
Hari kini berlalu dan ini hari keberangakatan papa Dian dan mama Vivian untuk terbang ke Korea dengan pesawat pribadi mereka.
Tujuh jam lebih pesawat itu mengudara kini telah sampai ke bandara Incheon. Mama tampak tidak bersemangat datang kesini sekali pun suaminya mengatakan untuk liburan. Mama mengirim pesan ke Andrew
Mama sama papa lagi di Seoul, kalau kamu tidak sibuk kesini lah liburan bareng mama dan papa, mama tau kamu sedang menghukum diri kamu sendiri tapi kamu juga harus merilekskan isi kepala kamu dan batin kamu. Mama tunggu kamu Seorae Village.
Begitu lah isi pesan mama Vivian dan tidak lama pesan itu pun di bawak Andrew tanpa membalas chat dari mamanya itu.
Mobil mewah yang membawa papa Dian dan mama Vivian kini telah sampai. Di daerah ini juga sangat terkenal dengan ke macatennya dan tempat tinggal untuk para pengusaha dari Fransis serta selebriti di Korea.
“Mama mau keliling komplek dulu atau langsung istirahat.?” Tanya papa
“Hmm.. mau pergi ke market dulu paa, beli mie instan kalau nunggu nani takut kelamaan.” Terang mama
“Nani ada di bangunan belakang maaa, plis deh jangan kek orang susah.” Ejek papa
“Dasar suami nyebelin.” Timpal mama sambil
melangkahkan kaki keluar dari rumah.
Saat di depan market mama Vivian melihat sosok anak kecil yang tak asing baginya kayak pernah ngelihat tapi dimana ya? (Batin mama Vivian) perempuan yang tak lagi muda itu mendekati sang anak kecil yang tak asing baginya.
__ADS_1
“annyeonghaseyo (Hallo).” Sapa mama Vivian
“annyeong (Hallo).” Balas sang anak kecil itu
“ileum-i mwo-eyo (nama kamu siapa?).” Lanjut mama Vivian sambil
mendaratkan bokongnya di samping anak kecil itu.
“nae ileum Daalon Howald (nama ku Daalon Howlad).” Lanjut sang anak kecil itu
“indonesia-eoleul hal su issseubnida (apakah kaku bisa bahasa Indonesia).” Tanya mama Vivian penasaran siapa gerangan anak kecil yang sedang ia ajak berbicara
“Ye.”jawab sang anak kecil
Daaron bangkit dari duduk nya dan berjongkong sambil menunduk ke arah tanah sambil menulis namanya dengan benar karena anak kecil itu tidak suka jika ada orang yang salah menyebutkannya namanya.
“Ohh nama kamu Daaron Howard tohhhh.”
“Tante namanya ciapa.?” Tanya Daaron
“Vivian sayang, kamu boleh panggil eyang.” Pinta Vivian
__ADS_1
“Eyang itu apa tante.” Tanya Daaron penasaran
“Eyang itu grandma, saya lebih suka kamu panggil eyang dari pada panggil saya tante.” Terang mama Vivian
“Kata mami, grandma Daalon ada di Indonesia sama papi tapi meleka pada sibuk sama keljaanya dan mami lalang untuk panggil olang sembalangan.” Lanjut Daaron
“Bagaimana kalau kamu anggap saya grandma kamu biar kita bisa menjadi teman dan bukan sembarang lagi.” Bujuk Vivian
“Hmmm.” Jawab singkat Daaron
“Kalau papi daaron di Indonesia, terus daaron sama siapa?” Tanya Vivian menggali informasi anak kecil yang membuat iya ingin memilikinya
“Daalon cama mami, kakak, aunty, glandpa dan sekeltalis nya glandpa.” Daaron
“Sudah berapa lama papi daaron tinggal di Indonesia, soalnya eyang juga orang Indonesia.” Antusias mama Vivian
“Gak tau eyang, coalnya dali lahil Daalon gak pelnah liat papi.” Jawab sendu sang anak kecil itu yang merindukan sosok sang ayah
“Maafin eyang yaaaa bikin daaron sedih.” Bujuk mama Vivian
Baru lagi mama Vivian mau melanjut akan percakapannya dengan bocah manis ini tiba tiba sang nani pun datang menghampiri tuan muda penerus keluarga Howard itu.
__ADS_1
“mianhae, uli jib-e gaya hae ( maaf, kami harus pergi).” Kata nani itu sambil menundukkan kepalanya mengarah Vivian tanda hormatnya
Nani itu membawa pergi sang tuan mudanya ke dalam mobil mewah. Vivian terus memandangi mobil itu sampai hilang dari pandangan matanya.