
Tok ... Tok ...
Cekreeeeekkk ....
"Assalamualaikum ... "
"Waalaikumsalam ... "
"Maaf, saya Arzie Yudhana Kusuma. Saya mencari Bi Jah, apa dia ada dirumah?"
"Oooo... Tuan Arzie ... Silakan masuk, tuan. Silakan duduk dulu. Nanti saya panggilkan Bi Jah nya"
"Terima kasih"
Arzie duduk dikusi tamu. Rumah Bi Jah sederhana namun bersih dan rapi. Bi Jah adalah asisten rumah tangga keluarga Kusuma sejak Bi Jah tamat dari sekolah menengah. Dia kepercayaan Nyonya Eren Kusuma, mami Arzie. Dia sempat berhenti bekerja karena menikah. Namun tiga tahun kemudian suaminya meninggal dunia. Untuk menghidupi kedua anak nya Bi Jah kembali bekerja di rumah keluarga Tuan Kusuma.
Namun karena usia yang sudah tua, Bi Jah dua tahun lalu minta berhenti dan Rumi anak tertuanya yang sekarang bekerja menggantikannya dirumah keluarga Tuan Kusuma.
"Tuan muda Arzie ... ", sapa seorang tua dari dalam rumah.
"Bi Jah, apa kabar?"
Arzie menyalami Bi Jah dengan sopan. Walaupun asisten rumah tangga, keluarga Kusuma memperlakukan mereka selayaknya saudara sendiri. Memanusiakan asisten rumah tangga mereka. Itulah yang diajarkan mami dan papinya pad Arzie.
"Ada angin apa sampai-sampai tuan muda datang kesini? Kok Rumi tidak mengabari saya kalau tuan muda mau berkunjung"
"Ooh... Saya memang tidak mengatakan pada siapapun Bi, kedatangan saya kemari ini ingin menanyakan sesuatu hal yang sangat penting?"
"Hal yang sangat penting?"
"Benar, Bi. Saya harap Bi Jah mau mengatakannya dengan jujur. Karena ini sangat penting untuk saya, Bi"
Arzie menyerahkan amplop yang dia temukan dalam koper tua Papi nya itu pada Bi Jah. Bi Jah terkejut membuka dan membaca isi amplop itu. Dia menetap Arzie dengan penuh tanya.
__ADS_1
"Bi Jah... Apa benar yang tertulis dalam surat-surat itu, Bi?"
"Dari mana tuan muda bisa menemukan surat ini? Surat ini hanya disimpan oleh Tuan Rian. Tak seorangpun yang tahu tempat nya"
"Saya menemukannya didalam koper tua peninggalan Papi, saat saya membukanya surat-surat itu ada didalamnya. Dan juga foto-foto ini, Bi"
Bi Jah mengambil foto-foto itu. Melihatnya satu persatu. Dia menghela nafas panjang.
"Lalu untuk apa semua ini buat Tuan muda?"
"Katakan, Bi. Apa benar aku ini anak adopsi?"
"Benar tuan", jawab Bi Jah hati-hati.
"Lalu dimana kedua orang tua kandungku, Bi"
"Maaf tuan muda, untuk apa tuan muda mencari mereka lagi. Bukan kah Papi dan mami tuan muda tidak pernah memperlakukan tuan muda seperti anak angkat. Mereka sangat menyayangi tuan muda. Terlebih lagi Nyonya Eren"
Bi Jah diam. Dia berfikir sejenak. Memberanikan diri untuk bicara.
"Tapi tuan muda ... "
"Saya mohon, Bi. Katakan sejujurnya padaku. Tidak ada lagi yang tahu hal ini selain Bi Jah"
"Mohon maaf, tuan muda. Memang benar. Semua orang yang tahu kebenaran ini sudah tiada. Karena itu saya memberanikan diri untuk cerita. Semoga saja saya tak salah bicara"
"Tenang saja, Bi. Saya siap mendengarkan apapun kenyataannya"
Bi Jah mengatur nafasnya, mengatur hatinya agar dia tak gugup saat bercerita.
"Dahulu, sewaktu Bi Jah pertama kali bekerja di rumaj Tuan Kusuma, kurang lebih dua tahun pertama, Nyonya Eren mengajak saya untuk menemaninya menemui seseorang di Palembang. Kami berdua berangkat kesana bersama Tuan Rian mengendarai mobil. Perjalanan yang sangat jauh"
"Sebuah keluarga yang tidak mampu, rumah mereka sederhana. Namun halamannya luas, ada kebun kecil disamping rumahnya. Disana kami menemui seorang laki-laki bernama Dani. Dia mengatakan akan memberikan anak pertamanya pada tuan dan nyonya kusuma. Karena waktu itu keadaan ekonomi mereka sedang sulit"
__ADS_1
"Pak Dani hanya seorang kuli bangunan, sedangkan istrinya Yani seorang buruh cuci. Bahkan untuk membeli susu anaknya pun mereka tak mampu. Anak itu anak ke tiga mereka. Satu-satunya anak yang hidup. Kedua anak yang lainnya meninggal dunia karena sakit".
"Sang ibu masih muda sekali. Mungkin baru berusia dua puluh tahunan. Sebaya dengan saya. Namun wajahnya pucat dan kurus. Mereka takut anak itu seperti kedua kakaknya yang meninggal dunia karena kekurangan gizi saat anak-anak"
"Bayi mereka laki-laki. Gemuk. Putih dan sehat. Waktu itu kedua orang tua tuan muda mengikhlaskan anaknya untuk dibawa tuan kusuma. Dengan tujuan agar anaknya tak bernasib sama seperti keluarganya. Lalu tuan dan nyonya Kusuma membawa tuan muda ke Jakarta sampai saat ini"
Hati Arzie bergejolak hebat saat itu. Namun dia berusaha menahan semua emosinya. Dia berusaha bersikap tenang mendengarkan perkataan Bi Jah.
"Lalu apakah keduanya sekarang masih hidup, Bi?"
"Entahlah tuan muda, sejak membawa bayi mereka tuan dan nyonya kusuma tak pernah lagi berhubungan dengan kedua orang tua kandung tuan muda"
"Bi Jah bisa beritahu saya dimana alamat mereka"
"Tuan muda mau mencari mereka"
"Ya"
Bi Jah memerikan petunjuk jalan yang dia ingat saat menjemput bayi adopsi tuan nya. Di dalam surat-surat itu memang tertera alamat tempat orang tua kandung Arzie. Namun petunjuk jalan dari Bi Jah sangat membantunya.
******
Arzie pamit pada Bi Jah. Dia bertekad mencari kedua orang tua kandungnya ke Palembang.
"Tuan muda, saya harap tuan muda bertindak dan bersikap bijaksana saat bertemu keluarga kandung tuan muda nantinya. Jangan pernah lupakan Papi dan Mami tuan yang sangat menyayangi tuan muda"
"Ya, Bi. Saya paham maksud Bi Jah. Terima kasih atas segala bantuan Bi Jah. Bagaimanapun keadaan mereka nantinya, mereka adalah orang tua kandung saya, Bi. Saya harus menerimanya dengan besar hati"
"Bi Jah percaya pada tuan muda. Hati-hatilah di jalan tuan muda"
Arzie mengemudikan mobilnya menuju pulau seberang. Dia berharap dapat bertemu dengan keluarga kandungnya segera. Apapun dan bagaimanapun keadaan mereka.
******
__ADS_1