
Drrr... Drr...
Handphone Kira berbunyi. Dia menghentikan belajarnya. Mengambil ponselnya diatas kasur.
"Sudah tidur, Dek?"
"Belum, Kak. Ada apa?"
"Kak Arzie sepertinya pulang larut malam ini, ada lembur sedikit, mengecek ulang beberapa berkas dengan tiap divisi. Kamu tidur saja duluan, Dek"
"Iya, Kak. Hati-hati pulang nya, Kak. Jaga kesehatan. Jangan terlalu memaksakan diri"
"Iya, selamat tidur ya ... "
Kirani melanjutkan belajaranya. Besok dia ada ulangan harian matematika. Dia tak mau mendapat nilai buruk dalam pelajarannya, jadi dia selalu giat belajar.
******
Pukul sebelas malam Pajero hitam Arzie terparkir di halaman rumah. Arzie turun dari mobilnya, dia masuk kedalam rumah lalu menuju lantai atas. Dia sengaja berbelok menuju ruang perpustakaan di ujung kanan tangga. Meletakkan beberapa file diatas meja besar disana.
Tiba-tiba matanya tertuju pada lemari buku tua milik Papinya. Dia melihat ada sebuah kotak ukir terselip diantara buku-buku besar disana. Arzie mendekati lemari itu lalu mengambil kotak ukir yang terselip itu. Dia baru kali ini melihat benda itu. Mungkin ini milik Papi, pikirnya. Arzie membukanya. Dalam kotak itu terdapat sebuah album poto tua. Poto-poto Papi nya waktu muda dulu. Dan sebuah kunci.
"Kunci?"
Arzie berfikir. Kunci apa yang harus disimpan dalam peti ukir ini.
"Kunci apa ini ya"
"Astaga .... Mungkin saja ini kunci koper yang waktu itu Bi Mar temukan?"
"Tak ada salahnya aku coba. Penasaran juga apa isi koper tua itu"
Dia mengambil kunci itu dan meletakkan kembali kotak itu di tempatnya semula. Lalu memuju kamarnya. Arzie segera membersihkan diri dan berganti pakaian agar tubuhnya terasa lebih segar.
Arzie keluar dari kamar mandi sambil menyeka rambut nya. Lalu meletakkan kembali handuk yang dibawanya kekamar mandi. Dia menuju lemari pakaian di wardrobe nya. Dia ingat menyimpan koper tua iti wardrobe.
"Semoga aja kunci ini cocok", gumamnya.
__ADS_1
Perlahan dia masukkan anak kunci itu kelubang kunci. Memutarnya pelan-pelan dan kliikk.... Bunyi kunci iti terbuka. Dia membuka koper itu dengan sangat hati-hati. Didalamnya terdapat beberapa dokumen tua. Sebuah amplop yang bertuliskan ....
"Berkas adoosi anak?"
Matanya terbelalak membaca tulisan itu. Detak jantungnya berdebar lebih cepat. Dia membaca semua isi dokumen itu. Lemas sekujur tubuhnya membaca isi dokumen itu. Andai saja dia tak menguatkan hatinya, mungkin dia sudah berteriak sekeras-kerasnya.
"Ya, Tuhan ... Apa maksud semua ini? Jadi aku ini anak adopsi? Aku bukan anak kandung Papi dan Mami?"
"Tidak mungkin. Aku tak bisa mempercayai semua ini. Tapi... Semua berkas-berkas ini resmi dan asli. Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
******
Tok .... Tok....
"Kak..."
Arzie bangun dari tempat tidurnya dan membukakan pintu. Wajahnya masih lusuh akibat semalaman tidak tidur.
Cekreeeeekkk ...
"Kak Arzie ... Baik-baik saja"
"Kak Arzie demam"
Kira bangkit dari duduknya hendak mengambil obat, Arzie memegang tangannya. Mencegahnya pergi.
"Kak Arzie, tidak apa-apa, Dek. Hanya kurang tidur saja. Semalaman lembur"
"Tapi Kak, badan mu hangat sekali", Kira menyentuh leher dan kening Arzie sekali lagi.
"Kamu tenang saja"
"Kak Arzie tunggu sini sebentar ya. Kira ambilkan obat dulu"
Kirani segera kebawah meminta Bi Mar mengambilkan obat penurun panas dikotak obat. Lalu dia kembali ke kamar Arzie dengan membawa segelas air dan obat penurun panas.
"Kak ... Minum obatnya dulu"
__ADS_1
Arzie membuka matanya lalu tersenyum dan bangkit dari tidurnya. Dia meminum obat penurun panas dan vitamin yang dibawakan Kira.
"Terima kasih ya, Dek", kata Arzie sambil memegang pipi Kira.
"Kak Arzie istirahat saja ya, Kira pergi sekolah dulu... "
"Ini uang jajanmu. Minta saja supir untuk mengantarmu ya, Dek"
"Terima kasih, Kak. Cepet sembuh ya ..."
Kirani menutup pintu kamar perlahan-lahan. Lalu dia menuju halaman dan memanggil sopir untuk mengantarnya sekolah. Sebenarnya dia ingin naik kendaraan umum saja, tapi Arzie pasti marah. Dia begitu mengkhawatirkan Kira jadi pulang pergi sekolah dia menjemput nya sendiri atau menyuruh supir menjemput Kira.
******
Hampir tengah hari Arzie baru terjaga dari tidurnya. Seluruh badannya yang tadinya terasa sakit sekali sekarang jadi lebih segar. Panas badannya pun kembali normal. Kirani memang obat yang paling mujarab baginya.
Satu jam kemudian dia sudah siap dan berpakaian rapi.
Tuuut... Tuuut..
"Selamat siang, Pak"
"Siang. Wi, tolong kamu reschedule jadwal saya minggu ini. Saya ada urusan penting diluar kota"
"Baik, Pak", ucap sekretaris nya.
Arzie turun kelantai bawah menemui Bi Mar.
"Bi ..."
"Ya, tuan.."
"Nanti kalau Kira pulang sekolah, tolong sampaikan kalau saya ada acara di luar kota beberapa hari. Jadi untuk beberapa hari saya tidak pulang ya"
"Baik, tuan"
Arzie tahu kalau Kira menon-aktifkan suara ponselnya ketika jam belajar, sejak tadi sudah beberapa kali dia menghubungi Kira namun tak diangkatnya. Jadi dia fikir lebih baik menitipkan pesan pada Bi Mar saja.
__ADS_1
******