Bulan Yang Terbelah

Bulan Yang Terbelah
Kenyataan Yang Tersembunyi


__ADS_3

Tok .... Tok ...


"Kak ..."


Tak ada jawaban dari dalam.


Tok ... Tok ...


"Kak Arzie ... "


Tetap sunyi. Kirani memberanikan diri untuk masuk.


Cekreeeeekkk ....


Suasana dalam kamar gelap sekali. Semua lampu padam.


"Kak .... "


Kirani menyalakan ponsel nya, mencari tombol lampu dan menghidupkannya. Klik.... Seketika seluruh ruangan menjadi terang. Kirani menaburkan pandangannya keseluruh ruangan.


Dia melihat Arzie duduk dilantai di pojok tempat tidur dengan wajah kusut, seperti seseorang yang sedang depresi berat. Kepalanya tersandar dikaki tempat tidur, salah satu kakinya terjulur diatas lantai dan satunya menekuk, menopang sebelah tangannya.


Kirani terkejut melihat keadaan Arzie, dia sangat mengkhawatirkan keadaan Arzie. Dia mendekatinya perlahan-lahan.


"Kak ... "


Arzie mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Kira.


"Kak Arzie baik-baik saja?"


"Hmmm... "


"Ada apa, Kak? Tidak biasanya Kak Arzie seperti ini?!"


Arzie hanya diam. Dia memandang perempuan yang masih mengenakan seragam sekolahnya itu dalam-dalam. Pandangannya menembus jauh ke dalam manik mata Kirani. Ada kesedihan yang terpancar dari matanya. Kirani mencari-cari apa yang tersembunyi dari tatapan mata laki-laki yang ada dihadapannya.

__ADS_1


"Kamu dari mana saja, Dek?"


"Tadi dari tryout dibimbel"


"Kenapa supir kamu suruh pulang"


"Maaf, Kak. Tadi aku ... Bertemu dengan teman jadi kami mengobrol sebentar"


"Teman?"


"Iya"


"Laki-laki?"


"Ya"


Arzie menggeser posisi duduknya. Dia menatap Kirani.


"Alexi??"


"Bersihkan dulu dirimu lalu ganti pakaian. Kak Arzie tunggu di perpustakaan. Ada yang Kak Arzie ingin tanyakan padamu"


"Ya, Kak..."


Kira menurutinya. Dia kembali kekamarnya lalu membersihkan diri dan berganti pakaian. Setengah jam kemudian dia sudah rapi lalu dia menuju perpustakaan disalah satu sudut ruangan.


Tok ... Tok ..


Cekreeeeekkk ...


Kira masuk kedalam. Arzie duduk di kursi putar dibalik meja besar. Dia menyandarkan tubuhnya disana dan kedua tangannya bertopang pada lengan kursi.


"Ada apa, Kak?"


"Kemarilah, Dek"

__ADS_1


Kirani mendekat, dia berdiri disisi meja.


"Boleh Kak Arzie tanya sesuatu padamu?"


"Ya, Kak"


"Saat Kak Arzie pergi keluar kota beberapa bulan yang lalu, apa benar kamu juga pergi kesuatu tempat dan tidak pulang beberapa hari"


"Ya"


"Kemana?"


"Ada sesuatu hal penting yang Kira cari, Kak. Maaf Kira tidak mengatakannya pada Kak Arzie"


"Kamu pergi kemana,Dek?"


"Ke ... Palembang"


Arzie sudah menduga jawaban itu. Dia menghela nafasnya, senyum tipisnya terlihat dari wajahnya. Arzie mengambil map hijau dan amplop coklat yang terletak diatas meja. Dia mendekati Kira dan menyerahkan keduanya pada Kira.


"Kamu mencari ini?"


Kirani mengenali map hijau itu. Itu adalah surat-surat rahasia yang diberikan nenek padanya. Tapi amplop coklat itu, baru kali ini dia melihatnya.


"Bukalah...!!?"


Kirani menatap pada Arzie, pandangannya penuh tanya. Arzie hanya menganggukkan kepalanya. Kirani membuka dan membaca isi amplop itu. Wajahnya berubah pias setelah membaca surat-surat itu. Lalu dia meletakkan lembaran-lembaran surat dan amplopnya diatas meja. Dia kembali membuka map hijau dari nenek. Menjejerkan kedua kertas itu.


Mengambil poto-poto yang ada didalamnya. Menjejerkannya diatas meja. Kirani tak percaya dengan apa yang dilihatnya itu. Kirani menatap Arzie. Matanya seolah berkata "Benarkah ini, Kak???" Dan Arzie yang seolah paham arti tatapan itu mengangukkan kepalanya perlahan.


"Tidak mungkin", ucap Kira.


Mereka berdua saling berpandangan, untuk beberapa saat tak ada yang saling bicara. Mereka mencoba untuk memahami apa yang terjadi disini, hanya mata yang saling bicara diantara mereka.


******

__ADS_1


__ADS_2