Bulan Yang Terbelah

Bulan Yang Terbelah
Patah Hati - Bagian Dua


__ADS_3

Drrr....drrr...


Sebuah pesan WhatsApp masuk di ponsel Kirani. Dia mengambil ponselnya.


"Kak Alex?!"


Dia menekan tombol buka pada ponselnya, membaca pesan WhatsApp itu.


"Assalamualaikum, perempuan solehah ku. Sedang apa?"


Kira mengabaikan pesan itu. Ponselnya kembali berdering.


"Kalau kamu tak membalasnya. Aku akan mengirim pesan berpuluh-puluh kali bahkan ribuan kali sampai kamu membalasnya"


Lagi. Kira mengabaikannya. Dia meninggalkan ponselnya dikamar. Dia menuju lantai bawah. Mencari Keren.


"Keren kemana, Bi?", tanyanya pada Bi Mar.


"Non Keren baru saja pergi naik taxi. Dia bilang ada janji dengan temannya"


"Janji dengan teman? Pasti dengan Kak Alex?!", batin Kira.


Kira kembali kekamarnya. Sekolahnya sudah libur. Dia hanya tinggal menunggu pengumuman kelulusannya minggu depan. Lagi-lagi dia terganggu dengan suara ponsel yang berdering berkali-kali. Dengan agak kesal kira mengambil ponselnya.


"124 pesan?? Gila!!"


Kira terkejut melihat 124 pesan WhatsApp dari Alexi pada ponselnya.


"Ada apa?", balas Kira.


Dia terpaksa membalasnya. Jika tidak ponselnya bisa error akibat pesan-pesan aneh dari laki-laki itu.


"Terima kasih, bidadariku. Maaf mengganggu mu"


"Ada apa?"


"Bisa kita bertemu?"


"Untuk apa?"


"Untuk bertemu dengan mu?"


"Maaf aku sedang ada pekerjaan"


"Kalau begitu aku kerumahmu, ya .."


"Kerumah??? Oh my God ...", teriak Kira dalam hati, bisa-bisa Kak Arzie tahu dan bakal di hajar habis-habisan Alexi oleh kakaknya.


Dia tahu benar kakaknya sedang kesal dengan laki-laki itu karena masalah Keren dan dirinya.


"Kenapa diam? Katakan dimana rumah mu, aku akan kesana"


"Baiklah. Kita ketemu dimana?"


"Nah, gitu dong. Taman kota jam empat sore?!"

__ADS_1


"Oke"


******


Tepat pukul empat sore Kira sudah berada di taman kota. Dan Alex pun sudah ada disana menunggunya.


"Hi,. Kira. Bagaimana mana kabarmu?"


"Baik", Kira tak berani menatap mata Alexi.


"Ayo, ikut aku"


"Kemana?"


Alexi tak menjawabnya. Dia memegang tangan Kira dan membawanya naik kedalam mobil. Alex berada dibelakang kemudi. Dia mengendarai kendaraannya dengan santai.


"Kita mau kemana, Kak?"


"Menikmati senja bersamamu"


"Aku serius, Kak Alex"


"Aku juga serius, sayangku"


Kira menghela nafas panjangnya. Alex tak benar-benar serius menjawab pertanyaannya tadi. Alex berhenti di sebuah kafe, dia membukakan pintu untuk Kira. Kira turun dan terpaksa mengikuti apa mau Alex.


"Mau pesan apa, sayang?"


"Apa saja"


Alex memanggil pelayan. Memesankan makanan untuk mereka berdua.


"Kak Alex, please... Ini sudah hampir malam. Ada perlu apa sebenarnya?"


"Kenapa kami takut sekali. Aku akan mengantakan mu pulang sampai depan pintu nanti"


"Bukan begitu, Kak .... Aku ... "


Alex memegang tangan Kira. Kira terkejut dan mencoba melepaskan nya. Namun Alex memegangnya lebih erat lagi.


