Bulan Yang Terbelah

Bulan Yang Terbelah
Pesan Terakhir Nenek


__ADS_3

Nenek terbangun di tengah malam, Kira yang kebetulan belum tertidur mendekatinya. Membawakannya segelas air hangat.


"Nek, minumlah air hangat ini. Biar nafas nenek lega"


Nenek menerima segelas air itu dan meminumnya. Tenggorokan dan perutnya terasa hangat.


"Kira ... "


"Ya, Nek ..."


"Kenapa kamu belum tidur, Nak?"


"Belum mengantuk, Nek"


"Sebenarnya nenek mau mencetitakan sesuatu rahasia padamu. Nenek takut umur nenek tidak panjang, nenek takut tidak sempat memberitahukan padamu"


"Ada apa, Nek. Sepertinya serius sekali?!"


"Kira ... "


"Ya, Nek.. "


"Nenek harap kamu bisa menerima kenyataan ini dengan tegar nak. Sebelumnya nenek mau minta maaf pada mu. Tak seharusnya nenek merahasiakan ini, apalagi setelah kematian ayah dan bunda mu. Nenek takut kehilangan kamu, nak"


Kira menatap neneknya lekat-lekat. Ada apa sebenarnya ini. Tak pernah nya nenek bersikap seserius ini padanya.


"Dulu ayah dan bundamu tidak mempunyai anak. Setelah delapan tahun pernikahan mereka, mereka akhirnya memutuskan untuk mengadopsi seorang anak. Dan anak itu adalah kamu, Kira"


Bergetar seluruh tubuh gadis itu mendengar apa yang diucapkan nenek. Bagai disambar petir disiang hari dia mendengar hal itu.


"Nenek tidak membohongiku, bukan. Aku tak percaya ini semua, Nek"


"Tolong kamu ambilkan, amplop coklat dibawah pakaian nenek dilemari"


Kira berdiri dan melakukan apa yang nenek nya perintahkan. Nenek membuka amplop itu, isi nya selembar surat adopsi dari catatan sipil dan sebuah poto dia bayi bersama seorang perempuan.


"Ini adalah ibu mu. Ibu kandungmu. Namanya Yani dan Ayah kandung mu bernama Dani. Ibumu seorang buruh cuci sedangakan ayah mu kuli bangunan. Saat itu dia tidak punya biaya untuk mengeluarkan bayinya dari rumah sakit"


"Bundamu, Sarah, membantunya melunasi biaya persalinan dan ibumu menyerahkan kamu pada Sarah untuk dibesarkan. Karena dia tak sanggup membesarkan anaknya karena keadaan ekonominya yang minim"


"Lalu dimana orang tua kandungku tinggal, Nek? Tolong katakan padaku?!"


"Nenek dulu pernah menyimpan alamat nya. Tunggu sebentar"

__ADS_1


Nenek mencari-cari secarik kertas. Dan dia menemukannya di dompet tuanya. Terbungkus rapi dalam kantong kain berwarna merah. Nenek menyerahkan itu pada Kira. Kira membukanya.


"Palembang?", ucap Kira pelan.


Nenek mengangukkan kepala nya.


"Jauh sekali, Nek. Biaya kesana pasti sangat mahal. Dan Kira tidak punya uang sebanyak itu"


"Sabarlah, Nak. Jika ada umur kamu pasti bertemu dengan kedua orang tua kandungmu"


"Bagaimana keadaan mereka, Nek. Sebegitu miskinkah mereka sampai membuang anaknya?"


"Jangan bicara begitu, Nak. Bagaimana pun buruknya mereka orang tua kandung mu. Nenek yakin, keadaan lah yang memaksa mereka melakukan itu. Nenek dengar, kamu mempunyai seorang kakak laki-laki dan seorang kakak perempuan"


"Aku punya kakak laki-laki dan perempuan?"


"Ya .."


******


Malam itu Kira sangat gelisah. Hatinya tidak tenang, entah ada apa gerangan. Atau karena kabar yang nenek ceritakan barusan membuatnya tak bisa tidur.


