biasa aja. Tidak ada yang istimewa. Syukurlah kalau kamu sudah dirumah. Minggu depan sekolahku libur. Mungkin aku akan kesana. Kebetulan juga aku ada perlu dengan seorang teman di Bandung"
"Benarkah, aku senang mendengarnya. Baiklah aku dan Kak Arzie tunggu kamu disini, Keren"
"Kak Arzie, kemana?"
"Dia sedang dikamarnya. Kamu mau bicara dengannya?"
"Ooo... Tidak. Tidak usah. Lain kali saja"
"Ya, sudah... Jangan banyak macam-macam kamu, Kira. Biar tidak merepotkan Kak Arzie. Kasian dia"
__ADS_1
"Baiklah ... Terima kasih. Sampai jumpa minggu depan"
Kirani bangun dari tidurnya. Dia menuju wastafel, membasuh wajahnya. Lalu dia turun ke lantai bawah. Dia mencari kakaknya dikamarnya, tapi dia tak bertemu. Barangkali Kak Arzie ada dilantai bawah, pikirnya.
Tak ada siapapun diruang tengah maupun diruang tamu. Dia menuju ruang makan, pun dia tak menemukan siapa-siapa disana. Lalu dia berjalan ke dapur. Disana Bi Mar, dan Mbak Rumi sedang mengobrol disana.
"Non, Kira sudah bangun. Apa sudah baikan, Non?"
"Sudah, Bi. Aku sudah lebih baik ko. Kak Arzie kemana, Bi?"
"Tuan sedang pergi kekantor. Non, Mau makan? Biar Bi Mar buatkan bubur ya. Tuan pesan Non Kira makannya harus bubur"
"Boleh, Bi"
"Tunggu saja di depan, Non. Jangan disini. Kotor", kata Mbak Rumi.
"Ahh... tidak apa-apa ko. Aku disini saja. Bosan di kamar sepi. Kak Arzie tidak ada"
"Kalau Non Kira perlu apa-apa panggil kami saja"
"Iya, Bi. Kak Arzie sepertinya ada urusan penting ya dikantornya. Padahal aku mau bilang kalau minggu depan Keren akan datang"
"Sepertinya mau ada tamu penting ya, Non?"
"Iya, Keren adalah saudara kembarku. Dia besar dan tinggal di Jepang. Minggu depan sekolahnya libur jadi dia mau pulang ke Indonesia. Kak Arzie pasti senang sekali"
"Jadi Non Kira kembar? Pasti sama cantiknya dengan Non Kira"
"Iya, dong Bi. Namanya kembar pasti sama", protes Mbak Rumi.
Hahahaha...
Bi Mar dan Kirani tertawa melihatnya. Tak lama bubur nasi buatan Bi Mar matang. Dia langsunh menyajikannya dimeja. Kirani duduk dimeja makan menikmati bubur nasi dan telur rebus dan sayur sop hangat. Kirani merasakan hangat dalam perutnya. Bubur ini jauh lebih enak dari pada masakan rumah sakit yang terpaksa dimakannya saat opname kemarin.
******
__ADS_1