"Kira... Maaf memaksamu begini"


"Lepaskan tanganku, Kak ... "


"Aku tidak akan melepaskan nya, sebelum aku tahu jawaban mu"


"Jawaban apa, Kak?"


"Kira ... Sudah sejak lama aku menyimpan semua ini sendirian. Aku pikir aku akan kuat bertahan. Namun ternyata aku salah. Kira ... Sejak kita bertemu pertama kali ditaman kota itu, aku sudah merasakan perasaan yang berbeda terhadapmu. Aku mencoba menyakinkan diriku sendiri tentang apa yang kurasakan itu"


"Dan akhirnya aku tahu ... Aku mencintaimu Kira. Aku sayang padamu. Aku tidak akan main-main dengan perasaanku ini. Kira. Aku benar-benar mencintaimu ..."


Sesak nafas Kira mendengar ucapan itu. Kira hanya terdiam. Dia masih berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Alex.


"Aku bilang, aku tak akan melepaskannya sampai kamu menjawabnya. Aku yakin kamu juga pasti mempunyai perasaan yang sama denganku"

__ADS_1


"Keren ... ", ucap Kira pelan.


"Eehh..."


"Bagaimana dengan Keren, Kak?"


"Keren? Aku tak pernah punya perasaan apa-apa teehadapnya. Yang aku cintai hanya kamu, Kira. Aku dan Keren hanya teman biasa. Aku hanya mencintaimu, bukan Keren"


Kira tak tahu harus senang atau bahagia. Dia tahu Keren pasti akan kecewa jika mengetahui hal itu.


"Maaf Kak, aku tak mau menyakiti hati Keren. Dia saudaraku. Dia lebih berarti buatku"


Kira pergi meninggalkan Alex seorang diri. Alex berusaha mengejarnya. Namun langkah kaki Kira jauh lebih cepat. Dia menghentikan sebuah taxi lalu pergi.


******


Dan tanpa sepengetahuan mereka berdua Keren pun berada di kafe itu, tepat dibelakang tempat duduk Alex. Dia menutupi wajahnya dengan topi agar tak seorangpun mengenali mereka.


Keren mendengar jelas dan melihat dengan kedua belah matanya apa yang sedang terjadi. Hatinya bergejolak. Dia berusaha mengendalikan dirinya. Dia mengatur nafasnya perlahan, menata kembali hatinya.


"Keren ...", Alex terkejut saat dia kembali kedalam kafe Keren sudah berada dihadapannya.


"Kita perlu bicara, Kak"


"Tentang apa?"


"Tentang yang barusan terjadi"


"Maaf Keren. Aku tak bisa membohongi diriku sendiri. Aku mencintai Kira sejak pertama kali kami bertemu. Orang yang paling aku sayangi adalah Kirani, bukan Kamu"


"Kamu yakin dengan yang kamu katakan itu? Kamu yakin dengan apa yang kamu rasakan itu, Kak Alex?"


"Yakin, aku sangat yakin. Bahkan seumur hidupku, aku tak pernah merasa seyakin ini"


Keren menghela nafas panjang. Menahan rasa sakit dihatinya mendengar apa yang dikatakan Alexi.


"Kalau memang kamu, mencintai Kirani, kamu sayang pada Kirani. Aku minta tolong jangan sakiti dia. Jaga dia baik-baik untuk ku. Berjanjilah padaku"


Alexi terkejut dengan apa yang didengarnya. Dia tak menyangka Keren akan mengatakan hal itu padanya.


"Berjanjilah ... !!!"


"Aku berjanji, aku akan menjaga dan menyayangi Kira dengan seluruh hidupku"


"Oniisan wa otokodesu. Watashi e no yakusoku o wasurenaide kudasai. Honmono no otoko no yakusoku" 1)


"Sampai jumpa"


Keren membungkuk dan memberi hormat. Dia lalu pergi meninggalkan Alex yang terdiam seorang diri di kafe itu.


******


Terjemahan


1). "Kakak adalah seorang laki-laki. Jangan pernah lupakan janjimu itu padaku. Janji seorang laki-laki sejati"

__ADS_1


__ADS_2