Pukul empat pagi, dia bangkit dari tempat tidurnya. Dia menoleh ke kasur atas tempat nenek berbaring. Nenek terbatuk-batuk dan nafasnya makisn sesak. Suhu tubuh nenek makin dingin. Kira begitu panik. Apa yang harus dia lakukan?.


"Halo...", suara parau dari ujung telepon.


"Halo... Kak Arzie"


Arzie tersentak. Dia mengenali dengan jelas suara ini.


"Kira? Ada apa, Dek? Kenapa kamu telepon sepagi ini?"


"Nenek .. Kak. Nenek...", jawabnya sambil menangis.


"Nenek kenapa, Dek?"


"Nenek kritis. Nafasnya sesak. Tubuhnya mulai dingin. Aku takut, Kak?!"


"Ya, sudah. Kamu tunggu disitu. Kak Arzie akan segera kesana"


Tanpa basa-basi lagi. Arzie mengambil kunci mobilnya. Dia hanya mencuci wajah dan mulutnya dengan mouthwash. Lalu masuk kedalam mobil. Setengah jam kemudian dia sudah berada dirumah Kirani.


"Bagaimana nenek?"

__ADS_1


"Nenek di dalam, Kak"


Arzie bergegas masuk kedalam. Wajah nenek pucat nafas nya tersengal-sengal.


Kesadarannya mulai menurun. Tubuh bagian bawah mulai dingin. Arzie yang melihat ini teringat waktu almarhumah mami nya saat sakaratul maut. Arzie khawatir ini saatnya nenek pergi. Dia duduk berlutut disamping tempat tidur nenek, tepat dikanan kepalanya.


Arzie menggengam tangan nenek. Dia membisikkan sesuatu.


"Nek, ini aku Arzie. Nenek bisa dengar aku?"


Tangan nenek bergerak merespon ucapan Arzie.


"Nek, Arzie dan Kira minta maaf sama nenek kalau kami punya salah. Kami sayang nenek"


Arzie makin mendekatkan bibirnya pada telinga nenek. Dia membisikkan dua kalimat syahadat. Mulut nenek bergerak mengikutinya perlahan. Selesai ia mengucapkan nya, nafas nenekpun berhenti.


Kira histeris, dia memeluk nenek ya. Arzie tak tahan melihat semua itu. Arzie menarik tangan perempuan yang sedang bersedih itu lalu memeluknya dalam dekapannya. Kira menangis sejadi-jadinya dalam pelukan didada Arzie.


"Ikhlaskan nenek, Dek",ucap Arzie lirih.


******


Nenek dikebumikan sebelum dzuhur dipemakaman kampung. Arzie memeluk Kira dipemakaman, mentransfer kekuatan pada gadis lemah lembut itu. Arzie menuntun Kira menuju mobil. Dia membukakan pintu untuk Kira. Lalu Arzie berada dibalik kemudi.


"Apa rencanamu setelah ini, Dek?"


"Entahlah, Kak. Kira tidak tahu harus bagaimana. Sekarang kira sebatang kara didunia ini"


"Jangan bicara seperti iti, Dek. Masih ada Kak Arzie disini"


Kira tersenyum. Tapi senyumnya tak bisa menyembunyikan rasa dukanya.


"Benar kamu tidak apa-apa, Kak Arzie tinggal sendiri disini"


"Tidak apa-apa, Kak. Maaf tidak enak dilihat tetangga kalau Kak Arzie berada disini selarut ini"


"Ya, Dek. Kak Arzie paham. Kak Arzie mengkhawatirkan kamu, Dek"


"Kak Arzie tak usah khawatir, ya"


"Baiklah, jaga dirimu baik-baik. Kunci semua pinti ya, Dek. Kalau ada apa-apa segera hubungi Kak Arzie"


Kirani mengangukkan kepalanya. Lalu dia menutup pintu setelah Arzie pergi. Arzie sangat menghawatirkan Kira, dia takut terjadi apa-apa karena Kira seorang diri di rumah kontrakan itu.

__ADS_1


******


__ADS_2