CEO PEMANJA ISTRI

CEO PEMANJA ISTRI
KONTRAK


__ADS_3

Malam semakin larut, Lidya masih memijat Pak Teddy di dalam kamar. Kini rasa kantuk Lidya sudah mulai merajai dirinya. Seharian ini, Lidya sudah letih dengan kegiatan di kampusnya. Ditambah dengan tugas dari Rere yang meminta nomor WA dari Pak Erik. Dengan bertemu Pak Erik akhirnya dirinya menjadi benci dengan Pak Erik karena omongan nya yang menyinggung dirinya.


Lidya tertidur di bawah kaki Pak Teddy. Sedangkan Teddy sendiri sudah mendengkur dengan keras. Kedua manusia yang berbeda nasib itu kini sudah sama-sama terlelap dan masuk ke dalam dunia mimpi.


@@@@@@@


Pagi kembali hadir. Lidya kini sudah membuka matanya. Dia harus mandi dan segera melakukan aktivitas nya kembali. Pergi ke kampus. Namun sebelum itu, Lidya harus kembali ke rumah untuk memastikan kalau ibunya baik-baik saja di rumah. Benar, Lidya hanya miliki ibunya. Hanya ibunya yang saat ini bisa memberikan semangat untuk bertahan dalam kehidupan nya yang sulit. Berbeda saat dulu ketika keluarganya masih dalam posisi kejayaannya. Lidya bagaimana seorang putri yang selalu dilayani banyak pembantu di rumahnya.


"Aku harus mandi, setelah itu mengantarkan makanan buat sarapan ibu. Setelah itu baru pergi ke kampus," gumam Lidya. Lidya hendak keluar dari kamar Teddy namun tiba-tiba Teddy menarik tangan Lidya yang membuat tubuh Lidya jatuh di atas tubuh Teddy. Lidya benar-benar sangat terkejut dengan posisi itu. Jantung nya tiba-tiba berdetak semakin kencang. Namun dilihatnya Pak Teddy masih memejamkan matanya.


"Sicilia, kamu jangan pergi lagi meninggalkan aku, sayang!" ucap Pak Teddy dengan suara baritonnya. Lidya melebar matanya mendengar ucapan Pak Teddy yang mengira dirinya adalah Sicilia, kekasihnya.

__ADS_1


"Pak Teddy sedang bermimpi bertemu wanita itu. Pasti Pak Teddy saat ini sangat merindukan sosok Sicilia itu. Nyatanya sampai kebawa dalam mimpi," gumam Lidya. Lidya berusaha melepaskan dirinya dari dekapan Pak Teddy. Lidya turun dari posisi yang membuat jantung nya berdebar semakin kencang.


"Aduh, sepertinya aku terkena serangan jantung akut," pikir Lidya. Kini Lidya keluar dari kamar Pak Teddy dan mulai masuk ke kamar mandi di dekat dapur apartemen itu.


Di dalam kamar mandi, Lidya masih saja teringat posisi di mana dirinya dipeluk oleh Pak Teddy. Tanpa sadar Lidya tersenyum.


"Pak Teddy sangat wangi. Aroma tubuhnya membuat aku seperti terhipnotis," gumam Lidya sambil membayangkan wajah Pak Teddy saat begitu dekat dan jelas ia lihat.


Setelah selesai mandi, Lidya bergegas merapikan pakaian dan sedikit merias wajahnya. Tas ranselnya seperti kantong ajaib yang lengkap dengan segala keperluan nya. Dari alat make up, pakaian ganti dan juga handuk kecil. Saat kembali pulang, Lidya akan menukarkan pakaian kotor nya dengan pakaian bersih untuk siaga jika malam dirinya tidak bisa kembali pulang ke rumah karena tugasnya memijit Pak Teddy.


"Loh, kapan Pak Teddy mandi dan ganti bajunya? Kok lebih cepat Pak Teddy dari pada aku ketika mandi dan berdandan?" pikir Lidya.

__ADS_1


"Kamu sudah selesai?" tanya Pak Teddy.


"Eh, hem sudah Pak! Hem, saya pamit pulang Pak!" ujar Lidya.


"Tunggu dulu! Duduklah dulu! Aku akan bicara dengan kamu," kata Pak Teddy menahan kepergian Lidya. Lidya melebarkan matanya.


"Ada apa Pak? Apakah saya melakukan kesalahan? Apakah saya akan diberhentikan dari pekerjaan memijat Pak Teddy?" tanya Lidya khawatir. Jika dirinya tidak bekerja, bagaimana bisa melangsungkan kehidupan nya bersama ibunya dan bagaimana bisa dirinya melanjutkan kuliah kalau hanya mengandalkan bea siswa saja.


"Tenanglah! Duduklah dulu!" kata Pak Teddy. Pak Sarif tersenyum saja melihat Lidya yang seperti khawatir jika harus kehilangan pekerjaan nya.


"Ini, tanda tangan kontrak ini!" perintah Pak Teddy sambil menyodorkan beberapa lembar kertas yang berisi perjanjian antara dirinya dengan Lidya. Lidya mengambil kertas itu lalu mulai membacanya. Lidya melebarkan matanya tidak percaya.

__ADS_1


"Kawin kontrak?" ucap Lidya sangat terkejut.


"Pak Sarif! Jelaskan semuanya pada Lidya dan pastikan Lidya menandatangani semua perjanjian kontrak itu! Aku mau sarapan pagi sebentar!" ucap Pak Teddy lalu berdiri meninggalkan Lidya yang masih bengong dengan isi dari perjanjian itu. Sedangkan Pak Sarif tersenyum lalu mulai menjelaskan maksud dari isi perjanjian tersebut.


__ADS_2